Pengaruh Israel Terhadap Keputusan AS Soal Perang Iran Diragukan Menjelang Konflik Memanas

Author: Qoo Media

Seiring semakin dekatnya potensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, sejumlah analis di Israel mulai mempertanyakan sejauh mana pengaruh negara mereka dalam menentukan arah keputusan AS. Hal ini muncul di tengah perubahan dinamika regional yang menunjukkan penurunan kapasitas Israel untuk mengendalikan situasi sejak beberapa bulan terakhir.

Analisis Ori Goldberg menyoroti tudingan dari kubu oposisi yang menuduh perdana menteri Israel, Benjamin Netanyahu, terlalu cepat menyudahi perang di Gaza demi memenuhi tekanan dari Presiden AS saat itu, Donald Trump. Israel disebut kehilangan wilayah operasionalnya di Lebanon dan pembatasan terhadap kebebasan bergerak di Suriah. Kini, Israel hanya memiliki kemampuan terbatas untuk menekan kelompok Palestina, namun keterlibatannya di Gaza semakin dibatasi oleh campur tangan negara lain seperti Qatar, Turki, dan Mesir.

Penurunan Pengaruh Israel di Kawasan

Beberapa tokoh senior Israel, termasuk Netanyahu, memang masih berkomunikasi langsung dengan pemerintahan Trump terkait kemungkinan serangan ke Iran. Namun, para pengamat menilai kemampuan Israel dalam mengarahkan perkembangan regional semakin berkurang. Setelah dua tahun konflik berdarah di Gaza yang menyebabkan lebih dari 71.800 korban jiwa Palestina, AS mengambil peran dominan dalam menentukan langkah strategis di wilayah tersebut, termasuk keputusan mengizinkan Turki dan Qatar menjadi bagian dari badan pengelola Gaza meskipun Israel keberatan.

Di Suriah, ambisi Israel untuk melemahkan pemerintah Presiden Ahmed al-Sharaa juga dihalangi oleh kebijakan Gedung Putih yang kini mendorong Netanyahu agar berdamai dengan Damaskus. Sementara di Lebanon, peran AS sangat krusial, bahkan kemungkinan bentrokan antara Hezbollah dan Israel pun sangat bergantung pada persetujuan Washington.

Ketidakpastian Pengaruh Israel Terhadap Kebijakan AS Terhadap Iran

Keraguan muncul terkait seberapa besar pengaruh Israel terhadap keputusan AS dalam menghadapi Iran. Beberapa pihak menyatakan kemungkinan Washington akan mengambil pendekatan tanpa memperhatikan kekhawatiran Israel, bahkan membuka negosiasi dengan rezim Iran tanpa melibatkan Israel secara signifikan. Mitchell Barak, mantan penasihat Netanyahu, menyatakan bahwa Trump bersifat transaksional dan mungkin akan memilih solusi diplomatik yang menguntungkan dirinya sebagai pembawa perdamaian, namun meninggalkan rezim Iran berdiri dan terus membahayakan Israel.

Perang Sebagai Alat Pengalihan Masalah Politik Dalam Negeri Netanyahu

Analis Yossi Mekelberg dari Chatham House menggambarkan Iran sebagai “serigala jahat” bagi Israel yang dapat menjadi alasan untuk konflik berskala besar. Ia berpendapat bahwa perang dengan Iran dapat mengalihkan perhatian publik dari masalah internal serius yang dihadapi Netanyahu, seperti penyelidikan atas kegagalan pemerintah dalam menghadapi serangan Hamas di Oktober, upaya untuk melemahkan pengawasan hukum, serta sejumlah persidangan korupsi yang sedang berjalan. Mekelberg mengutip pepatah Ibrani yang berarti “orang benar pekerjaannya dilakukan oleh orang lain” untuk menggambarkan situasi ini tanpa menyatakan bahwa Netanyahu itu benar.

Ketakutan dan Persepsi Publik Mengenai Perang dengan Iran

Seberapa besar dukungan publik Israel untuk konfrontasi dengan Iran belumlah pasti. Meskipun Israel telah berhasil memberi kerusakan signifikan terhadap Iran selama konflik yang dimulai tahun lalu, Iran juga mampu menembus pertahanan Israel berulang kali, menunjukkan ketidakamanan bagi warga Israel akibat konflik regional yang terus berkembang.

Menurut Ori Goldberg, ancaman perang seringkali digunakan Netanyahu untuk mencapai tujuannya tanpa harus benar-benar melancarkan perang. Netanyahu dianggap lebih fokus bertahan sebagai pemimpin daripada mengejar langkah-langkah agresif. Ketiadaan pesaing politik yang kredibel dan risiko melemahkan posisi diplomatik Israel di hadapan AS membuat perang belum tentu menjadi pilihan.

Ringkasan Pengaruh dan Dinamika Hubungan AS-Israel

  1. Israel mengalami pengurangan pengaruh di Lebanon, Suriah, dan Gaza di bawah kontrol AS.
  2. AS memainkan peran utama dalam menentukan kebijakan terkait Gaza dan potensi konflik di Lebanon.
  3. Hubungan langsung Netanyahu dengan AS masih berlangsung, namun pengaruhnya atas keputusan AS mulai diragukan.
  4. Spekulasi mengenai perang dengan Iran juga terkait kepentingan politik dalam negeri Israel.
  5. Ketakutan publik terhadap perang nyata belum terkonfirmasi sebagai dukungan kuat terhadap konflik baru.

Ketidakpastian sikap AS terhadap Iran dan menurunnya suara Israel dalam menentukan kebijakan kawasan menandai perubahan besar dalam lanskap geopolitik Timur Tengah. Dinamika ini memberikan gambaran kompleks mengenai bagaimana Israel kini harus beradaptasi dengan peran yang lebih terbatas, sementara ancaman keamanan inklusif masih terus membayangi stabilitas regional.

Terbaru