Ketika pasukan Rapid Support Forces (RSF) mengepung dan menyerang kota el-Fasher di provinsi Darfur Utara, Sudan, seorang dokter muda bernama Mohamed Ibrahim mengalami perjuangan hidup yang dramatis. Ibrahim terjebak dalam kekerasan pertempuran yang telah berlangsung lebih dari 18 bulan antara militer Sudan dan RSF yang berasal dari milisi Janjaweed, kelompok yang dikenal kejam.
El-Fasher merupakan satu-satunya benteng militer yang tersisa di Darfur. Pada tanggal 26 Oktober, RSF melancarkan serangan besar-besaran dan berhasil merebut kota tersebut setelah pertempuran sengit selama tiga hari. Dalam insiden ini, ribuan warga sipil tewas dan hanya sekitar 40% dari 260.000 penduduk kota yang berhasil melarikan diri, sementara nasib sisanya belum diketahui secara pasti oleh PBB.
Sejarah Kelam Rapid Support Forces
RSF dikenal memiliki rekam jejak kekerasan yang ekstrem. Setelah kudeta militer tahun 2021 yang menggulingkan pemerintahan sipil Sudan, RSF awalnya menjadi sekutu militer. Namun, kedua pihak segera menjadi musuh sengit yang berperang di Darfur. Tuduhan genosida oleh pemerintahan AS juga membayangi kelompok ini karena kekejaman yang mereka lakukan selama konflik.
Kisah Pelarian Dokter Ibrahim
Mohamed Ibrahim, 28 tahun, bekerja di Rumah Sakit Maternitas Saudi di el-Fasher saat serangan dimulai. Meski keluarganya sempat mengungsi setelah rumah mereka dihantam artileri pada bulan April, Ibrahim memutuskan tetap bertahan untuk merawat pasien, meski situasi kian memburuk dan pasokan makanan sangat terbatas.
Saat intensitas serangan meningkat dini hari tanggal 26 Oktober, Ibrahim dan rekannya memutuskan melarikan diri menuju pangkalan militer terdekat. Perjalanan sejauh 1,5 kilometer berlangsung selama sembilan jam di tengah hujan tembakan dan penghancuran. Mereka terpaksa bersembunyi di berbagai tempat, bahkan di dalam tangki air kosong demi menghindari serangan.
Penderitaan dan Kekejaman yang Terjadi
Dokter Ibrahim menyaksikan langsung banyak warga sipil menjadi korban tewas saat mencoba melarikan diri. Dalam perjalanan, RSF menyerang rumah sakit dua kali; satu serangan menewaskan seorang perawat dan melukai lainnya. Serangan berikutnya menewaskan setidaknya 460 orang dan menculik enam tenaga medis menurut WHO.
Setelah tiba di pangkalan militer, Ibrahim bergabung dengan ratusan pengungsi lain. Dari sana, sekitar 200 orang melakukan perjalanan berbahaya ke kota Tawila, sekitar 70 kilometer dari el-Fasher. Mereka harus melewati parit-parit tinggi yang sengaja digali RSF untuk menghambat pelarian. Banyak orang yang gagal melewati rintangan ini dan nasib mereka tidak diketahui.
Pengalaman Ditawan dan Pemerasan
Ketika rombongan sudah mendekati tujuan, Ibrahim dan beberapa orang lainnya ditangkap oleh anggota RSF. Mereka dipaksa berlari sambil dirantai pada sepeda motor, kemudian disandera dan diinterogasi. Dokter-dokter itu menjadi target pemerasan. RSF menuntut tebusan sebesar 20.000 dolar AS per orang, angka yang sangat besar di tengah keadaan ekonomi Sudan dengan gaji rata-rata bulanan hanya 30-50 dolar AS.
Ibrahim mengalami pukulan dan kekerasan karena menertawakan jumlah tebusan yang diminta. Setelah tawar-menawar dan tekanan, rekannya setuju membayar 8.000 dolar AS. Uang tersebut dikirimkan keluarga mereka agar bisa dibebaskan. Meski dibebaskan, para dokter dibawa dengan truk ke wilayah kekuasaan RSF yang membuat mereka cemas akan ditangkap kembali. Mereka akhirnya selamat dengan mengikuti jejak kuda-kuda dan kereta babi yang mereka temui.
Perjalanannya Menuju Keselamatan
Saat tiba di Tawila, Ibrahim bertemu kembali dengan pengungsi lainnya termasuk dokter dari rumah sakit yang sama. Mereka menangis bersama, bersyukur atas keselamatan yang mereka raih. “Ini seperti sebuah keajaiban,” kata Ibrahim, mengenang momen tersebut.
Pengalaman dokter Ibrahim mencerminkan kondisi tragis dan dampak kemanusiaan dari konflik di Darfur yang masih terjadi sampai sekarang. Kekerasan dan penghancuran di el-Fasher memperlihatkan tantangan besar dalam upaya penyelamatan warga sipil dan perlindungan tenaga kesehatan di zona perang. PBB dan organisasi kemanusiaan terus berupaya untuk mengakses wilayah tersebut agar bisa memberikan bantuan dan mendokumentasikan pelanggaran yang terjadi.
Penting untuk terus mengikuti perkembangan situasi di Darfur dan dukungan internasional yang diperlukan agar tragedi seperti yang dialami warga el-Fasher tidak terulang lagi. Kasus ini juga membuka mata dunia tentang bagaimana tenaga medis berperan penting di tengah konflik, sekaligus menjadi sasaran kekerasan yang harus diatasi bersama.







