Presiden terpilih Costa Rica, Laura Fernandez, segera mengambil langkah tegas menghadapi lonjakan kekerasan terkait narkoba dengan mencontoh strategi anti-kejahatan keras yang diterapkan Presiden El Salvador, Nayib Bukele. Fernandez secara terbuka menyatakan bahwa dia mencari bantuan dari Bukele untuk mengatasi masalah kriminalitas yang semakin memburuk di negaranya.
Costa Rica, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu negara teraman di Amerika Latin, kini menghadapi peningkatan angka pembunuhan yang mencapai 17 per 100.000 penduduk, hampir tiga kali lipat rata-rata global. Negara ini makin berperan sebagai pusat logistik perdagangan narkoba dunia, meskipun tidak memiliki angkatan bersenjata seperti negara lain di kawasan.
Penanganan Kejahatan Terorganisasi ala Bukele
Fernandez berencana membangun sebuah mega-penjara yang meniru model CECOT (Pusat Penahanan Terorisme) milik Bukele di El Salvador. Proyek penjara ini dirancang untuk menampung sekitar 5.000 narapidana berbahaya dengan anggaran sekitar 35 juta dolar. Tujuannya adalah memutuskan jaringan kejahatan terorganisasi dengan mengisolasi para pelaku kriminal utama dari koneksi internasional.
Bukele dikenal dengan kebijakan kerasnya terhadap geng kriminal yang dianggap berhasil menurunkan angka kejahatan di negaranya. Ia mendeklarasikan status darurat yang memperbolehkan penangkapan tanpa surat perintah. Sejak Maret 2022, lebih dari 90.000 tersangka telah ditangkap, meskipun ada kontroversi terkait penangkapan sejumlah orang yang dianggap tidak bersalah, termasuk anak di bawah umur.
Fernandez mengungkapkan dialognya dengan Bukele yang memberi dukungan penuh, terutama dalam proyek pembangunan penjara baru ini. Bukele menjadi tokoh yang dihormati di beberapa negara Amerika Latin berkat pendekatannya yang dianggap efektif dalam memerangi geng kriminal.
Tantangan Baru bagi Costa Rica
Perubahan politik di Costa Rica juga menandai pergeseran signifikan ke arah kanan dalam peta politik kawasan Amerika Latin. Keamanan yang dulu menjadi kebanggaan Costa Rica kini tengah menghadapi ancaman serius akibat meluasnya kekerasan dan perdagangan narkoba. Kebijakan tanpa militer negeri ini menghadirkan tantangan tersendiri dalam menanggulangi kejahatan terorganisasi yang semakin terstruktur dan berdampak pada stabilitas nasional.
Pemerintah baru berharap pendekatan keras ala Bukele, termasuk pembangunan fasilitas penjara yang kuat, dapat menjadi solusi efektif mengurangi kejahatan dan memperbaiki citra keamanan negara. Langkah ini juga diharapkan memutus jalur suplai dan komunikasi geng kriminal dengan sindikat internasional yang selama ini memanfaatkan wilayah Costa Rica sebagai lintasan utama.
Dalam menghadapi situasi ini, upaya kolaborasi regional dan penggunaan strategi represif menjadi kunci baru yang diyakini memberikan peluang bagi Costa Rica untuk memperbaiki kondisi keamanan yang kritis. Dukungan dan pengalaman dari El Salvador menjadi referensi penting dalam menentukan arah kebijakan keamanan Fernandez di masa depan.







