Pemilihan umum di Myanmar baru-baru ini menunjukkan bahwa militer tetap memegang kendali kekuasaan meskipun dalam wujud pemerintahan sipil. Partai yang menang, Union Solidarity and Development Party (USDP), berwarna hijau seragam militer dan didominasi mantan perwira tinggi, memperkuat dugaan bahwa Tatmadaw, panggilan untuk militer Myanmar, mempertahankan cengkeramannya atas negara.
Strategi militer untuk tampil dengan ‘sarung baru’ ini bukanlah sekadar pergantian nama atau simbol. Pengamat internasional menilai ini adalah upaya militer agar tetap relevan sekaligus menjaga posisi dominan meskipun melepas sebagian otoritas ke pemerintahan sipil yang dikendalikan mereka. Morgan Michaels, peneliti dari International Institute for Strategic Studies, mengatakan bahwa Tatmadaw memang akan tetap ada, tetapi dinamika politik dan militer kemungkinan akan berubah.
Dominasi Militer dalam Bingkai Sipil
USDP mengklaim kemenangan telak dan siap membentuk pemerintahan ketika parlemen resmi dibuka. Namun, para aktivis demokrasi dan masyarakat umum mengkritik pemilu tersebut sebagai bentuk manipulasi yang membuat partai lain tidak punya peluang berkompetisi. Seorang sopir taksi di Mandalay menyatakan dengan sinis, “Mereka cuma ganti seragam saja,” menegaskan bahwa aktor kekuasaan masih sama.
Meski demikian, pembentukan pemerintahan sipil berdokumenkan konstitusional ini memberi akses baru untuk bekerjasama dengan negara-negara yang sebelumnya mengucilkan Myanmar. Beberapa mitra regional kini bisa menilai ulang hubungan dan bahkan mulai berinvestasi, meski negara-negara Barat tetap skeptis terhadap legitimasi rezim tersebut.
Peran Min Aung Hlaing dan Tantangan Internal
Junta dan pemimpin militernya, Min Aung Hlaing, menunjukkan fleksibilitas dalam menurunkan otoritas absolut, dengan tetap memastikan agar elit yang terikat dengan militer tetap ada dalam lingkar kekuasaan. Hal ini memungkinkan militer untuk menjaga posisi sentralnya dalam pemerintahan dengan cara yang lebih tersembunyi dan lebih sulit ditentang.
Min Aung Hlaing sendiri belum memastikan apakah akan mengambil peran sebagai presiden sipil atau tetap dengan posisi panglima militer. Langkah ini menjadi penting untuk menjaga kesinambungan loyalitas militer serta menghindari sengketa kekuasaan antara cabang militer dan lembaga legislatif baru.
Dinamika Politik dan Dukungan Regional
Sejak kudeta yang menjatuhkan pemerintahan Aung San Suu Kyi, militer menghadapi oposisi bersenjata dan konflik sipil yang berat. Pendekatan kekerasan yang diambil militer selama ini dianggap kurang efektif dan bahkan merusak kredibilitas institusi tersebut.
Selain itu, meskipun ASEAN menolak mengirim pengamat pemilu resmi, tetap ada dialog terbatas antara utusan khusus ASEAN dengan Min Aung Hlaing yang dianggap hangat dan konstruktif. Hal ini menunjukkan ada usaha untuk mengupayakan normalisasi pragmatis di tingkat regional.
Berikut tiga kategori negara terhadap hasil pemilu Myanmar:
- Negara Baratz yang menolak hasil pemilu karena dianggap palsu dan menodai demokrasi.
- Negara pendukung militer, seperti China, yang menerima kemenangan USDP sebagai kelanjutan stabilitas bagi investasinya.
- Negara-negara yang mulai jenuh mengecam Myanmar dan membuka peluang re-engagement meski tanpa pengakuan demokrasi penuh.
Menurut Naing Min Khant dari Institute for Strategy and Policy Myanmar, pemerintahan sipil ini berfungsi sebagai “fasad konstitusional” yang memungkinkan Myanmar untuk terlibat kembali dengan mitra regional tanpa perbaikan signifikan dalam tata kelola demokrasi.
Pemilu di Myanmar bukan sekadar pergantian pemerintahan, melainkan strategi tata kelola kekuasaan militer dalam bentuk baru. Situasi ini menimbulkan perdebatan tentang arah masa depan negara dan bagaimana aktor internasional akan merespons perubahan yang terjadi. Militer Myanmar tetap menjadi kekuatan utama, hanya dengan tampilan yang berbeda.
