Amerika Serikat mengancam mengenakan tarif kepada negara-negara yang memasok minyak ke Kuba. Ancaman ini menempatkan Meksiko dalam posisi sulit karena negara tersebut adalah pemasok minyak utama bagi Kuba sekaligus mitra dagang penting Amerika Serikat.
Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, memperingatkan bahwa pemberlakuan tarif bisa memicu krisis kemanusiaan besar di Kuba. Krisis tersebut berpotensi berdampak pada layanan penting seperti rumah sakit dan pasokan pangan. Namun, Sheinbaum belum mengonfirmasi apakah Meksiko akan menghentikan pengiriman minyaknya, yang pada tahun 2025 mencapai 44% dari total impor minyak Kuba.
Sheinbaum menyatakan pemerintahnya tengah meminta penjelasan dari Amerika Serikat terkait cakupan tarif tersebut. Selain itu, Meksiko juga mencari solusi alternatif untuk membantu Kuba yang sudah mengalami pemadaman listrik berkala akibat krisis energi. Menurut Sheinbaum, ekspor minyak merupakan keputusan berdaulat yang diambil oleh perusahaan minyak milik negara, Pemex.
Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang menyatakan keadaan darurat nasional dan mengancam tarif terhadap negara-negara yang memasok minyak ke Kuba. Trump menuduh pemerintah Kuba sebagai ancaman luar biasa karena mendukung negara-negara dan aktor yang dianggap bermusuhan, termasuk fasilitas intelijen Rusia dan kelompok-kelompok teroris seperti Hezbollah dan Hamas.
Tekanan ini merupakan kelanjutan dari kebijakan Amerika Serikat dalam upaya menggulingkan rezim komunis di Kuba. Sekretaris Negara AS, Marco Rubio, yang mendukung perubahan rezim, dikenal memiliki latar belakang keluarga imigran Kuba dan berpengalaman dalam komunitas pengasingan Kuba di Miami.
Dampak Langsung bagi Kuba
Kuba sudah menghadapi pemadaman listrik yang sering dan antrean panjang di pom bensin akibat pasokan bahan bakar yang semakin menipis. Pemerintah Kuba menyalahkan sanksi ekonomi Amerika Serikat atas kondisi ini, sementara sejumlah kritikus juga menyoroti kurangnya investasi dalam infrastruktur energi.
Pemadaman di kota Havana semakin parah, dengan area luas yang mengalami gelap total setiap malam. Lampu lalu lintas tidak berfungsi dan beberapa stasiun radio serta televisi pemerintah menghentikan siaran karena kekurangan bahan bakar untuk generator. Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, menyebut ancaman tarif Trump sebagai alasan kosong dan upaya mengekang ekonomi Kuba.
Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodríguez, menuduh Amerika Serikat memaksa negara-negara lain untuk ikut dalam blokade bahan bakar yang lebih ketat. Kuba menyatakan kondisi darurat internasional, meskipun belum dijelaskan lebih lanjut langkah yang akan diambil.
Dilema Venezuela
Venezuela, seperti halnya Meksiko, menghadapi tekanan dari ancaman tarif tersebut. Sebelumnya, Venezuela memasok lebih dari sepertiga kebutuhan minyak Kuba. Namun, pasokan mulai terganggu sejak penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, oleh militer AS awal bulan ini.
Maduro telah digantikan sementara oleh Delcy Rodríguez yang menjalankan sejumlah tuntutan AS termasuk membuka industri minyak bagi perusahaan asing dan membebaskan warga AS yang ditahan di Venezuela. Pemerintah Venezuela bersama Kuba mengecam perintah eksekutif Trump yang dianggap melanggar hukum internasional dan menyatakan solidaritas kepada rakyat Kuba.
Tanggapan Meksiko ke Depan
Meksiko berusaha menyeimbangkan kepentingannya antara menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat dan mendukung Kuba. Pemerintah Meksiko mendorong jalur diplomasi agar angka tarif tidak diberlakukan, sembari mencari cara untuk meringankan krisis kemanusiaan yang diperkirakan akan terjadi di Kuba.
Faktor geopolitik dan tekanan ekonomi ini memperlihatkan kompleksitas hubungan negara-negara di kawasan Amerika. Dengan Meksiko yang berada di tengah-tengah, kebijakan Amerika Serikat terhadap Kuba berdampak langsung pada peta hubungan bilateral dan dinamika regional. Sementara tantangan energi dan kebutuhan kemanusiaan menjadi pusat perhatian dalam perdebatan yang sedang berlangsung.







