Pengalaman Kelam Perempuan Palestina saat Kembali ke Gaza melalui Rafah: Interogasi dan Penahanan Israel

Author: Qoo Media

Ketika Rotana al-Raqab menerima kabar bahwa namanya dan ibunya termasuk dalam daftar pertama warga Palestina yang diizinkan kembali ke Gaza melalui penyeberangan Rafah, harapannya pun terbangun. Ia merasa perjalanan panjang yang ia jalani di Mesir akan segera berakhir dan bisa kembali kepada kelima anaknya.

Namun harapan itu berubah menjadi pengalaman melelahkan yang penuh tekanan. Rotana mengalami berjam-jam penantian, pemeriksaan tubuh, interogasi, dan perlakuan merendahkan dari pasukan Israel sebelum akhirnya berhasil melewati penyeberangan tersebut.

Kondisi Penyeberangan Rafah dan Proses Pengembalian

Rotana, seorang ibu berusia 31 tahun, meninggalkan Gaza bersama ibunya, Huda Abu Abed, untuk mendapatkan perawatan medis mendesak karena ia membutuhkan operasi jantung besar. Mereka meninggalkan enam anak Rotana di bawah perawatan anggota keluarga yang berada di wilayah al-Mawasi, Khan Younis. Sepanjang waktu terpisah, kekhawatiran tentang nasib keluarga dan kondisi rumah yang hancur akibat serangan Israel terus membayangi.

Penyeberangan Rafah, satu-satunya jalur dari Gaza yang tidak melewati wilayah Israel, kembali dibuka sebagian sebagai tahap kedua dari kesepakatan gencatan senjata Gaza. Namun, dalam operasionalnya, jalur ini hanya mengizinkan jumlah terbatas orang melewati, di mana sebagian besar yang hendak kembali justru dipaksa untuk kembali tanpa alasan resmi yang jelas dari pihak Israel.

Menurut pejabat Mesir, sekitar 50 orang mencapai sisi Palestina di penyeberangan, tetapi 38 di antaranya dikembalikan oleh otoritas Israel setelah menjalani pemeriksaan ketat dan interogasi. Hanya 12 orang yang akhirnya diizinkan masuk Gaza melalui proses yang memakan waktu berjam-jam di bawah pengawasan ketat.

Pengalaman Interogasi dan Pemeriksaan Tubuh

Ketika akhirnya Rotana dan ibunya bisa melanjutkan perjalanan, pengalaman berat belum berakhir. Mereka dikawal oleh kendaraan militer Israel dan dihentikan di sebuah area terbuka untuk pemeriksaan tubuh menyeluruh oleh petugas kontra-terorisme yang menyertai pasukan Israel.

Selama interogasi yang berlangsung tiga jam untuk Rotana dan dua jam untuk ibunya, mereka menghadapi tekanan psikologis berupa pertanyaan provokatif dan perlakuan merendahkan. Rotana dipojokkan dengan pertanyaan, “Mengapa kamu kembali ke Gaza? Apa kamu ingin tinggal di tenda tanpa air dan listrik atau di atas atap yang tidak ada?” Sementara Huda mengalami ikatan tangan dan ditutupi matanya, serta mendapat ancaman pemaksaan relokasi dari Gaza.

Pengalaman mereka mencerminkan kondisi yang dialami banyak warga Palestina yang hendak kembali: perlakuan kasar, penghinaan, dan batasan ketat yang bertujuan mengendalikan pergerakan mereka di perbatasan.

Dampak dan Hambatan bagi Warga Palestina

Sejak penyeberangan mulai beroperasi sebagian, lebih dari 120 orang telah berhasil melewati Rafah, mayoritas kembali ke Gaza. Namun ratusan lainnya, termasuk pasien yang membutuhkan perawatan medis khusus, tetap terhambat oleh pembatasan dan prosedur yang ketat.

Menurut otoritas kesehatan Palestina, lebih dari 18.500 pasien masih menunggu perlakuan medis yang tidak tersedia di Gaza akibat kehancuran wilayah itu pasca konflik. Israeil membenarkan aturan ketat ini dengan alasan keamanan, meskipun berbagai organisasi internasional mengkritik pendekatan tersebut sebagai bentuk kontrol yang mengekang.

Kondisi Barang Bawaan dan Perjalanan yang Menyakitkan

Selain perlakuan fisik dan psikologis, Rotana dan ibunya juga jadi korban penyitaan barang bawaan oleh pasukan Israel. Hampir semua barang yang dibawa untuk anak-anak mereka disita, termasuk mainan, headphone, dan makanan yang dijanjikan sebagai hadiah untuk anak-anak setelah masa sulit.

Setelah pengembalian barang disita dan interogasi panjang, keduanya akhirnya tiba di Gaza pada malam hari di sebuah rumah sakit di Khan Younis. Meskipun mengalami perlakuan berat, kebersamaan kembali dengan keluarga menjadi momen paling berharga yang tetap mereka jaga.

Catatan Organisasi Internasional

Komisi Internasional untuk Mendukung Hak Rakyat Palestina mengutuk keras pembatasan ketat di Rafah yang menurut mereka menjadikan perjalanan pulang sebagai prosedur simbolik tanpa pembukaan yang nyata. Mereka juga mengecam perlakuan kasar termasuk penganiayaan fisik, periksa badan yang merendahkan, penggunaan borgol lama, konfiskasi barang pribadi, dan ancaman penangkapan yang dialami warga Palestina.

Cerita Rotana dan Huda mencerminkan realitas rumit yang dialami warga Palestina di Rafah: betapapun sulit dan beratnya proses yang harus dilalui, mereka tetap teguh kembali ke tanah airnya. Pertanyaan mendasar tetap muncul: jika ini adalah rumah mereka, mengapa jalan untuk kembali begitu penuh rintangan dan penderitaan?

Terbaru