Mengapa Skandal Epstein Menimpa Berat di Inggris, Sementara Amerika Lebih Protektif terhadap Elitnya

Lebih dari enam tahun sejak kematian Jeffrey Epstein, dampak skandalnya tetap terasa. Namun, efek sosial dan profesional dari kasus ini terasa jauh lebih besar di Inggris dibanding di Amerika Serikat.

Epstein dikenal memiliki jaringan luas dengan tokoh-tokoh berpengaruh, banyak di antaranya nama-nama terkenal di dunia. Dari mereka, hanya sedikit yang benar-benar mengalami konsekuensi serius, dan menariknya, tiga orang tersebut—Ghislaine Maxwell, Andrew Mountbatten-Windsor, serta Lord Mandelson—semuanya berasal dari Inggris.

Sebaliknya, tokoh Amerika yang terkait hampir tidak mengalami sanksi sosial ataupun politik yang signifikan. Donald Trump tetap aktif dalam dunia politik, Bill Clinton tidak menghadapi pengucilan sosial berarti, dan Bill Gates terus memimpin yayasan filantropinya. Mereka semua membantah adanya perilaku tidak pantas dalam hubungan mereka dengan Epstein.

Perbedaan perlakuan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, Andrew dan Lord Mandelson pernah memegang jabatan publik atau posisi yang berhubungan langsung dengan publik, sehingga lebih mudah bagi institusi di Inggris untuk melakukan tindakan tegas. Sebaliknya, banyak tokoh Amerika yang berperan sebagai individu swasta dengan kekayaan dan kontrak yang membuat mereka terlindungi dari konsekuensi langsung.

Selain alasan struktural, faktor budaya sangat memengaruhi respon terhadap skandal Epstein. Di Inggris, masyarakat memiliki tradisi “melayani rasa malu” dengan cara yang keras dan dramatis. Skandal yang melibatkan kelas atas direspons dengan gembira dan sering kali berakhir dengan “pengorbanan” publik atas individu bermasalah demi menjaga reputasi institusi.

Sistem budaya Inggris, yang dipengaruhi oleh filosofi Burkean, memungkinkan lembaga-lembaga besar—seperti monarki dan kalangan politik—untuk mengorbankan tokoh bermasalah demi melindungi diri mereka sendiri secara kolektif. Dalam konteks Amerika, jaringan elit cenderung saling melindungi dengan menutup diri dari tekanan eksternal.

Meski begitu, beberapa tokoh Amerika juga menghadapi konsekuensi, walaupun skalanya lebih kecil. Misalnya, Jes Staley, mantan CEO Barclays dan mantan bankir Epstein, mundur karena tekanan regulator Inggris terkait hubungannya dengan Epstein. Jika di Amerika, dia mungkin masih menjabat tanpa gangguan.

Alexander Acosta, jaksa Florida yang menegosiasikan kesepakatan hukuman ringan bagi Epstein, juga berhenti dari jabatan menteri di kabinet Trump. Namun, pengunduran dirinya lebih karena tekanan dari publik dan politik dibanding pemecatan resmi. Bahkan Trump mencoba meyakinkan Acosta untuk tetap bertahan.

Beberapa tokoh lain juga melepaskan jabatan mereka, namun berbeda dengan di Inggris, mereka lebih kehilangan posisi dibanding kehilangan reputasi secara permanen.

Baru-baru ini, langkah Kongres AS yang memanggil Bill Clinton atas penolakan memberikan keterangan terkait hubungan dengan Epstein menjadi indikasi potensi perubahan sikap Amerika. Partai Demokrat juga mulai menjaga jarak darinya secara diam-diam.

Namun dari sisi sosial, sikap Amerika lebih longgar. Alan Dershowitz, pengacara yang pernah membela Epstein, sempat mengalami ostrakisme di beberapa acara sosial setelah tuduhan yang kemudian dicabut, tapi tetap diundang dalam pesta. Sebaliknya, rasa malu di Inggris bisa sangat mendorong eksklusi sosial total, seperti dialami Duke of York.

Kasus Epstein menyoroti perbedaan mendasar dalam mekanisme pengelolaan skandal antara kedua negara. Inggris tampaknya masih memiliki sistem “penghinaan publik” yang kuat dan sering berfungsi sebagai alat pembersih institusi. Sedangkan di Amerika, sistem tersebut tampak kehilangan efektivitasnya dan mulai memudar.

Perbedaan sikap ini mengekspresikan budaya dan sistem politik yang berbeda, serta bagaimana masyarakat dan lembaga merespons pelanggaran moral di kalangan elit. Hal ini juga menggambarkan bagaimana kekuasaan dan tanggung jawab dipertaruhkan dalam konteks nasional yang berbeda, sehingga jatuhnya konsekuensi skandal Epstein lebih berat di sisi dunia Barat yang berbasis Inggris.

Exit mobile version