Russia Gunakan Starlink Untuk Perpanjang Jangkauan Drone Serang, Serang Wilayah NATO Hingga 500 Km

Rusia kini menggunakan teknologi satelit Starlink milik Elon Musk untuk memperpanjang jangkauan serangan drone pembunuhnya. Langkah ini memungkinkan drone Rusia terbang lebih jauh hingga ke wilayah yang masuk dalam zona pertahanan NATO, kata analis dan pejabat Ukraina.

Pakar teknologi militer Ukraina, Serhii Beskrestnov, mengonfirmasi bahwa Ukraine telah mengumpulkan bukti adanya ratusan serangan oleh drone Rusia yang dilengkapi terminal Starlink. Serangan tersebut tidak hanya menyasar target militer, tetapi juga kota-kota di belakang garis depan yang bersifat sipil, termasuk bangunan tempat tinggal.

Keunggulan Starlink dalam Serangan Drone

Dengan adanya Starlink, Rusia dapat menghindari sistem pertahanan elektronik Ukraina yang biasanya memblokir sinyal GPS dan radio dari drone musuh. Sebelumnya, Rusia menghindari gangguan sinyal ini dengan mengendalikan drone menggunakan kabel serat optik, tetapi jangkauannya terbatas oleh panjang kabel.

Drone dengan teknologi Starlink memiliki kelebihan terbang lebih jauh dibandingkan drone yang menggunakan kendali radio atau kabel. Sistem koneksi super cepat ini memungkinkan kendali real-time langsung dari Rusia. Hal ini membuat drone semakin presisi dalam menyerang.

Lebih lanjut, drone yang dilengkapi mini Starlink dengan harga antara 250 hingga 500 dolar bisa menjadi alternatif murah dan efektif dibandingkan model drone canggih yang bisa berharga puluhan ribu dolar. Ini meningkatkan kemampuan Rusia melakukan operasi serangan dengan biaya lebih rendah namun tetap efektif.

Contoh Serangan dan Penggunaan Drone Starlink

Beskrestnov berbagi foto keberhasilan serangan drone BM-35 yang dilengkapi Starlink dalam jarak hingga 500 kilometer. Dia juga menduga serangan mematikan terhadap sebuah kereta sipil di Ukraina timur menggunakan drone Shahed yang bahkan mungkin menggunakan modem radio mesh atau Starlink, sehingga mampu menembus pertahanan elektronik dan mengarahkan serangan ke target bergerak.

Sejumlah drone Molniya yang sangat sederhana dan murah, terbuat dari kayu lapis, juga digunakan dalam serangkaian serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina di wilayah Chernihiv. Beskrestnov menyatakan bahwa satu dari tiga drone Molniya berhasil mengenai sasaran berkat teknologi Starlink yang sulit untuk dicegah hanya dengan perang elektronik, dan hanya dapat dilumpuhkan jika tertembak secara fisik.

Drone-drone Starlink ini juga aktif di dekat Pavlohrad, sekitar 50 kilometer dari garis depan, memperlihatkan intensitas serangan yang terus meningkat.

Respons Ukraina terhadap Penggunaan Starlink Rusia

Menteri Pertahanan Ukraina, Mykhailo Fedorov, mengatakan bahwa negara mereka harus merespons dengan cepat perkembangan penggunaan Starlink oleh Rusia. Dia menjelaskan bahwa musuh terus mengembangkan teknik drone dan metode serangan seiring waktu, dengan Rusia meluncurkan lebih dari 6.000 drone hanya dalam sebulan terakhir.

Pihak Kementerian Pertahanan Ukraina sudah menghubungi SpaceX, pemilik Starlink, untuk mencari solusi mencegah Rusia menggunakan teknologi tersebut. Menurut Fedorov, SpaceX dan Elon Musk memberikan respons cepat dan mulai bekerja sama menangani masalah ini.

Dampak dan Jangkauan Serangan Starlink

Sejak perang dimulai, Ukraina sangat bergantung pada Starlink untuk komunikasi militer, operasi drone, pemerintahan, hingga penggunaan sipil seperti rumah sakit serta sekolah. Namun, pemanfaatan Starlink oleh Rusia telah memperluas ancaman serangan ke daerah yang jauh melampaui wilayah langsung konflik.

Institut Studi Perang (ISW) menyebutkan bahwa drone BM-35 dengan Starlink punya jangkauan hingga 500 km, yang berarti hampir seluruh wilayah Ukraina, serta sebagian Moldova, Polandia, Rumania, dan Lithuania berpotensi menjadi sasaran serangan jika drone diluncurkan dari Rusia atau wilayah Ukraina yang dikuasai.

Tantangan Sanksi dan Pengawasan

Komisioner sanksi Ukraina, Vladyslav Vlasiuk, menilai bahwa makin meluasnya penggunaan Starlink oleh Rusia menunjukkan tekanan sanksi dari sekutu Ukraina masih belum efektif. Investigasi sebelumnya mengungkap bahwa Rusia memperoleh Starlink dengan membelinya melalui negara ketiga meskipun ada larangan penggunaan di wilayah mereka.

Starlink sendiri, menurut laporan, akan menonaktifkan terminal yang diketahui digunakan oleh pihak yang terkena sanksi atau yang tidak berhak. Namun, Elon Musk sempat menolak menjawab langsung soal penggunaan Starlink oleh Rusia. Dalam percakapan di media sosial, Musk menyatakan bahwa Starlink adalah "tulang punggung komunikasi militer Ukraina" dan mengkritik keras pejabat Polandia yang meminta agar Starlink dimatikan untuk Rusia.

Penggunaan Starlink dalam konflik ini menggarisbawahi bagaimana teknologi sipil modern dapat mengubah dinamika perang. Perkembangan ini memunculkan urgensi bagi komunitas internasional untuk mengawasi dan mengatur pemanfaatan teknologi komunikasi satelit agar tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang bermaksud merusak stabilitas dan keselamatan sipil.

Berita Terkait

Back to top button