Iran Siap Dialog Nuklir dengan AS, Tolak Negosiasi Soal Rudal dan Paksaan dari Pihak Mana Pun

Iran menyatakan kesiapannya untuk kembali membuka pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat asalkan prosesnya berlangsung secara adil dan bermakna. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya tidak akan menerima tekanan atau paksaan dalam proses diplomasi tersebut.

Araghchi mengungkapkan Iran bersedia berpartisipasi dalam negosiasi nuklir dengan AS, tetapi menolak untuk berunding mengenai program misil dan kapabilitas pertahanan nasionalnya. Ia menekankan bahwa negara manapun tidak akan mau mengorbankan keamanan dan pertahanannya.

Belum ada jadwal atau format pertemuan yang disepakati untuk pembicaraan dengan AS. Araghchi juga memperingatkan bahwa dialog tidak dapat berlangsung di bawah ancaman atau tekanan militer. Pernyataan ini mengiringi ketegangan yang memuncak antara kedua negara.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengancam akan melakukan serangan militer jika Iran tidak menandatangani kesepakatan nuklir yang dia anggap adil. Namun Trump mengaku sudah berkomunikasi dengan para pemimpin Iran dan berencana melanjutkan dialog.

Trump menyebutkan dua pesan utama yang disampaikannya kepada Iran, yaitu larangan pengembangan nuklir dan penghentian tindakan keras terhadap demonstran. Iran menghadapi kritik internasional atas penindakan keras terhadap para pengunjuk rasa yang menewaskan ribuan orang.

Meski demikian, Araghchi menegaskan bahwa program nuklir Iran tetap untuk tujuan damai dan berharap kesepakatan awal mengenai lokasi, format, dan agenda pembicaraan bisa segera dirumuskan. Ia menyebutkan pentingnya konsultasi untuk menyesuaikan posisi di tengah situasi regional yang sangat menantang.

Ketegangan di kawasan semakin tinggi dengan rencana latihan militer dari kedua belah pihak. AS akan menggelar latihan udara multi-hari di Timur Tengah untuk meningkatkan kesiapan personel dan pesawat. Di sisi lain, Iran melalui Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) akan melakukan latihan tembakan langsung di Selat Hormuz, jalur perdagangan strategis dunia.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengingatkan Iran agar melaksanakan latihan militer dengan cara yang aman dan profesional agar tidak mengganggu kebebasan navigasi internasional. CENTCOM memperingatkan risiko tabrakan dan eskalasi konflik jika terjadi perilaku tidak profesional di sekitar kapal militer atau sipil.

Peran Turki dalam Meredakan Ketegangan

Dalam kunjungan Araghchi ke Istanbul, Turki menawarkan peran sebagai fasilitator untuk menurunkan ketegangan antara Iran dan AS. Tawaran ini disampaikan oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam pembicaraan telepon dengan pejabat Iran yang bertujuan membahas hubungan bilateral dan situasi keamanan regional.

Araghchi mengakui kondisi saat ini sangat serius dan menantang. Ia menyebut perlunya konsultasi lebih dekat termasuk untuk meninjau perkembangan regional dan menyelaraskan posisi Iran dengan negara-negara lain.

Perhatian Rusia terhadap Situasi Iran

Di Moskow, Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu dengan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani. Meskipun topik pembicaraan tidak diungkap, pertemuan ini menunjukkan perhatian intens Moskow terhadap perkembangan ketegangan di Iran.

Putin menegaskan bahwa Rusia memantau dengan seksama situasi yang sedang berlangsung di jalur diplomatik Iran. Posisi Rusia ini menjadi penting mengingat pengaruhnya di kawasan dan peran dalam negosiasi internasional terkait isu nuklir Iran.

Situasi antara Iran dan AS masih dinamis dengan upaya diplomasi yang berjalan beriringan dengan ancaman dan peningkatan aktivitas militer di kawasan. Perkembangan ini menjadi perhatian global mengingat dampaknya terhadap stabilitas regional dan kepentingan keamanan internasional.

Terkait