Malnutrisi Capai Level Kelaparan di Dua Wilayah Baru Darfur Utara, Sudan: Ancaman Krisis Pangan

Malnutrisi akut kini mencapai tingkat kelaparan di dua wilayah baru di Darfur Utara, Sudan, menurut pemantau krisis pangan global. Lokasi tersebut adalah Um Baru dan Kernoi, di mana tingkat malnutrisi pada anak-anak di bawah lima tahun melebihi ambang batas kelaparan yang ditetapkan oleh Integrated Food Security Phase Classification (IPC).

IPC, sistem klasifikasi pangan berbasis data PBB, menyebut kondisi ini sebagai peringatan kritis meskipun bukan klasifikasi resmi kelaparan. Wilayah Um Baru memperlihatkan angka penderita hampir dua kali lipat dari batas kelaparan, menandakan situasi darurat kesehatan masyarakat yang serius dan tidak boleh diabaikan.

Konflik sipil yang berlangsung hampir tiga tahun antara Rapid Support Forces (RSF) dan militer Sudan menjadi pemicu utama krisis ini. Konflik tersebut memaksa jutaan orang mengungsi dan meningkatkan kekerasan dengan latar etnis, khususnya di Darfur Utara yang berbatasan dengan Chad.

Kedua wilayah yang kini mengalami kelaparan ini sebelumnya menjadi tujuan para pengungsi yang melarikan diri dari Al-Fashir, di mana kelaparan telah tercatat sejak akhir tahun lalu. RSF menguasai Al-Fashir dan kemudian terjadi bentrokan di Kernoi dan Um Baru saat mereka berusaha memperluas kontrol wilayah.

Jumlah kasus malnutrisi akut di Sudan meningkat drastis menjadi sekitar 4,2 juta kasus, naik dari 3,7 juta pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan memburuknya krisis pangan yang terkait langsung dengan ketidakstabilan keamanan dan gangguan produksi pangan akibat perang.

Akses layanan kesehatan yang amat terbatas di Darfur Utara memperparah dampak malnutrisi. Hanya sekitar 25% anak-anak dengan malnutrisi akut parah di Kernoi yang tercatat dalam program pengobatan. Gangguan distribusi makanan dan produksi pangan juga meluas ke Greater Kordofan, wilayah lain yang terdampak konflik.

Bantuan kemanusiaan menghadapi tantangan serius tidak hanya dari risiko keamanan di lapangan, tetapi juga dari pemangkasan dana donor global. CARE International, salah satu organisasi yang bekerja di Sudan, mengungkapkan bahwa pembiayaan yang terpangkas membuat respons kemanusiaan semakin terbatas.

Elizabeth Courtney, Penasihat Advokasi Kemanusiaan CARE International, menegaskan bahwa kelaparan kini mengakar kuat di beberapa wilayah. Dia memperingatkan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan pasokan bantuan sebelum musim hujan dan periode kekurangan pangan yang biasa terjadi.

Dengan situasi yang semakin memburuk, akses bantuan yang memadai serta pendanaan internasional menjadi krusial untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah kondisi kelaparan meluas lebih jauh. Upaya pemantauan dan intervensi dini harus terus ditingkatkan guna mengurangi dampak bencana pangan di Sudan utara.

Exit mobile version