Raja Zulu Misuzulu kaZwelithini menyerukan agar para migran meninggalkan Afrika Selatan setelah terjadinya bentrokan kekerasan di dekat kediamannya. Pada sebuah acara peringatan kekalahan Inggris dalam Pertempuran Isandlwana, sang raja menggunakan istilah yang merendahkan migran dari negara tetangga dan menegaskan bahwa mereka harus pergi dari wilayahnya.
Raja Zulu menyoroti masalah hubungan antara perempuan lokal dengan pria asing yang kian meningkat. Ia menegaskan bahwa anak-anak hasil hubungan tersebut boleh tetap tinggal, tetapi pria asing sebagai orang tua harus meninggalkan negara tersebut. Meskipun tidak memiliki kekuasaan politik resmi, pernyataan Raja Misuzulu menjadi perhatian 12 juta suku Zulu yang menganggapnya pelindung tradisi dan otoritas moral.
Ketegangan Anti-Migran di Sekolah dan Komunitas
Isu migrasi kini menjadi sorotan politik penting di Afrika Selatan. Kerusuhan pecah di sebuah sekolah dasar di Durban, KwaZulu-Natal, menyusul tuduhan bahwa anak-anak migran diprioritaskan untuk diterima sekolah. Polisi sempat menggunakan meriam air dan granat kejut untuk membubarkan demonstrasi yang dipicu oleh keresahan warga lokal.
Aktivis anti-migran menuduh Addington Primary School mengutamakan anak pendatang dibanding warga asli, meskipun pihak sekolah dan pemerintah daerah membantah kekurangan ruang disebabkan oleh kehadiran migran. Raja Zulu meminta dialog terbuka dan memperingatkan agar warga tidak main hakim sendiri, tetapi sekali lagi menegaskan para migran harus meninggalkan negara.
Kejadian dan Pernyataan Kontroversial Raja Zulu
Raja Misuzulu berkata, “Apa yang terjadi di Addington menunjukkan kita sedang dirugikan oleh saudari-saudari kita. Namun apa yang bisa kita lakukan, kalau anak mereka adalah keponakan kita?” Ia menambahkan, “Kita harus duduk bersama dan membahasnya. Anak yang lahir dari warga asing boleh tinggal, tetapi warga asing itu sendiri harus pergi.” Pernyataan ini mengingatkan pada seruan serupa dari mendiang ayahnya, Raja Goodwill Zwelithini, yang pada 2015 menyerukan migran untuk “kemas barang-barangnya” dan pergi.
Latar Belakang Migrasi di Afrika Selatan
Sebagai negara terkaya dan paling terindustrialisasi di Afrika, Afrika Selatan menjadi tujuan utama bagi warga dari negara-negara tetangga seperti Malawi, Zimbabwe, Lesotho, dan Mozambik. Setelah era apartheid, negara ini memfasilitasi sistem suaka yang memungkinkan pemohon bekerja sementara kasus mereka diproses.
Namun, tingkat pengangguran di Afrika Selatan yang mencapai sekitar 33 persen membuat migran sering dituding mencuri lapangan pekerjaan, melakukan kriminalitas, dan membebani layanan publik. Kekerasan dan penjarahan yang menargetkan migran pernah menewaskan sedikitnya 61 orang pada kerusuhan Mei 2008, dan kasus serupa muncul lagi pada 2015 dan 2019.
Politik dan Gerakan Anti-Migran
Berbagai partai politik mulai mengambil sikap keras terhadap migrasi ilegal karena potensi meraih suara pemilih. Kelompok pengawas lokal seperti Operation Dudula muncul, menekan bisnis asing dan memprotes penggunaan layanan publik yang dianggap diperuntukkan bagi warga negara.
Baru-baru ini, kontroversi muncul terkait penerimaan murid di Addington Primary School di mana sejumlah warga lokal gagal masuk karena kurangnya tempat. Menurut pejabat pendidikan provinsi, 37 persen murid di sekolah tersebut adalah imigran dengan 12 murid tidak memiliki dokumen legal. Secara nasional, murid asing totalnya kurang dari dua persen dari keseluruhan siswa.
Populasi Migran dan Dampaknya
Menurut badan statistik resmi Afrika Selatan, populasi migran meningkat dari 2,1 persen pada tahun 1996 menjadi 3,9 persen pada tahun lalu, yaitu sekitar 2,4 juta orang. Lizette Lancaster dari Institute for Security Studies memperingatkan bahwa pernyataan raja hanya memperparah sentimen anti-migran dan harus dikutuk secara tegas.
Situasi ini menunjukkan kompleksitas hubungan antara migran dan warga lokal yang memengaruhi aspek sosial, ekonomi, serta politik di Afrika Selatan. Dialog dan kebijakan yang tepat menjadi kunci untuk menyelesaikan permasalahan yang semakin memanas di negara tersebut.







