Tram legendaris Alexandria segera berhenti beroperasi seiring persiapan renovasi besar-besaran yang kontroversial. Jalur sepanjang hampir 14 kilometer ini, yang telah melayani puluhan ribu penumpang setiap hari, akan digantikan dengan sistem kereta ringan digital modern.
Pihak berwenang menjanjikan peningkatan kecepatan hingga dua kali lipat dan pengurangan waktu tempuh lebih dari setengah jam. Namun, perbaikan yang direncanakan berlangsung selama dua tahun ini menimbulkan kekhawatiran seperti kemacetan lalu lintas dan kenaikan tarif tiket.
Sejarah dan Nilai Budaya Tram Alexandria
Tram jalur Raml yang berdiri sejak tahun 1860-an ini memiliki gerbong bertingkat dua yang unik di kawasan Mediterania. Keberadaan tram ini bukan hanya sebagai moda transportasi, tapi juga simbol sejarah dan identitas kota Alexandria. Warga setempat, seperti Fatma Hussein, melihat tram sebagai bagian dari kenangan masa lalu yang tak tergantikan.
Tiket tram ini sangat terjangkau, yakni hanya lima pound Mesir, membuatnya menjadi pilihan utama pekerja, pelajar, dan pensiunan dalam menghadapi meningkatnya biaya hidup. Kisah sehari-hari yang diwarnai permainan anak hingga pemandangan khas kota membuat tram ini memiliki nilai sentimental yang kuat bagi penduduk.
Kekhawatiran Masyarakat dan Dampak Renovasi
Meski banyak yang menyambut modernisasi, sebagian penduduk ragu akan dampak renovasi terutama berkaitan dengan kemacetan di jalan sempit dan potensi kenaikan harga tiket. Pengalaman sebelumnya saat jalur kereta Abu Qir dihentikan sementara untuk konversi menjadi metro, memicu kemacetan dan keluhan penumpang.
Arsitek sekaligus ahli mobilitas perkotaan, Yasmin Kandil, mengingatkan bahwa proyek yang juga akan mengangkat beberapa bagian jalur ini demi mengurangi pertemuan jalan, bisa mengubah estetika kota dan menonjolkan kendaraan roda empat daripada pejalan kaki dan transportasi umum. Ketidakpastian durasi proyek juga menambah kekhawatiran warga.
Pendanaan dan Proyek Renovasi
Proyek ini didanai oleh European Investment Bank sebesar 138 juta euro dari total estimasi biaya sekitar 592 juta euro. Selain itu, dukungan pendanaan juga berasal dari badan pengembangan Prancis. Meski jalur City Line di Alexandria masih beroperasi dengan tram yang lebih baru, renovasi saat ini hanya menargetkan jalur Raml.
Penghentian operasional jalur Raml membawa dampak emosional bagi para pekerja lama seperti sopir Mahmoud Ramadan. Ia merasa kehilangan sebuah “rumah” yang telah menjadi bagian hidupnya selama lebih dari 30 tahun. Menurutnya, tak semua orang akan mengerti arti hilangnya jalur ini bagi warga setempat.
Pengaturan Selama Renovasi
Selama masa konstruksi, otoritas berencana menyediakan bus pengganti untuk mengurangi gangguan perjalanan warga. Namun, hingga kini belum ada komentar resmi yang memberikan kepastian lebih lanjut terkait jadwal atau konsekuensi renovasi. Proyek ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk merevitalisasi infrastruktur transportasi di kota kedua terbesar Mesir.
Renovasi jalur tram kuno ini menandai babak baru dalam sejarah transportasi Alexandria. Meskipun berpotensi membawa efisiensi dan kemajuan teknologi, perubahan ini juga menuntut adaptasi sekaligus penerimaan atas hilangnya ikon transportasi yang telah melekat sejak abad ke-19.
