Putin Serang Infrastruktur Energi Kyiv, Warga Terpaksa Pakai Vodka untuk Tetap Hangat di Musim Dingin Ekstrem

Liudmyla Oleshko, warga Kyiv berusia 75 tahun, menghadapi kondisi ekstrem di apartemennya tanpa listrik dan air selama berhari-hari akibat serangan udara Rusia. Saat suhu turun hingga -20°C, dia hanya mengandalkan lima lapis sweter dan tiga pasang kaus kaki untuk bertahan dingin.

Dalam dua bulan terakhir, serangan Rusia semakin intensif menyerang jaringan energi Ukraina sehingga sebagian besar wilayah kehilangan listrik dan pemanas. Liudmyla tinggal di lantai 12 gedung apartemen yang lift-nya tidak berfungsi karena mati listrik, membuatnya terjebak dan tidak bisa keluar rumah.

Dia pernah menjadi korban perang di Mariupol dan terpaksa mengungsi akibat pengepungan Kota itu oleh pasukan Rusia. Kini, ia termasuk jutaan warga Kiev dan wilayah lain yang kehilangan akses energi, air, dan pemanas karena serangan bertubi-tubi dari Rusia guna melemahkan mental warga.

Meski kondisi sangat berat, Liudmyla tetap tegar. “Kami orang Ukraina, kami kuat,” ucapnya. Musim dingin yang sangat keras dan perang berkepanjangan membuat dampak serangan di jaringan energi semakin parah tahun ini.

Presiden Donald Trump sempat mengumumkan gencatan senjata sementara selama seminggu atas serangan jaringan energi, namun Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebut penghentian itu hanya berlaku hingga hari Minggu, sementara suhu diperkirakan semakin turun sampai -22°C.

Serangan dingin bertujuan mematahkan semangat warga Kyiv agar menyerah dan kehilangan wilayah serta sumber dayanya. Namun warga seperti Liudmyla menolak menyerah dan mencari cara unik untuk menghangatkan diri.

Beberapa warga bahkan menggunakan batu pemanas yang diletakkan di atas kompor gas sebagai pemancar panas seadanya serta mendirikan tenda di dalam rumah untuk menahan suhu dingin. Liudmyla memanfaatkan beberapa jam listrik yang masuk tiap hari untuk mencuci, membersihkan rumah, serta memasak sebanyak mungkin.

Saat kehilangan listrik dan air selama tiga hari, ia membuat 120 potong varenyky, makanan khas Ukraina, agar tetap produktif. Liudmyla juga menyimpan makanan hangat di atas radiator serta menaruh makanan segar yang diantarkan cucunya di balkon agar tidak cepat rusak.

Selain itu, dia punya cara tak biasa untuk mengatasi kedinginan. Ketika bangun dalam keadaan beku, ia menari untuk menghangatkan badan. Kadang ia meminum segelas vodka atau cognac agar rasa dingin sedikit mereda. Saat apartemennya kebanjiran air es dari lantai atas, ia menggosok tangan dan kakinya dengan vodka agar tidak sakit akibat dingin.

Tidak semua warga sekuat Liudmyla. Iryna Makarchuk, ibu muda berusia 33 tahun di Vyshneve, dekat Kyiv, harus membasuh bayinya dengan air minum kemasan dan menggunakan generator kredit untuk menjaga makanan tetap dingin. Bayi berusia 13 bulan itu diangkat ke atas sembilan lantai dalam gelap gulita karena lift mati.

Selama beberapa hari, Iryna hanya mendapat listrik satu jam per hari untuk memasak, mandi, dan mengisi perangkat elektronik. Ia harus tetap ceria demi kekuatan anaknya meski kehidupannya penuh tekanan dan sulit menyediakan makanan sehat segar yang layak bayi.

Warga lain mengungsi ke “titik ketangguhan” di Kyiv, yaitu tenda hangat, gerbong kereta, dan gedung umum yang disiapkan agar warga bisa mengisi daya perangkat dan mendapat makanan panas. Namun banyak orang tua dan sakit yang tetap terjebak di apartemen tinggi tanpa fasilitas.

Di salah satu tenda, relawan menyajikan makanan hangat dan minuman seperti teh serta bohrach, sup daging khas dengan sayuran akar. Anak-anak tetap mengenakan banyak lapisan pakaian meskipun berada di dalam ruangan hangat.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengkritik perlindungan infrastruktur energi yang masih kurang memadai. Meski ada sistem pertahanan misil Patriot, banyak serangan balistik masih berhasil merusak jaringan listrik, meninggalkan 710.000 orang tanpa listrik.

Perusahaan energi DTEK menyebutkan telah memperbaiki ratusan gardu induk dan ribuan kilometer jaringan listrik yang rusak akibat serangan. Banyak pekerja energi menjadi pahlawan lokal yang bekerja tanpa henti, namun beberapa di antaranya gugur saat bertugas.

Uni Eropa melalui diplomat topnya memperingatkan tentang kemungkinan bencana kemanusiaan akibat musim dingin yang berat dan kondisi energi yang rapuh. Warga Kyiv harus menghadapi bulan-bulan berkelanjutan tanpa jalan keluar selain bertahan.

Liudmyla sendiri tetap berharap bisa kembali ke Mariupol dan melihat laut untuk terakhir kali. Namun kota tersebut kini tak lagi dikenalnya karena kehancuran akibat pendudukan Rusia.

Bagi jutaan warga Ukraina yang menghadapi krisis energi pascaserangan, perjuangan bertahan hidup menjadi ujian ketahanan fisik dan mental. Strategi perang dengan mendinginkan warga bertujuan memaksa tunduk secara psikologis, namun semangat perlawanan tetap hidup di tengah dingin membeku.

Exit mobile version