Bencana longsor yang menggulung beberapa area tambang coltan di timur Kongo menyebabkan sedikitnya 200 orang meninggal dunia. Peristiwa ini terjadi pada Rabu di lokasi tambang Rubaya, yang saat ini berada di bawah kendali kelompok pemberontak M23, menurut pernyataan dari juru bicara gubernur provinsi North-Kivu yang ditunjuk oleh pemberontak.
Longsor disebabkan oleh hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari. Lebih dari 200 korban ditemukan tertimbun tanah, dan sejumlah lainnya terluka parah serta dirawat di tiga fasilitas kesehatan di kota Rubaya sebelum dipindahkan ke Goma, kota terbesar terdekat yang berjarak sekitar 50 kilometer.
Kondisi Tambang dan Faktor Risiko
Tambang Rubaya yang memproduksi coltan merupakan tambang artisanal dengan kondisi yang sangat berbahaya. Tunnels dibuat secara manual tanpa pengawasan teknis dan perawatan memadai sehingga sangat rawan runtuh. Seorang mantan penambang mengungkapkan bahwa dalam satu lubang tambang bisa terdapat hingga 500 pekerja, dan jaringan terowongan yang sejajar meningkatkan resiko longsoran besar-besaran.
Penambang menggali di berbagai lokasi tanpa standar keselamatan dan pengendalian, yang menjadikan area ini sebagai zona berbahaya. Pemerintah lokal yang dipimpin oleh pemberontak M23 telah menghentikan kegiatan tambang sementara dan menginstruksikan pemindahan warga yang tinggal di sekitar lokasi tambang untuk mencegah korban tambahan.
Potensi dan Krisis di Wilayah Timurnya
Rubaya terletak di wilayah timur Kongo, area kaya mineral yang telah lama dilanda konflik. M23, kelompok bersenjata yang mendapat dukungan dari Rwanda, menguasai wilayah tersebut dan mengendalikan perdagangan coltan sejak Mei. Pendapatan dari pajak perdagangan dan transportasi mineral tersebut dilaporkan mencapai setidaknya 800.000 dolar AS per bulan.
Kongo merupakan produsen utama coltan dunia dengan kontribusi sekitar 40 persen produksi global pada tahun lalu, menurut data U.S. Geological Survey. Coltan mengandung tantalum, logam penting dalam pembuatan perangkat elektronik seperti smartphone, komputer, dan mesin pesawat terbang. Produksi dari tambang Rubaya sendiri menyuplai lebih dari 15 persen kebutuhan tantalum dunia.
Wilayah ini juga menghadapi krisis kemanusiaan besar akibat perang dan konflik bersenjata yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Lebih dari 7 juta warga terpaksa meninggalkan rumah mereka, termasuk sekitar 300.000 jiwa yang mengungsi sejak Desember. Meski telah terjadi kesepakatan damai yang dimediasi pihak Amerika Serikat antara pemerintah Kongo dan Rwanda, serta negosiasi dengan kelompok pemberontak, pertempuran masih terus berlanjut di sejumlah titik konflik.
Dampak dan Implikasi Internasional
Kesepakatan antara Kongo dan Rwanda memberikan akses penting bagi pemerintah Amerika Serikat dan perusahaan-perusahaan AS terhadap sumber daya mineral strategis di wilayah tersebut. Namun, terus berlanjutnya konflik dan bencana seperti longsor ini menimbulkan tantangan besar bagi stabilitas ekonomi dan kemanusiaan di timur Kongo.
Penghapsusan aktivitas tambang oleh pemberontak dan pergeseran penduduk sekitar tambang diharapkan bisa mengurangi risiko kecelakaan serupa di masa depan. Pihak terkait masih berusaha melakukan evakuasi dan penanganan korban dengan dukungan medis di kota-kota sekitar.
Longsor di tambang Rubaya ini menjadi pengingat akan bahaya besar yang mengintai para penambang artisanal serta dampak yang ditimbulkan oleh ketidakstabilan politik dan sosial di wilayah kaya sumber daya alam tetapi rapuh secara keamanan.







