Dokumen Internal Ungkap Militer Vietnam Siapkan Antisipasi Potensi Konflik dengan Amerika Serikat 2026

Dokumen internal terbaru dari militer Vietnam mengungkapkan persiapan menghadapi kemungkinan terjadinya perang agresi oleh Amerika Serikat. Dokumen yang dirilis memperlihatkan bahwa militer Vietnam memandang Amerika sebagai kekuatan yang memusuhi dan berpotensi melancarkan invasi besar-besaran ke negaranya.

Dalam dokumen berjudul “Rencana Invasi AS Ke-2” yang disusun oleh Kementerian Pertahanan Vietnam, disebutkan bahwa Amerika dan sekutunya siap menggunakan metode perang non-konvensional untuk menahan pengaruh China. Namun, dokumen tersebut juga menegaskan adanya kewaspadaan tinggi atas potensi Amerika mencari alasan menyerang Vietnam meskipun risiko perang dianggap kecil saat ini.

Dokumen tersebut menguraikan perubahan kebijakan Washington di Asia selama tiga periode presidensi: Obama, Trump, dan Biden. Vietnam melihat kebijakan Amerika semakin fokus membangun kemitraan militer di kawasan untuk membentuk blok anti-China. Namun, Hanoi menilai kemitraan ini mengandung risiko campur tangan politik yang bisa melemahkan pemerintahan komunis Vietnam.

Meskipun pada saat yang sama Vietnam dan Amerika menjalin “Kemitraan Strategis Komprehensif” yang tertinggi, dokumen militer menegaskan kekhawatiran terhadap upaya Amerika menyebarkan nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia sebagai cara menggantikan sistem politik sosialisme di Vietnam. Pendapat ini menggarisbawahi pandangan berbeda antara pendekatan diplomatik dan kekhawatiran keamanan di kalangan pejabat Vietnam.

Analisis yang dilakukan oleh The 88 Project, organisasi hak asasi manusia, menyimpulkan bahwa ketakutan akan adanya intervensi yang memicu “revolusi warna” seperti yang terjadi di Ukraina dan Filipina menjadi dasar utama bagi Vietnam untuk bersiap menghadapi ancaman militer dan politik dari luar negeri. Ben Swanton, ko-direktur The 88 Project, menegaskan bahwa kekhawatiran ini merupakan pandangan luas dalam pemerintahan Vietnam, bukan sekadar opini minoritas.

Kewaspadaan militer Vietnam juga tercermin dari ketegangan internal antara faksi konservatif yang dekat dengan militer dan sektor yang lebih terbuka dalam pemerintahan. Peneliti dari lembaga ISEAS–Yusof Ishak Institute, Nguyen Khac Giang, menjelaskan bahwa militer tetap waspada terhadap pendekatan kemitraan strategis dengan Amerika yang dianggap berisiko memicu perubahan rezim. Ketegangan ini pernah terlihat saat Fulbright University, yang mempunyai afiliasi dengan Amerika, dituduh oleh media militer Vietnam sebagai aktor dalam upaya revolusi warna.

Meski terdapat ketegangan, hubungan ekonomi dan diplomatik Vietnam dengan kedua negara besar, Amerika dan China, tetap berjalan seimbang. China menjadi mitra dagang terbesar Vietnam, sementara Amerika adalah pasar ekspor utama. Hal ini membuat Hanoi harus cermat agar tidak kehilangan keuntungan strategis kedua negara tersebut sekaligus menjaga stabilitas politik dalam negeri.

Pengamat militer dari National War College Washington, Zachary Abuza, menyebutkan bahwa kenangan perang Vietnam melawan Amerika masih sangat membekas. Kekhawatiran terbesar pemerintah Vietnam bukan hanya ancaman militer langsung, melainkan potensi runtuhnya rezim akibat intervensi politik asing. Sementara itu, hubungan dengan China lebih terlihat sebagai persaingan regional dibanding ancaman eksistensial.

Perkembangan hubungan Vietnam dengan pemerintahan Trump juga memunculkan dinamika tersendiri. Meski ada kemajuan kerja sama, proyek investasi Trump di Vietnam dan tindakan militer Trump di Venezuela memberikan alasan baru bagi kelompok konservatif Vietnam untuk tetap waspada terhadap Amerika. Khususnya hubungan Vietnam dengan Kuba yang merupakan sekutu historis sangat sensitif dan dapat terganggu oleh tindakan Amerika di Amerika Latin.

Pemerintah Amerika belum memberikan komentar langsung mengenai dokumen “Rencana Invasi AS Ke-2” ini. Namun, Departemen Luar Negeri menegaskan bahwa kemitraan dengan Vietnam bertujuan untuk meningkatkan keamanan dan kesejahteraan kedua negara serta menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik.

Data ini membuka wawasan penting tentang bagaimana Vietnam memandang risiko ancaman militer dan politik dari Amerika Serikat meskipun secara resmi hubungan kedua negara semakin dekat. Sikap militer Vietnam menunjukkan kesiapan menghadapi skenario terburuk yang berpotensi mengguncang keamanan dan kedaulatan mereka di tengah geopolitik regional yang kompleks.

Berita Terkait

Back to top button