Dari ‘Axis of Evil’ hingga ‘Axis of Upheaval’: Metafora yang Bentuk Politik Global Modern

Metafora “axis” telah menjadi kerangka penting dalam memahami geopolitik modern. Istilah ini tidak hanya menggambarkan kelompok negara, tetapi juga membentuk persepsi global mengenai ancaman dan aliansi.

Asal-usul istilah ini ditemukan pada tahun 1936 ketika pemimpin fasis Italia, Benito Mussolini, menyebutkan “Rome–Berlin Axis” sebagai poros geopolitik. Pada masa Perang Dunia II, poros ini berkembang menjadi “Axis Powers” yang melibatkan Jerman, Italia, dan Jepang, melambangkan ancaman dan kejahatan bagi dunia.

Penggunaan istilah “axis” sempat menghilang setelah kekalahan poros pada 1945. Namun, Presiden Amerika Serikat George W. Bush menghidupkannya kembali dalam pidato State of the Union 2002, dengan menciptakan istilah “axis of evil” yang menggabungkan Iran, Irak, dan Korea Utara. Meski negara-negara ini berbeda secara politik dan geografis, istilah ini menyatukan mereka menjadi ancaman tunggal bagi keamanan global.

Frederik K. G. Latham, seorang akademisi hubungan internasional, menggarisbawahi bahwa istilah ini berperan sebagai “alat geopolitik” yang membentuk realitas politik. Dengan menggunakan label “axis,” negara-negara dibingkai sebagai musuh bersama berdasarkan narasi moral dan strategis.

Setelah itu, konsep “axis” semakin berkembang. Media Libya menanggapi dengan istilah “axis of resistance,” yang kemudian diadopsi oleh Iran dan sekutunya, seperti Hezbollah dan Hamas. Mereka menganggap istilah ini sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi Amerika dan pendudukan Israel. Transformasi ini menunjukkan bagaimana bahasa politik mampu membalikkan makna dari label negatif menjadi identitas politik positif.

Pada masa kontemporer, invasi Rusia ke Ukraina memunculkan istilah baru dari kalangan analis Washington, yaitu “axis of upheaval.” Istilah ini mengacu pada China, Rusia, Iran, dan Korea Utara yang dianggap berusaha merombak tatanan internasional yang ada. Meski tidak ada koordinasi formal, istilah ini menggambarkan suasana multipolar dan ketegangan sistemik kini.

Penggunaan “axis” dalam konteks geopolitik membawa konsekuensi besar. Istilah ini tidak netral, melainkan sangat politis dan moral. Ia menyederhanakan kerumitan hubungan internasional menjadi pertarungan “kawan versus lawan.” Implikasinya, negara yang termasuk dalam “axis” seringkali sulit diajak berdialog. Kompromi dianggap pengecut, sedangkan ancaman tampil sebagai dominan.

Misalnya, label “axis of evil” mempermudah justifikasi invasi AS ke Irak pada 2003, tetapi juga memperkeruh hubungan diplomatik dengan Iran dan Korea Utara selama bertahun-tahun. Penggunaan istilah ini membentuk “peta moral” dalam politik global, menentukan siapa yang masuk dalam lingkaran legitimasi, dan siapa yang dianggap di luar norma.

Berikut ini rangkuman perkembangan istilah “axis” dalam geopolitik modern:

  1. 1936 – Benito Mussolini mendeklarasikan “Rome–Berlin Axis.”
  2. Perang Dunia II – Axis Powers: Jerman, Italia, Jepang.
  3. 2002 – Presiden Bush menciptakan “axis of evil” (Iran, Irak, Korea Utara).
  4. Tanggapan – Iran dan sekutu memakai “axis of resistance.”
  5. 2022-2024 – “Axis of upheaval” diangkat untuk menggambarkan China, Rusia, Iran, Korea Utara.

Penggunaan istilah “axis” mencerminkan bagaimana bahasa politik mengonstruksi realitas dunia. Sebuah label geopolitik bukan sekadar penanda kelompok, tetapi menentukan bagaimana ancaman dirasakan dan bagaimana peran aktor di panggung global ditentukan.

Dengan demikian, metafora “axis” bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga alat diplomasi modern yang memengaruhi kebijakan luar negeri dan persepsi internasional. Istilah ini terus berkembang, mencerminkan dinamika konflik dan koalisi di dunia yang terus berubah.

Terkait