Seniman Jepang Rantai dan Guncang Robot Anjing untuk Ungkap Kekhawatiran Bahaya AI di Tokyo

Sebuah instalasi seni di Tokyo memamerkan seekor robot anjing yang diberi tali rantai logam kuat untuk membatasi gerakannya. Robot ini bergerak dengan agresif dan menghebohkan kerumunan pengunjung yang menonton, mencerminkan hubungan manusia dengan mesin yang semakin realistis.

Seniman media asal Jepang, Takayuki Todo, menciptakan karya ini untuk mengajak publik memikirkan risiko kecerdasan buatan (AI) sekaligus menimbulkan rasa "kasihan" terhadap robot tersebut. Menurutnya, masa depan akan penuh tekanan karena manusia melihat robot sebagai objek, namun sekaligus merasakan empati melalui gerakan-gerakan robot itu.

Pertunjukan yang Memancing Perhatian Publik

Instalasi berjudul "Dynamics of a Dog on a Leash" ini dipamerkan dalam acara Prototype Festival selama tiga hari di sebuah gedung perkantoran Tokyo. Robot anjing ini dikendalikan secara jarak jauh dan diberi rantai pendek untuk membatasi ruang gerak, sehingga menciptakan visualisasi ketegangan antara kebebasan dan pembatasan.

Takayuki Todo menjelaskan bahwa talinya melambangkan “rantai etika yang rapuh dan tidak bisa diandalkan.” Jika rantai tersebut putus, menurutnya, teknologi dapat membahayakan manusia. Instalasi ini mengundang refleksi mendalam tentang bagaimana masyarakat mengatur dan menghadapi pengembangan teknologi AI.

Robot Anjing dari Perusahaan Startup China

Untuk proyek ini, Todo membeli tiga robot anjing dari Unitree, sebuah startup asal China, dengan harga ribuan dolar per unit. Robot-robot itu sering tersangkut rantai dan jatuh, sehingga sudah ada yang rusak dan dalam tahap perbaikan.

Seniman ini juga pernah mengunjungi pabrik Unitree untuk meminta maaf atas penggunaan robot yang tidak lazim tersebut. Meskipun sempat mendapat kritikan sebagai “penyiksa robot” di dunia maya, Todo menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah mengajak publik menyadari potensial risiko AI.

Respon Pengunjung dan Masyarakat

Pengunjung dari berbagai kalangan tampak terpesona dan sekaligus merasa ngeri menyaksikan robot yang bergerak liar di tali. Seorang mahasiswa berusia 34 tahun mengaku merinding melihat robot itu karena membayangkan bagaimana jika robot seperti itu benar-benar menyerang manusia.

Sebagian lain menilai robot ini mengingatkan pada anjing penjaga yang mengintimidasi, sekaligus menimbulkan rasa penasaran atas kemampuan teknologi tersebut. Mereka juga melihat potensi positif AI dalam membantu mengatasi kekurangan tenaga kerja pada sektor layanan.

Kekhawatiran atas Penggunaan Militer

Takayuki Todo turut mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kemungkinan eksploitasi robot di bidang militer. Ia mencontohkan bahwa saat ini robot dan drone sudah digunakan dalam konflik bersenjata di Ukraina dan Palestina.

Meski peristiwa tersebut terasa jauh, Todo menekankan pentingnya untuk membayangkan efek nyata teknologi ini di masyarakat dan bagaimana manusia harus bersiap menghadapi konsekuensinya secara etis dan hati-hati.

Fakta Penting dari Instalasi "Dynamics of a Dog on a Leash":

  1. Robot anjing dikendalikan secara jarak jauh dan dibatasi oleh sebuah rantai logam.
  2. Proyek ini bertujuan untuk mengeksplorasi ketakutan dan empati manusia terhadap AI.
  3. Instalasi berlangsung selama tiga hari di Tokyo Prototype Festival.
  4. Robot dibuat oleh startup China bernama Unitree dengan harga ribuan dolar per unit.
  5. Ada risiko kerusakan karena robot sering tersangkut dan jatuh dari rantai.

Karya seni ini menempatkan ketegangan antara kemajuan teknologi dan batasan moral sebagai pusat perhatian publik. Pertunjukan ini mengajak masyarakat untuk berpikir lebih kritis tentang bagaimana mengelola teknologi AI demi mencegah dampak buruk sekaligus mempertimbangkan aspek kemanusiaan di masa depan.

Terkait