Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkritik hubungan yang terjalin antara China dan Inggris, khususnya terkait kunjungan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer ke China. Trump menilai penataan ulang hubungan ekonomi Inggris dengan China sebagai langkah yang “sangat berbahaya.” Pernyataan ini muncul saat Starmer melakukan kunjungan selama tiga hari ke Beijing dan Shanghai pada akhir Januari 2026.
Menanggapi kritik Trump, pemerintah China memberikan respons yang terkesan santai. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa China tetap terbuka untuk kerja sama dengan semua negara berdasarkan prinsip saling menguntungkan. Menurut Guo, kunjungan Starmer merupakan momen penting karena ini adalah kunjungan perdana menteri Inggris ke China dalam delapan tahun terakhir.
Perkembangan Hubungan China-Inggris
Dalam pertemuan antara Presiden Xi Jinping dan PM Keir Starmer di Beijing, kedua pemimpin sepakat mengembangkan kemitraan strategis komprehensif jangka panjang. Kesepakatan itu menitikberatkan pada pengubahan potensi kerja sama menjadi kemajuan nyata yang mampu membuka prospek baru dalam hubungan bilateral. Starmer dan Xi juga berkomitmen memperkuat kerja sama di bidang iklim, dialog keamanan tingkat tinggi, serta memperkenalkan dialog kelembagaan baru pada tahun 2026.
Dialog kelembagaan tersebut meliputi beberapa forum utama seperti dialog strategis China-Inggris, dialog ekonomi dan keuangan, dan pertemuan Komisi Ekonomi dan Perdagangan Gabungan kedua negara. Selain itu, China berencana menurunkan tarif impor wiski Inggris dari 10% menjadi 5%, membuka peluang peningkatan pertukaran masyarakat dan budaya, serta memfasilitasi perjalanan lintas batas.
Kunjungan Starmer dan Kesepakatan Kerja Sama
Selama kunjungan tersebut, PM Keir Starmer yang memimpin delegasi sekitar 60 wakil dari sektor bisnis dan budaya Inggris, menyaksikan penandatanganan 12 dokumen kerja sama antarpemerintah. Bidang kerja sama mencakup perdagangan, pertanian, pangan, budaya, serta regulasi pasar. Keduanya juga menghadiri pertemuan Dewan Bisnis Inggris-China, yang menegaskan optimisme dunia usaha kedua negara terhadap masa depan hubungan bilateral.
China menegaskan komitmennya untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi perusahaan Inggris dan perusahaan asing lainnya. Sebagai gantinya, Beijing berharap Inggris dapat menyediakan iklim bisnis yang adil, transparan, dan bebas diskriminasi bagi perusahaan China yang beroperasi di sana.
Konteks Perdagangan dan Posisi Global
Menurut data Departemen Bisnis dan Perdagangan Inggris, Amerika Serikat masih menjadi mitra dagang terbesar Inggris pada tahun 2025. Posisi China berada di peringkat keempat. Investasi signifikan juga tercatat selama kunjungan ini, termasuk komitmen investasi AstraZeneca sebanyak 10,9 miliar pound sterling dan persetujuan untuk penyederhanaan birokrasi ekspor Inggris.
Mengenai rencana kunjungan Starmer ke Jepang setelah China, Beijing memilih tidak berkomentar. Guo Jiakun menegaskan bahwa China selalu mengharapkan perkembangan hubungan antarnegara dapat mendukung perdamaian dan stabilitas di kawasan Asia-Pasifik.
Pemerintah China menunjukkan sikap terbuka terhadap hubungan bilateral yang ditanamkan dengan dasar saling menguntungkan. Sikap ini juga menjadi respons tegas terhadap kritik yang disuarakan oleh pihak luar, termasuk dari Presiden Amerika Serikat. Hal ini menegaskan bahwa China tetap fokus menjaga dan memperkuat kemitraan strategis, terutama dengan negara-negara besar anggota Dewan Keamanan PBB seperti Inggris.
