Amerika Serikat meningkatkan serangan udara dan operasi militer di Somalia sebagai respons terhadap ancaman yang kian meningkat dari kelompok teroris Islam. Fokus utama serangan ini adalah para jihadis yang terkait dengan ISIS dan al Qaeda.
Letnan Jenderal John Brennan, pejabat tinggi di Komando Afrika AS (AFRICOM), mengungkapkan bahwa kelompok ISIS di Somalia saat ini menjadi pusat ancaman global. Mereka merencanakan serangan tidak hanya di Afrika, tetapi juga menargetkan Eropa dan Amerika Serikat.
Ancaman Jihadis dari Somalia ke Amerika Serikat
Brennan menjelaskan bahwa para teroris menggunakan media sosial untuk merekrut warga Amerika melakukan aksinya di dalam negeri. Selain itu, sel-sel ISIS di Somalia memiliki sumber daya untuk merencanakan serangan dalam skala besar.
Sejak tragedi 9/11, upaya militernya telah membantu menghentikan banyak rencana serangan yang berpotensi terwujud. "Kami melakukan ‘away game’ dengan menyerang mereka di luar negeri agar tidak dapat melakukan aksi di tanah air," ujarnya.
Peningkatan Serangan Udara di Somalia
Pada tahun 2025, AFRICOM bersama sekutu di Somalia melaksanakan 124 serangan udara terhadap ISIS dan al-Shabab. Jumlah tersebut meningkat hingga 12 kali lipat dari operasi yang dilakukan pada tahun 2024.
Memasuki awal tahun 2026, serangan udara di Somalia terus meningkat dengan 26 serangan hanya dalam satu bulan pertama — lebih dari dua kali lipat dibanding seluruh tahun sebelumnya.
Pusat Kepemimpinan ISIS di Pegunungan Golis
Pemimpin ISIS global, Abdulqadir Mumin, adalah warga Somalia yang bersembunyi di Pegunungan Golis. Dari sana, ia mengkoordinasi operasi teroris ke berbagai wilayah, termasuk Asia Timur, Eropa, dan AS.
Brennan menekankan bahwa pasukan AS terus memburu Abdulqadir Mumin agar tidak memiliki tempat aman. "Sejarah menunjukkan pemimpin ISIS sebelumnya akhirnya terbunuh oleh kami," tegasnya.
Keberhasilan Melawan ISIS-Somalia
AFRICOM dan mitra lokal telah berhasil merebut kembali wilayah yang sebelumnya dikuasai ISIS di Puntland, wilayah otonom di Somalia timur laut. Sekitar lebih dari setengah daerah yang dulu dikuasai telah kembali ke kontrol pasukan Puntland.
Pasukan lokal telah melakukan operasi pembersihan besar-besaran, menangkap banyak anggota ISIS dan menyita logistik mereka. Fokus utama tetap menjaga keamanan di tanah air AS agar tidak terjadi migrasi ancaman.
Al-Shabab dan Kolaborasi dengan Houthis
Meski ISIS menjadi prioritas, al-Shabab yang terafiliasi dengan al Qaeda masih aktif di selatan Somalia. Dalam satu tahun terakhir, kelompok ini mulai berkoordinasi dengan pasukan Houthi di Yaman.
Ancaman dari al-Shabab lebih bersifat lokal, meskipun mereka memiliki ambisi besar untuk menguasai Mogadishu dan mendirikan kekhalifahan berdasarkan al Qaeda.
Peran Amerika Serikat di Somalia
Tahun 2026, peran AS lebih menonjol dalam memberikan saran dan dukungan jarak jauh. Pasukan Somalia semakin mandiri menggunakan kendaraan tempur mereka untuk melancarkan serangan darat.
AFRICOM juga menyediakan dukungan intelijen dan serangan udara, serta teknologi yang memungkinkan pasukan Somalia memantau secara real-time apa yang dilihat pesawat pengintai AS.
Kemitraan Regional dalam Perang Melawan Terorisme
Duta Besar Robert Scott menyatakan bahwa negara-negara sekitar Somalia, termasuk Kenya, Ethiopia, Uganda, Somaliland, Puntland, dan Jubaland, aktif bekerja sama dengan AFRICOM.
Kolaborasi ini memperkuat kemampuan regional dalam memerangi ISIS dan al-Shabab, meningkatkan efektivitas operasi dan keamanan kawasan.
Potensi Ekonomi di Tengah Ketidakstabilan
Brennan menilai bahwa keberhasilan mengatasi ancaman teroris bisa membuka peluang besar bagi Somalia dalam pemanfaatan sumber daya alam.
Somalia diketahui memiliki cadangan mineral kritis dan gas alam cair (LNG) di lepas pantai Mogadishu. Dengan stabilitas keamanan, sektor swasta dapat berinvestasi dan mendorong pembangunan ekonomi yang menjadi penjamin keamanan jangka panjang.
Upaya militer yang masif dan terpadu ini mencerminkan komitmen AS dan mitra regional dalam menanggulangi ancaman terorisme yang kini berpusat di Afrika Timur. Pendekatan ini diharapkan dapat menghalau ISIS-Somalia dan al-Shabab, sekaligus membuka jalan bagi kemajuan sosial dan ekonomi di wilayah tersebut.
