Perbatasan Rafah antara Jalur Gaza dan Mesir akan kembali dibuka untuk pejalan kaki setelah hampir dua tahun ditutup sejak pasukan Israel mengambil alih sisi Palestina. Pembukaan ini menjadi bagian penting dalam tahap kedua rencana gencatan senjata yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump untuk wilayah Palestina.
Perbatasan Rafah merupakan satu-satunya akses menuju Gaza yang tidak melewati Israel. Oleh karena itu, titik ini dianggap sebagai "tali kehidupan" bagi penduduk Gaza yang diisolasi oleh blokade Israel sejak 2007. Sejak pengambilalihan oleh pasukan Israel pada Mei lalu, akses di perbatasan ini sangat dibatasi, dengan hanya penduduk yang diizinkan lewat dua arah.
Fungsi dan Sejarah Perbatasan Rafah
Rafah menjadi pintu utama keluar masuk Gaza yang dikontrol oleh otoritas Palestina sejak 2005 hingga 2007. Setelah Hamas menguasai Gaza, terminal ini menjadi simbol otoritas Hamas. Teritorial tersebut kini berada di bawah pengawasan militer Israel, setelah mereka mundur ke belakang “Garis Kuning” sesuai kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS.
Penutupan Rafah berdampak signifikan pada mobilitas warga Gaza. Ambulans yang dipersiapkan di sisi Mesir menunjukkan prioritas evakuasi medis, yang akan menjadi kelompok pertama yang diperbolehkan menyeberang. Akses keluar masuk hanya diperbolehkan bagi warga yang disetujui, dengan pemeriksaan keamanan yang ketat oleh pihak Israel.
Kontrol dan Koordinasi Keamanan
Pengelolaan sisi Palestina di Rafah kini melibatkan badan teknokratis dari Palestina yang beranggotakan 15 orang serta misi bantuan Uni Eropa Berlin Assistance Mission (EUBAM). EUBAM sebelumnya pernah bertugas di Rafah dari 2005 hingga 2007 dan kembali melakukan pengawasan secara terbatas awal tahun lalu sebelum dihentikan lagi pada Maret.
Menurut COGAT, badan koordinasi urusan sipil Israel, fase awal pembukaan dilakukan secara percobaan dan memerlukan persiapan matang agar arus warga dapat berlangsung lancar di kedua arah. Pihak Mesir berencana menerima semua warga Palestina yang mendapat izin dari Israel untuk meninggalkan Gaza.
Pembatasan dan Protokol Kembali
Penduduk yang kembali ke Gaza dibatasi membawa barang bawaan. Menurut kedutaan Palestina di Kairo, barang yang dibawa terbatas, tanpa logam atau elektronik, dan hanya sejumlah obat-obatan tertentu saja yang diperbolehkan. Hal ini bertujuan menjaga keamanan dan mencegah potensi ancaman.
Pengawasan ketat ini juga mencakup proses serah terima barang bantuan. Truk-truk yang mengangkut bantuan kemanusiaan masuk dari Mesir melalui Rafah, kemudian diperiksa di Kerem Shalom, pintu masuk bawah kontrol Israel yang saat ini mengelola sebagian besar pasokan ke Gaza.
Akses Bantuan Kemanusiaan
Salah satu isi plan gencatan senjata Trump adalah pembukaan Rafah untuk memungkinkan masuknya hingga 600 truk bantuan per hari. Namun, menurut laporan kelompok bantuan kemanusiaan, akses tersebut masih dibatasi oleh otoritas Israel yang telah mengembalikan puluhan truk tanpa memproses muatannya.
Selain Rafah, ada beberapa pos masuk lain yang pernah beroperasi, tetapi belum ada konfirmasi resmi mengenai pembukaan kembali titik masuk tersebut. Ketegangan yang berkelanjutan dan kondisi keamanan menjadi faktor utama penentuan pembukaan akses.
Situasi pengelolaan perbatasan Rafah terus berkembang, dengan melibatkan banyak pihak internasional, termasuk Uni Eropa dan negara-negara tetangga. Pembukaan perbatasan ini diharapkan dapat meringankan tekanan kemanusiaan pada warga Gaza sekaligus menjaga keamanan kawasan yang sensitif tersebut.





