Pemilihan umum di Bangladesh akan menjadi momen penting setelah gelombang protes yang berhasil menggulingkan pemerintahan lama. Shafiqur Rahman, pemimpin partai Islam terbesar di negara tersebut, kini tampil sebagai kandidat utama yang berambisi meraih kekuasaan perdana menteri untuk pertama kalinya.
Rahman, yang sudah mengikuti tiga kali pemilihan dan selalu gagal, berharap kali ini keberuntungannya berubah. Pemilu kali ini menjadi tonggak bersejarah karena pertama kalinya diadakan setelah Sheikh Hasina tersingkir akibat aksi massa yang menentang pemerintahannya selama 15 tahun.
Profil Shafiqur Rahman dan Ambisinya
Rahman adalah sosok berusia 67 tahun yang juga dikenal sebagai dokter dan penceramah. Ia memimpin aliansi gabungan 11 partai Islam yang mengusungnya sebagai calon utama. Dalam kampanyenya, Rahman menegaskan komitmen terhadap pembaruan moral masyarakat dan menjanjikan pemerintahan bebas korupsi dengan tata kelola yang baik.
Sepanjang karir politiknya, Rahman telah berulang kali mencalonkan diri dalam pemilihan parlemen sejak 1996 namun belum pernah menang. Ia kini mencoba membuka sejarah baru dengan kemungkinan membentuk pemerintahan Islam pertama di Bangladesh, negara yang secara konstitusi menganut sistem sekuler.
Kontroversi dan Kekhawatiran Publik
Pernyataan Rahman mengenai peran wanita dalam masyarakat memicu reaksi keras. Ia pernah mengatakan ingin mendorong ibu rumah tangga agar tetap di rumah, yang kemudian disikapi negatif oleh publik terutama kaum perempuan. Aksinya mendapat protes di jalan-jalan ibu kota Dhaka, dengan wanita-wanita membawa sapu sebagai simbol penolakan.
Walaupun Rahman berusaha meredakan kekhawatiran lewat pernyataan yang lebih hati-hati dan menghapus posting kontroversial dari media sosial, skeptisisme tetap ada. Beberapa pengamat menilai posisi partai Islam yang dipimpinnya masih ambigu terutama soal hak-hak perempuan dan perlindungan terhadap minoritas keagamaan.
Dukungan dan Penolakan dari Berbagai Pihak
Partai Rahman berafiliasi dengan kelompok Islam yang memiliki kemiripan ideologi dengan Ikhwanul Muslimin. Mereka merasa bahwa momentum saat ini merupakan peluang terbaik dalam beberapa dekade untuk menguasai politik nasional. Meski kelompoknya dianggap memiliki rekam jejak kontroversial, terutama terkait dukungan terhadap Pakistan dalam perang kemerdekaan Bangladesh tahun 1971, dukungan mahasiswa di sejumlah universitas turut menguatkan posisi mereka.
Kepala redaksi surat kabar berhaluan kanan Naya Diganta menilai Rahman sebagai sosok inklusif dan bisa berakomodasi, yang menjadi kekuatan utamanya. Namun, komunitas minoritas yang mencapai hampir 10 persen dari populasi, sebagian besar adalah penganut Hindu, menyuarakan kekhawatiran tersendiri.
Rahman berjanji melindungi hak semua warga tanpa memandang kasta dan agama. Ia mencalonkan satu kandidat Hindu dan mengupayakan hubungan luar negeri yang seimbang, terutama dengan India. Namun, aliansinya juga terdiri dari elemen keras yang menentang aktivitas budaya yang dianggap bertentangan dengan nilai Islam, seperti festival musik dan teater, pertandingan sepak bola wanita, serta perayaan layang-layang.
Kekerasan juga pernah terjadi, termasuk perusakan makam dan bangunan sufi yang menjadi simbol toleransi di masyarakat Bangladesh. Ini menunjukkan tantangan serius dalam menjaga kerukunan di tengah dinamika politik yang sedang berlangsung.
Dengan latar belakang ini, pemilihan umum di Bangladesh menawarkan babak baru politik yang penuh dengan ketidakpastian. Hasilnya akan menentukan arah masa depan negara, terutama dalam menjaga keseimbangan antara identitas agama dan pluralisme sosial dalam masyarakat berpenduduk lebih dari 170 juta jiwa.





