Kebakaran hutan di Patagonia telah membakar wilayah seluas lebih dari dua kali ukuran Buenos Aires, memicu kritik terhadap kebijakan penghematan pemerintah Presiden Javier Milei. Pengurangan anggaran drastis untuk penanganan kebakaran dianggap memperparah situasi di tengah kondisi alam yang kian ekstrem.
Pemerintah Argentina mengumumkan status darurat di empat provinsi selatan yaitu Chubut, Rio Negro, Neuquen, dan La Pampa. Langkah ini diambil untuk membuka akses pendanaan tambahan yang krusial dalam penanggulangan bencana.
Dampak Kebakaran dan Kerusakan Lingkungan
Kebakaran kali ini menimpa Los Alerces National Park, sebuah situs warisan dunia UNESCO, yang dikenal dengan pohon alerce yang bisa hidup hingga lebih dari 3.600 tahun. Luas lahan yang terbakar di provinsi Chubut diperkirakan mencapai lebih dari 44.515 hektar dan terus bertambah.
Kebakaran di Patagonia sebelumnya memang lazim terjadi setiap musim panas, namun intensitas kebakaran saat ini sangat tinggi. Kondisi dipersulit oleh angin kencang dan suhu udara yang ekstrem, menyulitkan upaya pemadaman petugas di lapangan.
Kontroversi Kebijakan Penghematan Anggaran
Pemerintahan Milei menerapkan pemotongan anggaran besar-besaran yang dijuluki "chainsaw" terhadap pos-pos pengeluaran publik, termasuk dana untuk pengelolaan kebakaran hutan. Menurut data dari FARN, sebuah LSM lokal, anggaran untuk National Fire Management Service tahun 2026 dipangkas hingga 71% secara riil dibanding tahun sebelumnya.
Ekonom Ariel Slipak dari FARN menyatakan kebakaran tersebut sangat bisa diprediksi dan menuding pemerintah lebih mementingkan pengendalian defisit anggaran daripada tanggap darurat kebakaran. Keterbatasan anggaran ini memperlambat respon dan mencegah tindakan pencegahan efektif.
Respon Pemerintah dan Kritik Publik
Kementerian Keamanan Argentina mengalokasikan dana sekitar 69 juta dolar untuk mendukung upaya pemadaman kebakaran. Namun sejumlah aktivis lingkungan menilai langkah ini terlambat dan tidak memadai. Presiden Milei juga mendapat kecaman karena meremehkan perubahan iklim, bahkan menyebutnya sebagai “dusta sosialis.”
Pemerintah Argentina mempertimbangkan langkah kontroversial menarik diri dari Paris Agreement, kesepakatan global tentang upaya pengurangan emisi gas rumah kaca. Keputusan ini terinspirasi oleh langkah serupa yang diambil oleh Presiden AS Donald Trump, yang merupakan sekutu dekat Milei.
Perdebatan Tentang Penanganan Krisis Lingkungan
Greenpeace Argentina mengingatkan bahwa pengabaian terhadap perubahan iklim dan pengurangan anggaran untuk perlindungan lingkungan akan merugikan ekosistem dan masyarakat. Hernan Giardini dari Greenpeace mengatakan menolak atau meremehkan dampak perubahan iklim adalah tindakan politik yang tak bertanggung jawab dan mengorbankan hutan serta rumah-rumah warga.
Hingga saat ini, area yang terbakar sudah melebihi 32.374 hektar lahan yang hangus pada musim kebakaran tahun lalu. Kerusakan ini menyiratkan perlunya kebijakan yang seimbang antara pengelolaan fiskal dan perlindungan lingkungan hidup agar bencana serupa bisa diminimalisasi di masa depan.
Fakta Penting Mengenai Kejadian dan Kebijakan
- Luas area terdampak kebakaran lebih dari 44.515 hektar, termasuk kawasan taman nasional.
- Anggaran untuk penanganan kebakaran dipotong 71% pada tahun 2026.
- Pemerintah mengalokasikan USD 69 juta untuk bantuan pemadaman.
- Kebakaran terjadi di empat provinsi selatan Argentina.
- Presiden Milei meremehkan isu perubahan iklim dan mempertimbangkan keluar dari Paris Agreement.
Situasi di Patagonia menjadi cermin betapa pentingnya keseimbangan antara kebijakan ekonomi dan perlindungan lingkungan. Dengan kondisi alam yang semakin tidak menentu, perlunya langkah preventif dan respon cepat sangat krusial menghindari kerusakan besar yang sulit diperbaiki.
