Kampung Palestina Terusir: Komunitas Ras Ein al-Auja Alami ‘Nakba Ketiga’ Akibat Intimidasi Pemukim Israel

Suleiman Ghawanmeh telah letih berbicara lantaran selama lebih dari satu dekade ia memperjuangkan hak komunitasnya. Namun, upayanya untuk menghalau tekanan terhadap desanya, Ras Ein al-Auja di Tepi Barat yang diduduki Israel, tidak membuahkan hasil.

Desa tersebut kini telah kosong dari penghuninya setelah mengalami intimidasi dan kekerasan meningkat secara tajam oleh para pemukim Israel dalam dua tahun terakhir. Kelompok pemukim, banyak di antaranya remaja bersenjata dan berjubah masker, kerap datang setiap hari untuk menakut-nakuti sekitar 120 keluarga yang tinggal di sana.

Menurut laporan B’Tselem, sebuah organisasi HAM Israel, kekerasan yang terjadi memaksa seluruh warga desa yang berjumlah lebih dari 800 jiwa itu meninggalkan rumah mereka pada akhir Januari. Suleiman dan keluarganya menjadi yang terakhir mengungsi.

Kekerasan Pemukim dan Dampaknya

Para pemukim membangun empat pos vaksinasi ilegal baru sejak April tahun lalu, mengelilingi desa dan semakin menutup akses warga Palestina terhadap tanah mereka. Serangan pemukim mencakup pencurian dan perusakan tangki air, pencurian listrik, ribuan ternak yang hilang, serta perusakan kandang domba dan properti lainnya. Semua ini terjadi di bawah pengawasan atau tanpa tindakan berarti dari militer Israel.

Meski militer Israel menyatakan bahwa mereka mengutuk segala bentuk kekerasan yang merusak keamanan wilayah tersebut, pandangan warga desa sangat berbeda. Mereka menganggap militer sering kali berperan pasif atau memberikan dukungan tak langsung kepada para pemukim.

Pengusiran Masif Komunitas Penggembala

Ras Ein al-Auja adalah komunitas penggembala terbesar di Tepi Barat yang kini termasuk dalam 46 komunitas serupa yang terpaksa mengungsi sejak 7 Oktober 2023. B’Tselem menyebut fenomena ini sebagai bentuk “pembersihan etnis” yang sistematis dan disengaja.

Suleiman Ghawanmeh menjelaskan bahwa pengusiran ini bukan semata-mata akibat serangan antara penggembala dan pemukim, melainkan bagian dari strategi kerja pendudukan yang jauh lebih besar. Komunitas ini kini harus membongkar rumah-rumah mereka sendiri agar tidak dimanfaatkan oleh para pemukim.

‘Nakba Ketiga’ dan Penaklukan Lahan

Insiden ini digambarkan sebagai “Nakba ketiga” oleh para penduduk yang merujuk pada tragedi tahun 1948, saat sekitar 700.000 warga Palestina kehilangan rumahnya. Suleiman sendiri keluarganya pernah terpaksa mengungsi dua kali sebelumnya, pertama dari desa dekat Be’er Sheva dan setelahnya pada perang Enam Hari pada 1967.

Pada Juni lalu, pemerintah Israel menyita sekitar 3.000 hektar lahan di Lembah Yordania, termasuk tanah desa Ras Ein al-Auja. Organisasi Peace Now menyebut ini sebagai aksi pengambilalihan tanah paling besar sejak Perjanjian Oslo yang bertujuan memperkuat kontrol Israel atas wilayah pendudukan.

Tidak Ada Tempat yang Aman

Haitham Zayed, pria muda berusia 25 tahun yang lahir dan besar di desa tersebut, menilai pengusiran ini bagian dari kebijakan sistematis pemerintah Israel untuk mengosongkan tanah Palestina. Intensitas serangan pemukim meningkat drastis setelah serangan Hamas pada Oktober tahun lalu dan operasi militer di Gaza.

Ia mengatakan, “Jika saya pergi dari sini, apakah saya yakin akan aman? Di seluruh Tepi Barat, tidak ada tempat yang aman dari serangan pemukim atau tindakan militer.” Akhirnya, bersama keluarga dan tetangganya, Haitham harus meninggalkan desa yang telah menjadi rumah mereka selama puluhan tahun.

Pengungsi yang Tak Pasti Nasibnya

Warga yang pergi membawa apa yang dapat mereka bawa, membongkar rumah mereka sendiri dan membakar sisa-sisa yang tidak bisa dipindahkan. Mereka kini tinggal di lokasi sementara sekitar dua mil dari desa asal mereka, dalam ketidakpastian masa depan.

Kisah mereka mencerminkan penderitaan berulang yang dialami komunitas Palestina di bawah tekanan intensifikasi permukiman ilegal dan kekerasan yang merenggut hak hidup dan kepemilikan tanah. Situasi ini menunjukkan bagaimana konflik dan kebijakan pemukiman terus menimbulkan dampak sosial, ekonomi, dan kemanusiaan yang mendalam bagi warga Palestina di wilayah pendudukan.

Exit mobile version