Finland kembali melatih tentaranya untuk memasang ranjau darat jenis anti-personnel sebagai respons terhadap ancaman dari Rusia, meskipun negara tersebut baru saja mengakhiri keanggotaannya dalam perjanjian internasional yang melarang penggunaan ranjau ini. Latihan ini berlangsung di tengah hutan bersalju, di mana para anggota militer mempelajari teknik menempatkan ranjau secara efektif untuk mempertahankan wilayah perbatasan.
Di Brigade Kainuu, yang bertugas menjaga sepanjang 1.340 kilometer garis perbatasan Finlandia dengan Rusia, para tentara belajar menyambungkan kawat tipis untuk mengaktifkan ranjau yang tersembunyi. Sebanyak 500 tentara aktif, 2.500 wajib militer, dan 5.000 cadangan secara rutin mengikuti pelatihan di markas tersebut setiap tahun.
Setelah bergabung dengan NATO, Finlandia memutuskan untuk menarik diri dari Konvensi Ottawa yang melarang penyimpanan dan penggunaan ranjau anti-personnel. Sejak Januari, Finlandia bebas memproduksi dan menyebarkan ranjau tersebut sesuai kebutuhan militernya. Langkah ini selaras dengan negara-negara Baltik dan Polandia yang menghadapi ancaman serupa dari Rusia.
Menurut Letnan Joona Ratto, penggunaan ranjau merupakan taktik defensif penting yang memungkinkan pasukan menghentikan musuh atau memberikan peringatan dini. Ini memberi waktu bagi tentara untuk mempersiapkan diri menghadapi pertempuran langsung. Ratto menegaskan, meskipun kontroversial, ranjau tetap menjadi alat penting dalam strategi militer Finlandia.
Kolonel Riku Mikkonen menambahkan bahwa konflik di Ukraina menunjukkan bahwa ranjau meskipun sudah tua, tetap efektif di medan perang masa kini. Ia menekankan bahwa pengalaman sembilan bulan perang parit memperkuat pentingnya penggunaan ranjau dalam pertempuran kontak langsung. Sejauh ini, Finlandia belum memiliki persediaan ranjau anti-personnel dan berlatih dengan ranjau Claymore yang mampu menghasilkan serpihan hingga jarak 50 meter.
Finlandia berencana untuk mulai memproduksi ranjau secara domestik dalam waktu dua tahun ke depan agar pasokan tetap terjamin terutama dalam situasi perang. Produksi lokal juga penting karena kurangnya penyuplai internasional, mengingat 162 negara masih terikat Konvensi Ottawa, dan negara-negara besar seperti AS dan Rusia juga tidak mengedarkan ranjau tersebut secara bebas.
Mikkonen menyebutkan keberadaan sekitar satu juta ranjau infanteri dalam stok sebelum Finlandia mengakhiri keterikatannya pada Konvensi Ottawa. Namun, rincian kebutuhan ranjau masa depan masih dalam proses peninjauan. Pemerintah Finlandia nantinya akan menentukan apakah ranjau disebar sepanjang perbatasan timur berdasarkan situasi krisis.
Pentingnya persiapan matang diungkapkan dengan rencana penyusunan peta ranjau secara detail, baik manual maupun melalui aplikasi smartphone yang sedang dikembangkan oleh militer. Meski ranjau modern dapat dilengkapi dengan mekanisme penonaktifan otomatis, militer Finlandia cenderung tidak mengandalkan fitur ini karena potensi perangnya bisa berkepanjangan, sedangkan ranjau otomatis hanya aktif selama beberapa bulan.
Penggunaan ranjau memang menimbulkan risiko terhadap keselamatan warga sipil pascaperang. Namun dari sudut pandang pertahanan, alat ini dianggap sebagai “kejahatan yang perlu” untuk memperkuat keamanan nasional dan memberikan perlindungan maksimal terhadap potensi invasi yang mungkin terjadi di wilayah perbatasan Finlandia.





