Ribuan warga Minneapolis menggelar unjuk rasa besar sebagai reaksi kemarahan terhadap kebijakan imigrasi keras yang diterapkan pemerintahan Presiden Donald Trump. Aksi ini juga dipicu oleh dua warga Amerika Serikat yang tewas tertembak oleh agen federal dalam protes sebelumnya di kota tersebut.
Para demonstran membawa poster-poster yang mengecam Immigration and Customs Enforcement (ICE), badan yang bertanggung jawab atas deportasi massal. Mereka merespons ajakan untuk melakukan “national shutdown” atau penghentian aktivitas secara nasional sebagai bentuk perlawanan terhadap tindakan ICE.
Minneapolis Sebagai Titik Panas Protes Imigrasi
Kota Minneapolis menjadi pusat protes lantaran insiden penembakan yang menewaskan dua pengunjuk rasa yang sama-sama warga Amerika. Salah satu demonstran, Sushma Santhana, menyatakan bahwa pemerintah federal tidak seharusnya meneror warganya. Suasana semakin memanas ketika penonton merespon dengan yel-yel “kota kami!” di tengah suhu yang cukup dingin.
Aksi protes di Minneapolis muncul bersamaan dengan konser anti-ICE yang diadakan oleh Bruce Springsteen, seorang legenda musik rock Amerika Serikat. Springsteen baru saja merilis lagu berjudul "Streets of Minneapolis" sebagai penghormatan bagi dua pengunjuk rasa yang gugur.
Protes Meluas ke Kota Lain
Selain di Minneapolis, gelombang demonstrasi juga melanda kota-kota besar lain seperti Los Angeles. Tahun lalu, wilayah tersebut telah menjadi saksi protes besar akibat razia imigrasi yang intensif. Ratusan hingga ribuan orang kembali turun ke jalan membawa spanduk untuk menyatakan ketidakpuasan mereka, khususnya di depan balai kota Los Angeles.
Perkembangan Terbaru: Wartawan Dituduh Melanggar Hak Sipil
Pada hari yang sama, pemerintah Trump mengajukan dakwaan terhadap Don Lemon, mantan jurnalis CNN, bersama delapan orang lainnya atas tuduhan pelanggaran hak sipil. Dakwaan ini terkait peliputan mereka saat meliput protes di sebuah gereja yang juga menjadi tempat kegiatan seorang pejabat ICE.
Pengacara Lemon menyatakan bahwa penahanan ini tidak beralasan karena peliputan tersebut merupakan aktivitas jurnalis biasa. Departemen Keamanan Dalam Negeri menyebutkan Lemon menghadapi dua dakwaan, yakni konspirasi untuk menghambat hak-hak warga dan mengganggu hak kebebasan berpendapat yang dijamin oleh Amandemen Pertama Konstitusi AS.
Reaksi Politik dan Advokasi Press Freedom
Penahanan Don Lemon mendapatkan kecaman luas dari para politisi dan organisasi hak asasi manusia. Hakeem Jeffries, pemimpin minoritas dari Partai Demokrat di DPR AS, menuntut pembebasan segera Lemon. CEO Committee to Protect Journalists, Jodie Ginsberg, menilai tindakan tersebut sebagai serangan serius terhadap kebebasan pers.
Setelah sidang singkat di Los Angeles, Lemon akhirnya dibebaskan dengan jadwal sidang lanjutan di Minneapolis pada awal Februari. Kasus ini memperlihatkan ketegangan antara pemerintah dan jurnalis dalam konteks peliputan isu sensitif seperti imigrasi.
Penyelidikan Hak Sipil atas Penembakan di Minneapolis
Pemerintah melakukan penyelidikan lebih dalam terkait kematian Alex Pretti, seorang perawat berusia 37 tahun yang tertembak saat demonstrasi. Rekaman video yang beredar menunjukkan Pretti diduga melakukan tindakan vandalisme terhadap kendaraan agen ICE sebelum terjadinya konfrontasi. Namun, klaim tersebut masih belum terverifikasi secara independen.
Beberapa warga menolak pembenaran tindakan penembakan hanya karena pelaku diduga merusak properti. Pedro Wolcott, seorang pemilik kedai makanan Latino, mempertanyakan apakah tindakan sederhana seperti itu pantas berujung pada kematian seseorang.
Deputi Jaksa Agung AS, Todd Blanche, menyatakan pihaknya telah membuka penyelidikan hak sipil atas kematian Pretti. Namun, penyelidikan serupa belum dilakukan terhadap kasus penembakan Renee Good, korban lainnya yang terbunuh bulan lalu di Minneapolis.
Dinamika Politik dan Kebijakan Imigrasi
Presiden Trump berupaya meredakan ketegangan dengan mengganti pejabat yang bertanggung jawab langsung atas operasi di Minneapolis. Tom Homan, penasihat imigrasi utama, menggantikan peran yang sebelumnya dipegang oleh Komandan Border Patrol yang lebih keras, Greg Bovino.
Homan menyampaikan perlunya perbaikan dalam pelaksanaan operasi dan menyinggung kemungkinan penarikan sebagian agen federal dari kota, asalkan ada kerja sama lebih baik dari pihak berwenang lokal. Minneapolis sendiri dikelola oleh pemerintah kota yang dipimpin oleh Partai Demokrat.
Tenggat waktu pengesahan anggaran pemerintah mendekat, dan kontroversi atas kematian dalam protes serta kebijakan imigrasi ini telah menarik perhatian kongres AS. Partai Demokrat meminta agar pendanaan untuk Department of Homeland Security dikaji ulang dan dibatasi, khususnya untuk mengontrol aktivitas penegakan imigrasi.
Faktor-faktor utama yang memicu kemarahan dan aksi protes di Minneapolis:
- Kebijakan deportasi massal yang agresif oleh ICE.
- Penembakan dua warga Amerika dalam aksi protes.
- Penahanan jurnalis yang meliput protes.
- Rekonsiliasi antara kepentingan federal dan pemerintah lokal.
- Proses legislatif yang berkaitan dengan pendanaan dan regulasi imigrasi.
Situasi di Minneapolis dan sekitarnya tetap menjadi sorotan nasional, menandai eskalasi ketegangan politik dan sosial berkenaan dengan kebijakan imigrasi Amerika Serikat. Di tengah protes yang terus berlangsung, dialog dan penyelidikan resmi diharapkan dapat membuka jalan bagi solusi yang lebih adil dan manusiawi.





