Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengajukan permohonan dana sebesar 1 miliar dolar AS untuk menangani krisis kesehatan terburuk di dunia pada tahun 2026. Permintaan ini ditujukan untuk 36 situasi darurat paling parah, termasuk di Gaza, Sudan, Haiti, dan Afghanistan.
Permohonan dana ini lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya karena pemotongan besar pada bantuan luar negeri dari negara-negara kaya. WHO mengaku harus realistis dalam mengantisipasi jumlah dana yang akan diterima dalam kondisi keuangan global yang semakin ketat.
WHO memperkirakan ada sekitar 239 juta orang yang membutuhkan bantuan kemanusiaan secara mendesak pada tahun mendatang. Dana tersebut direncanakan untuk menjaga layanan kesehatan penting tetap berjalan di wilayah-wilayah krisis.
Menurut Chikwe Ihekweazu, Kepala Bidang Darurat Kesehatan WHO, seperempat miliar orang sedang mengalami krisis kemanusiaan yang menghilangkan perlindungan dasar seperti keamanan, tempat tinggal, dan akses ke layanan kesehatan. Kondisi ini menyebabkan lonjakan kebutuhan medis, baik akibat cedera, wabah penyakit, malnutrisi, maupun penyakit kronis yang tidak tertangani.
Dampak Pemotongan Bantuan Asing
Amerika Serikat, yang secara tradisional menjadi donor terbesar WHO, memangkas anggaran bantuan luar negeri secara signifikan. Pada bulan Januari, Presiden Amerika Serikat memberikan pemberitahuan pengunduran diri satu tahun dari keanggotaan WHO. Tahun lalu, WHO meminta 1,5 miliar dolar AS, tetapi hanya menerima 900 juta dolar AS, bahkan lebih rendah dibandingkan tingkat pada 2016.
Ihekweazu menyatakan bahwa permintaan dana tahun ini disesuaikan dengan realitas situasi global. WHO kini memusatkan prioritas pada layanan-layanan yang memiliki dampak besar untuk menyelamatkan nyawa. Organisasi ini juga mengalihkan peran lebih banyak kepada 1.500 mitra lokal agar dapat melakukan pekerjaan garis depan secara lebih efektif.
Prioritas Respons Darurat WHO 2026
Daftar prioritas WHO selain Gaza, Sudan, Haiti, dan Afghanistan juga mencakup:
- Republik Demokratik Kongo
- Myanmar
- Somalia
- Sudan Selatan
- Suriah
- Ukraina
- Yaman
- Wabah kolera dan mpox yang masih berlangsung
Ihekweazu memperingatkan bahwa kekurangan dana dapat membuat dunia semakin rentan terhadap wabah dan pandemi baru. Ia menekankan pentingnya solidaritas global dalam menghadapi tantangan kesehatan ini dan bahwa menganggap masalah ini akan hilang tanpa dukungan bersama adalah sebuah ilusi.
Tanggapan Donor dan Dampak pada Fasilitas Kesehatan
Pada tahun sebelumnya, donor utama WHO dalam keadaan darurat adalah Uni Eropa, Jerman, Jepang, Italia, dan Inggris. Respon awal terhadap permintaan dana WHO tahun ini tergolong cukup menggembirakan. Namun, Ihekweazu menyoroti bahwa beberapa negara yang paling vokal tidak selalu menjadi penyumbang terbesar dalam bantuan kesehatan dunia.
Pada tahun lalu, WHO menangani 50 krisis kesehatan di 82 negara dan memberikan layanan penting kepada lebih dari 30 juta orang. Namun, pemotongan dana menyebabkan penutupan atau pengurangan layanan di 6.700 fasilitas kesehatan di 22 wilayah krisis. Situasi ini memutus akses kesehatan bagi 53 juta orang.
WHO mengajak negara-negara di dunia untuk meningkatkan keterlibatan dan berinvestasi demi terciptanya dunia yang lebih sehat dan aman. Pendanaan yang memadai dianggap esensial untuk melindungi populasi yang rentan serta mencegah konsekuensi yang lebih parah secara global.







