Pasukan Rusia kini menggunakan terminal satelit Starlink pada drone untuk menghindari gangguan komunikasi dari Ukraina. Langkah ini memungkinkan drone Rusia menyerang target yang berada jauh di belakang garis depan dengan jangkauan lebih luas.
Drone BM-35 menjadi sasaran utama pemasangan terminal milik perusahaan SpaceX itu. Dengan teknologi internet satelit tersebut, Rusia dapat melewati sistem pertahanan Ukraina yang kerap mengganggu sinyal GPS dan radio pada drone lawan.
Modifikasi Drone Shahed dan Molniya dengan Starlink
Intelijen Ukraina menduga Rusia juga telah memodifikasi drone Shahed buatan Iran dengan teknologi Starlink. Ribuan drone Shahed diluncurkan setiap bulan ke wilayah Ukraina. Penambahan terminal satelit ini meningkatkan kemampuan drone untuk terbang lebih jauh dan menembak sasaran yang bergerak.
Menurut Institute for the Study of War (ISW), Starlink sudah dipasang tidak hanya pada drone Shahed tetapi juga drone serang Molniya sejak akhir tahun lalu. Sistem ini memungkinkan transmisi video dari dua kamera yang terpasang pada drone secara real-time. Akibatnya, fungsi drone menjadi lebih presisi dan hampir kebal terhadap upaya gangguan sinyal oleh pasukan Ukraina.
Peningkatan Konektivitas Melalui Radio Modem
Selain Starlink, Rusia menggunakan modem radio dari China untuk meningkatkan komunikasi antar drone. Setiap drone yang dilengkapi modem dapat bertindak sebagai unit penyerang atau meneruskan sinyal ke drone lain. Sistem ini menyerupai jaringan Wi-Fi yang memperkuat efektivitas operasi drone kamikaze Geran-5 dan jenis lainnya.
Tanggapan Ukraina dan Kolaborasi dengan SpaceX
Menteri Pertahanan Ukraina, Mykhailo Fedorov, menyatakan bahwa pihaknya bekerja sama dengan SpaceX guna memblokir upaya Rusia memodifikasi drone dengan teknologi Starlink. Ia mengapresiasi respons cepat dari CEO SpaceX, Elon Musk, dan Presiden SpaceX Gwynne Shotwell untuk menangani masalah ini.
Fedorov menekankan pentingnya teknologi Barat membantu dunia demokratis dan melindungi warga sipil, bukan digunakan untuk aksi teror atau penghancuran kota damai. Ia menyerukan agar tetap menjaga integritas penggunaan teknologi tersebut di medan konflik.
Kontroversi Penggunaan Starlink dan Gangguan Komunikasi Ukraina
Namun, kontroversi muncul terkait perintah Elon Musk yang sempat mematikan lebih dari 100 terminal Starlink di kawasan Kherson pada September tahun lalu. Penghentian ini menyebabkan blackout komunikasi di kubu Ukraina, mengganggu drone pengintai dan operasi artileri jarak jauh.
Sumber Reuters menyebut bahwa kegagalan operasi ini membuat tentara Ukraina tidak berhasil mengepung posisi Rusia di Beryslav. Musk sebelumnya membantah tudingan tersebut dan juru bicara SpaceX menyatakan laporan itu tidak akurat.
Kasus pemadaman global Starlink selama dua setengah jam tahun lalu juga menyebabkan gangguan besar bagi unit drone Ukraina, memaksa mereka menunda misi tanpa sambungan video.
Kritik Diplomat dan Pernyataan Elon Musk
Minggu ini, Menteri Luar Negeri Polandia Radosław Sikorski meminta Elon Musk mencegah Rusia memanfaatkan satelit Starlink setelah serangan terhadap kereta penumpang di Kharkiv. Musk bereaksi dengan mengolok sikap Sikorski dan menegaskan bahwa Starlink adalah sistem sipil komersial yang tidak mengizinkan penggunaan militer ofensif.
Meski begitu, pejabat Ukraina mengindikasikan bahwa teknologi Starlink sudah banyak dimanfaatkan untuk komunikasi militer mereka sejak awal perang.
Dampak dan Perkembangan Terbaru
Analisis dari Olena Kryzhanivska menjelaskan bahwa serangan kereta di Kharkiv kemungkinan menggunakan drone Shahed yang sudah dimodifikasi dengan Starlink. Penggunaan terminal satelit oleh Rusia kini semakin meluas ke berbagai jenis drone, meningkatkan ancaman keamanan regional.
Rusia dengan cepat mengoptimalkan teknologi satelit komersial untuk memperkuat kapabilitas militernya yang sulit dijamming. Perkembangan ini menandai evolusi signifikan dalam konflik yang melibatkan inovasi teknologi tinggi di medan perang.







