Kunjungan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer ke China menandai upaya penting untuk memperbaiki hubungan bilateral yang sempat tegang. Starmer tiba di Beijing dengan misi untuk mengangkat kemitraan pragmatis antara kedua negara, sekaligus mencari peluang untuk memperkuat ekonomi Inggris yang sedang menghadapi tantangan.
Kunjungan ini menjadi yang pertama oleh pemimpin Inggris sejak 2018 dan bertepatan dengan gelombang kunjungan pemimpin Barat yang mengalihkan perhatian dari kebijakan Amerika Serikat yang tidak menentu. Starmer dijadwalkan melanjutkan kunjungannya ke Shanghai serta mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi.
Dorongan untuk Hubungan Perdagangan dan Investasi
Pejabat Downing Street menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan memperluas kerja sama perdagangan dan investasi. Starmer akan bertemu langsung dengan Presiden Xi Jinping dan Premier Li Qiang untuk mendiskusikan berbagai bidang kerja sama. Dalam pertemuan tersebut, isu nasional keamanan dan hak asasi manusia juga akan menjadi bagian pembicaraan yang serius.
Starmer menyatakan, "Ada peluang untuk memperdalam hubungan bilateral." Ia menegaskan pentingnya keterlibatan dengan China tanpa mengorbankan keamanan nasional. Pendekatan ini menunjukkan sikap pragmatis Inggris dalam menjaga kepentingan strategis sekaligus membuka peluang ekonomi.
Tantangan Keamanan dan Isu Sensitif
Meski ada peluang besar, hubungan Inggris-China masih dipenuhi ketegangan terutama sejak diberlakukannya undang-undang keamanan nasional di Hong Kong oleh Beijing pada 2020. Hal ini menyebabkan turunnya hubungan diplomatik serta saling tuduh spionase antara kedua pemerintah.
Starmer menolak klaim terbaru tentang tindakan spionase China terhadap pejabat senior Inggris. Ia menegaskan Inggris telah memiliki mekanisme keamanan yang kuat. Starmer juga membawa delegasi bisnis yang terdiri dari sekitar 60 tokoh dari sektor finansial, farmasi, dan otomotif untuk menggaet investasi penting.
Pembahasan Kasus Jimmy Lai dan Hak Asasi Manusia
Dalam pertemuan nanti, Starmer diperkirakan akan mengangkat kasus Jimmy Lai, tokoh media pro-demokrasi dan warga negara Inggris yang sedang menghadapi hukuman berat di China. Meski menghindari detail pembahasan, Starmer menegaskan kesediaannya membicarakan perbedaan pendapat secara terbuka.
Organisasi Reporters Without Borders telah mendesak Starmer agar memperjuangkan pembebasan Jimmy Lai selama kunjungan ini. Isu hak asasi manusia juga menjadi perhatian penting mengingat tuduhan pelanggaran serius yang dilancarkan terhadap China oleh berbagai pihak internasional.
Menghadapi Kritik dan Menjaga Kepentingan Nasional
Tindakan pemerintah Inggris mendapat kritik dari oposisi dan kelompok masyarakat karena dinilai terlalu longgar dalam menanggapi kebijakan China, termasuk menyetujui pembangunan mega-kedutaan besar China di London yang dianggap berpotensi untuk kegiatan intelijen.
Starmer pernah mengakui bahwa China merupakan "ancaman keamanan nasional" bagi Inggris, yang kemudian memicu kecaman dari pihak Beijing. Selain itu, perbedaan sikap terhadap hubungan China dengan Rusia di tengah konflik Ukraina juga menjadi salah satu sumber ketegangan diplomatik.
Kunjungan ini merupakan langkah strategis Inggris dalam mengevaluasi kembali posisi dan kemitraan dengan China. Dengan fokus pada pragmatisme dan menjaga keseimbangan antara peluang ekonomi serta keamanan nasional, perjalanan Starmer diharapkan dapat menghasilkan kemajuan nyata dalam memperbaiki hubungan kedua negara.
