Kekerasan Pemukim Israel Picu Pengungsian Terbesar di Tepi Barat Sejak Oktober 2026, UN Laporkan

Israeli settler violence di Tepi Barat yang diduduki telah memicu pengungsian hampir 700 warga Palestina selama Januari, tingkat tertinggi sejak perang yang pecah pada Oktober lalu di Gaza. Menurut PBB, serangan dan intimidasi oleh kelompok pemukim semakin memperparah krisis pengungsian di wilayah tersebut.

Badan Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) melaporkan bahwa setidaknya 694 warga Palestina dipaksa meninggalkan rumah mereka dalam satu bulan ini. Angka tersebut mencatat lonjakan penyebab pengungsian terbesar sejak konflik Israel di Gaza mulai berlangsung.

Pengungsian Massal di Komunitas Ras Ein al-Auja

Sebanyak 600 dari pengungsi ini berasal dari komunitas penggembala di Lembah Yordan, Ras Ein al-Auja. Mereka mengungsi setelah berbulan-bulan mengalami intimidasi dan kekerasan yang berkelanjutan oleh kelompok pemukim. OCHA menyebutkan bahwa ini adalah perpindahan komunitas tunggal terbesar akibat serangan pemukim dan pembatasan akses selama tiga tahun terakhir.

Menurut data OCHA, Januari juga menandai angka pengungsian terbesar kedua dalam satu bulan sejak puncak pada Oktober lalu yang mencapai 1.032 orang. Permasalahan ini menjadi tanda meningkatnya ketegangan di wilayah Tepi Barat, yang telah diduduki Israel sejak 1967.

Taktik Pemukim untuk Menguasai Lahan Pertanian

Laporan organisasi Israel Peace Now tahun 2025 menunjukkan bagaimana pemukim menggunakan praktik menggembalakan ternak secara agresif untuk memperluas kehadiran mereka di atas tanah pertanian milik warga Palestina. Strategi ini sekaligus membatasi akses warga Palestina ke lahan yang mereka gunakan selama ini.

Kelompok pemukim juga diketahui sering merusak properti dan kebun zaitun milik warga Palestina, serta melakukan kekerasan yang mengakibatkan cedera dan kematian warga sipil. Semua aksi ini kerap berlangsung dengan dukungan atau setidaknya toleransi dari militer Israel.

Dukungan Pemerintah Israel dan Kurangnya Tekanan Internasional

Peace Now menegaskan bahwa pemukim melakukan intimidasi dan kekerasan dengan sokongan pemerintah dan militer Israel. Tidak ada tekanan signifikan dari komunitas internasional kepada otoritas Israel untuk menghentikan situasi tersebut. Hal ini menyebabkan rasa impunitas di kalangan pemukim yang merasa bebas melakukan aksi mereka.

Allegra Pacheco, Direktur West Bank Protection Consortium, menyoroti kurangnya perhatian dunia terhadap Tepi Barat dalam situasi krisis saat ini. Ia mengatakan, “Semua mata tertuju ke Gaza, sementara pembersihan etnis berlangsung di Tepi Barat tanpa ada yang mengawasi.”

Penggusuran Akibat Pembongkaran Rumah oleh Militer Israel

Selain kekerasan pemukim, pengungsian juga terjadi akibat pembongkaran rumah yang dilakukan militer Israel dengan alasan pembangunan tanpa izin. OCHA mencatat sebanyak 182 warga Palestina terdampak akibat pembongkaran tersebut selama Januari.

Saat ini, Tepi Barat menampung lebih dari 500.000 warga Israel yang tinggal di pemukiman yang dianggap ilegal menurut hukum internasional. Sementara itu, sekitar tiga juta warga Palestina tinggal di wilayah yang diduduki ini.

Situasi di Tepi Barat menunjukkan tren peningkatan pengungsian yang dipicu oleh kekerasan pemukim dan kebijakan pembongkaran rumah. Ini menambah beban kemanusiaan bagi komunitas Palestina yang sudah lama menghadapi ketidakpastian dan konflik berkepanjangan.

Berita Terkait

Back to top button