Serangan dari tank dan serangan udara Israel menewaskan 24 warga Palestina, termasuk tujuh anak-anak, di Jalur Gaza pada Rabu, menurut keterangan dari pejabat kesehatan setempat. Insiden ini menjadi kekerasan terbaru yang merusak gencatan senjata yang sudah berlangsung hampir empat bulan di wilayah tersebut.
Salah satu korban tewas adalah seorang paramedis yang sedang memberikan bantuan pada korban serangan di kota Khan Younis, yang kemudian menjadi sasaran serangan kedua di lokasi yang sama. Di Gaza City, sebuah serangan lain juga menewaskan seorang bayi berumur lima bulan, menurut data dari pejabat kesehatan.
Serangan-serangan ini terjadi beberapa hari setelah Israel membuka kembali pintu perbatasan utama Gaza yang menghubungkan dengan Mesir, sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat. Pembukaan perbatasan ini dinilai sebagai langkah besar dalam proses pemulihan setelah konflik berkepanjangan.
Seorang warga, Abu Mohamed Habouch, menyatakan kesedihan mendalamnya saat pemakaman keluarga yang menjadi korban serangan tank. Ia mengungkapkan, “Saat kami tertidur di rumah, tank meluncurkan tembakan yang mengenai rumah kami. Anak-anak kami gugur — anak saya, keponakan saya laki-laki dan perempuan. Kami adalah orang-orang damai dan tidak terlibat apa pun.”
Tenda-tenda yang dihuni pengungsi di Mawasi, sebuah daerah di pesisir dekat Khan Younis, hancur akibat serangan tersebut. Hampir seluruh populasi Gaza yang berjumlah lebih dari dua juta jiwa terpaksa mengungsi akibat peperangan.
Pihak militer Israel menyatakan serangan itu sebagai respons terhadap serangan oleh militan Palestina yang menembaki pasukan Israel di dekat garis gencatan dengan Hamas. Militer Israel melaporkan seorang tentara mereka mengalami luka parah akibat tembakan tersebut, yang dianggap sebagai pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata.
Pernyataan resmi Israel kemudian menyebut bahwa salah satu serangan menargetkan seorang komandan tinggi Hamas. Selain itu, seorang komandan dari kelompok sekutu Hamas, Islamic Jihad, dan putrinya yang berusia 11 tahun turut menjadi korban dalam serangan itu. Militer Israel memastikan kematian komandan Islamic Jihad tersebut.
Hamas mengecam tindakan Israel yang dianggapnya mengancam stabilitas gencatan senjata. Dalam sebuah pernyataan, Hamas menyerukan adanya tekanan internasional yang segera untuk menghentikan pelanggaran tersebut.
Pembukaan kembali perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir menjadi hal penting di balik kesepakatan gencatan senjata yang diinisiasi sejak Oktober lalu. Namun, beberapa pasien Palestina yang hendak menyeberang melaporkan penundaan izin dari Israel, meski otoritas yang mengatur akses wilayah ini, COGAT, menyebut pintu perbatasan tetap terbuka.
Pihak COGAT menyatakan belum menerima data yang diperlukan dari Organisasi Kesehatan Dunia demi memuluskan proses penyeberangan pasien. Sementara sumber keamanan Mesir menyebut, masalah keamanan di area Rafah sempat menjadi alasan penutupan sementara, tetapi kini telah diselesaikan dan aktivitas di perbatasan kembali berjalan.
Jumlah warga Gaza yang berhasil menyeberang ke Mesir dalam beberapa hari terakhir cukup signifikan. Pada hari Selasa, 16 pasien dan 40 pendamping mereka telah melintas ke Mesir. Keadaan ini dianggap bagian dari fase pertama dari rencana yang diajukan oleh Presiden Amerika Serikat sebagai upaya menghentikan konflik bersenjata.
Pada hari Sabtu sebelumnya, serangan serupa dari Israel juga menewaskan lebih dari 30 orang Palestina setelah ditemukannya sejumlah militan yang muncul dari terowongan di wilayah Gaza yang dikontrol Israel.
Dalam upaya melanjutkan tahap kedua dari gencatan senjata, Israel menyerahkan jenazah 54 warga Palestina dan 66 kotak berisi sisa-sisa manusia kepada otoritas Gaza. Fase kedua ini menandai langkah negosiasi selanjutnya terkait pemerintahan dan rekonstruksi wilayah Gaza.
Masalah utama seperti penarikan pasukan Israel dari lebih dari separuh wilayah Gaza yang mereka kuasai dan pelucutan senjata Hamas masih belum terselesaikan. Gencatan senjata yang rapuh ini terus diwarnai insiden kekerasan yang hampir terjadi setiap hari.
Sejak gencatan senjata mulai pada bulan Oktober, tembakan Israel telah menewaskan sekitar 560 orang, sebagian besar adalah warga sipil menurut data kesehatan Gaza. Sementara itu, militan Palestina telah menewaskan empat tentara Israel selama periode yang sama, menurut otoritas Israel.





