Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengungkapkan bahwa tingkat korban jiwa pasukan Rusia jauh lebih besar dibandingkan pasukan Ukraina dalam satu bulan terakhir. Zelensky menyebut, untuk setiap prajurit Ukraina yang gugur, sebanyak 47 tentara Rusia tewas dalam pertempuran bulan lalu.
Menurut pernyataan Zelensky, diperkirakan sekitar 9.000 tentara Ukraina meninggal dunia dalam setahun terakhir, rata-rata 750 korban setiap bulan. Sementara itu, pihak Ukraina mengklaim bahwa Rusia kehilangan sekitar 35.000 tentara hanya dalam satu bulan. Data ini menegaskan tingginya harga yang harus dibayar Rusia dalam konflik yang berlangsung.
Harga Tinggi Perang bagi Rusia
Zelensky menyatakan bahwa Ukraina menyadari betul biaya mahal yang harus ditanggung Rusia untuk setiap meter dan kilometer tanah yang mereka coba kuasai. Dia mengungkapkan bahwa Rusia harus mengorbankan sekitar 800.000 tentara lagi jika ingin menaklukkan wilayah timur Ukraina secara keseluruhan. Dia meramalkan perang tersebut akan berlangsung setidaknya dua tahun dengan kemajuan pasukan Rusia yang sangat lambat.
Namun, Zelensky juga menilai bahwa Rusia tidak akan mampu bertahan sampai waktu tersebut. Hal ini menunjukkan tekanan besar dan keterbatasan sumber daya militer Rusia dalam pertempuran yang terus berkepanjangan.
Pertempuran di Wilayah Donbas
Rusia masih menuntut agar Ukraina menyerahkan wilayah Donbas yang sekitar 20 persen masih berada di bawah kontrol Ukraina. Presiden Vladimir Putin sempat menyatakan perang akan berakhir jika Kyiv menarik diri dari wilayah tersebut. Namun, Zelensky menegaskan penolakan Ukraina untuk menyerah pada tuntutan itu.
Seorang penasihat keamanan senior Ukraina, Rustem Umerov, menggambarkan diskusi dengan delegasi Rusia berjalan “bermakna dan produktif” meski belum menghasilkan terobosan signifikan. Pembicaraan masih berlangsung sebagai upaya menemukan solusi damai.
Strategi dan Taktik di Medan Perang
Data menunjukkan bahwa pertempuran saat ini lebih didominasi oleh kampanye pengurasan kekuatan (attrition) daripada pencapaian wilayah signifikan. Menurut analisis dari Centre for Strategic and International Studies, pasukan Rusia hanya maju antara 15 hingga 70 meter per hari sejak awal tahun ini. Kecepatan ini dianggap lebih lambat daripada banyak operasi militer selama Perang Dunia I.
Secara khusus, serangan Rusia di Chasiv Yar, Donetsk, yang dimulai pada Februari, hanya berhasil maju sekitar 10 kilometer setelah dua tahun perang. Kota ini pun masih dalam kendali pasukan Ukraina. Di daerah lain, seperti Kupiansk di wilayah Kharkiv sekitar 150 kilometer dari sana, Rusia maju sekitar 23 meter per hari sejak November lalu.
Taktik Serangan yang Berat dan Korban yang Tinggi
Taktik yang digunakan Rusia sering digambarkan sebagai “penggilingan daging” (meat-grinder), di mana tentara dikirim secara berulang dalam gelombang besar untuk menyerbu posisi pertahanan Ukraina yang kuat. Banyak dari pasukan depan terdiri dari narapidana yang direkrut dan tentara cadangan dengan pelatihan minim.
Serangan gelombang ini bertujuan untuk melemahkan pertahanan dan menekan posisi front secara terus menerus. Perang sering berubah menjadi pertempuran jarak dekat hingga pertempuran jalanan yang disertai dukungan tank dan kendaraan lapis baja. Setelah itu, artileri berat digunakan untuk mengkonsolidasikan kemenangan dan mencegah serangan balik.
Dampak pada Moril dan Sumber Daya Pasukan
Strategi tersebut bertujuan untuk menekan kekuatan Ukraina sampai kehilangan moril dan pasokan memaksa mereka menyerah. Namun, cara ini menyebabkan korban besar bagi pasukan Rusia. Ukraina memperkirakan Rusia bisa kehilangan lebih dari 1.000 tentara per hari dalam serangan semacam ini.
Perang yang telah berlangsung hampir empat tahun ini terus menyebabkan peningkatan jumlah korban. Beberapa putaran pembicaraan damai dilakukan meski belum menemukan titik terang. Selain itu, janji mantan Presiden AS, Donald Trump, untuk mengakhiri konflik juga belum terwujud.
Situasi ini memperlihatkan betapa mahalnya pertempuran yang terjadi di Ukraina, khususnya di wilayah timur, dengan dampak besar pada kedua belah pihak namun terutama pada pasukan Rusia yang menghadapi kematian dalam jumlah sangat besar.
