Israel dan Hamas akhirnya mencapai kesepakatan mengenai angka kematian dalam konflik di Gaza. Angka yang diakui oleh kedua belah pihak hampir sama, yaitu sekitar 70.000 hingga 71.667 korban jiwa. Ini merupakan pengakuan penting setelah selama ini kedua pihak saling berselisih mengenai data korban yang dilaporkan.
Pejabat dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pertama kali mengungkapkan estimasi kematian tersebut kepada sejumlah media Israel. Angka tersebut sangat mendekati laporan dari kementerian kesehatan Gaza yang dikelola Hamas. Sebelumnya, Israel menuding informasi dari kementerian tersebut berlebihan dan tidak dapat dipercaya.
Perbedaan Data Korban dan Kontroversi
Kementerian kesehatan Gaza memasukkan korban yang meninggal langsung akibat serangan militer Israel. Selain itu, mereka juga mengklaim bahwa sedikitnya 440 warga Palestina meninggal karena malnutrisi selama konflik. Namun, pihak Israel membantah angka kematian akibat kelaparan ini, dengan alasan Hamas memasukkan data pasien dengan kondisi penyakit berat sebagai korban perang.
Israel menuduh Hamas menggunakan penduduk sipil sebagai tameng manusia. Grup bersenjata Hamas dilaporkan beroperasi di tengah kepadatan penduduk dan menempatkan markas di bawah fasilitas penting seperti sekolah dan rumah sakit. Taktik ini telah menjadi fokus kritik internasional terkait proporsionalitas balasan militer Israel setelah serangan brutal yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober.
Proporsi Korban Sipil dan Pemerangan di Gaza
IDF menyatakan belum mengetahui komposisi pasti antara warga sipil dan pejuang Hamas dalam angka 70.000 korban tersebut. Menurut laporan sebelumnya, diduga setiap satu pejuang ekstremis tewas ada dua hingga tiga warga sipil yang menjadi korban. Rasio ini menimbulkan berbagai kontroversi dan kritik di panggung dunia.
Jika dibandingkan dengan statistik konflik global, International Committee of the Red Cross pernah memperkirakan antara 30 hingga 65 persen korban dalam perang adalah warga sipil. Sedangkan penelitian oleh Uppsala Conflict Data Programme (UCDP) menyebut angka antara 49 hingga 66 persen untuk korban sipil dalam perang di daerah perkotaan.
Studi dan Analisis Berbeda Mengenai Angka Korban
Beberapa studi independen menunjukkan bahwa angka korban di Gaza bisa lebih tinggi dari laporan kementerian kesehatan. Salah satu penelitian oleh London School of Hygiene and Tropical Medicine misalnya, mengemukakan kemungkinan kematian di Gaza 40 persen lebih banyak dari angka resmi. Namun, Israel berargumen bahwa sebagian korban sipil tersebut disebabkan oleh roket Hamas yang meleset dan jatuh di Gaza sendiri, terutama pada awal 2024.
Sikap IDF terhadap data kematian ini menunjukkan langkah pertama Israel mengakui skala kerugian manusia dalam perang tersebut. Meski begitu, masih ada ketidakjelasan terkait distribusi korban antara pejuang dan warga sipil, dan perhitungan dampak tidak langsung akibat konflik.
Data Penting Mengenai Konflik dan Korban Jiwa
- Angka kematian Gaza: sekitar 70.000 (Israel) dan 71.667 (Hamas).
- Korban malnutrisi yang diklaim kementerian kesehatan Gaza: minimal 440 jiwa.
- Rasio korban sipil dan pejuang: diperkirakan 2-3 korban sipil per pejuang Hamas.
- Studi lain mengindikasikan angka korban sipil bisa hingga 40 persen lebih tinggi.
Pengakuan ini menandai perubahan penting dalam komunikasi resmi Israel dan bisa menjadi titik awal untuk diskusi lebih lanjut mengenai rekonsiliasi serta akuntabilitas dalam konflik yang kompleks ini. Namun, proses verifikasi dan dampak kemanusiaan masih menjadi tantangan yang sangat besar ke depan.





