Militer AS kembali melancarkan serangan mematikan terhadap sebuah kapal yang diduga terlibat dalam perdagangan narkoba di kawasan timur Samudra Pasifik. Serangan ini menewaskan dua orang dan berlangsung di jalur pelayaran yang dikenal sebagai rute penyelundupan narkoba.
Komando Selatan AS menyatakan bahwa kapal tersebut “beroperasi di sepanjang rute penyelundupan narkoba yang sudah diketahui” dan sedang terlibat dalam aktivitas narkoba saat diserang. Video yang dipublikasikan memperlihatkan kapal tersebut melaju sebelum meledak dan terbakar hebat.
Serangan ini terjadi beberapa jam setelah Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengklaim bahwa sejumlah kartel narkoba utama di wilayah tersebut “memutuskan menghentikan operasi narkotika secara permanen” akibat serangan kinetik yang efektif di kawasan Karibia. Namun, klaim tersebut tidak disertai rincian atau bukti pendukung berikut konfirmasi dari Komando Selatan maupun Pentagon.
Serangkaian serangan terhadap kapal narkoba ini telah berlangsung sejak September dan mengalami penurunan intensitas sejak Januari, menyusul penangkapan presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Pada bulan tersebut, hanya satu serangan dilakukan, berbeda dengan bulan Desember yang mencatat lebih dari selusin serangan kapal oleh militer AS.
Jumlah korban tewas akibat tindakan militer era pemerintahan Trump dalam serangan terhadap kapal-kapal narkoba mencapai 128 jiwa hingga kini. Angka ini termasuk 116 korban yang meninggal dunia langsung dari setidaknya 36 serangan sejak awal September di Laut Karibia dan Samudra Pasifik timur, ditambah 10 orang lainnya dipercaya meninggal setelah hilang di laut.
Di sisi lain, keluarga dua warga Trinidad dan Tobago yang tewas dalam serangan kapal bulan Oktober lalu mengajukan gugatan terhadap pemerintah federal AS. Mereka menuduh serangan tersebut sebagai kejahatan perang serta bagian dari "kampanye militer AS yang belum pernah terjadi dan jelas melanggar hukum." Gugatan ini diyakini sebagai kasus kematian salah pertama yang diajukan terkait operasi militer ini dan dapat menguji legitimasi hukum dari serangan tersebut.
Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Amerika Serikat sedang dalam “konflik bersenjata” dengan kartel narkoba di Amerika Latin. Ia membenarkan serangan militer ini sebagai eskalasi yang diperlukan untuk mengurangi aliran narkoba. Namun, pemerintahan Trump jarang memberikan bukti konkrit terkait klaim pembunuhan “narkoterroris” yang disampaikan.
Data Kunci Serangan Militer AS terhadap Kapal Narkoba:
- Total serangan sejak September: 36 serangan lebih
- Total korban tewas langsung: 116 orang
- Korban hilang dan diduga meninggal: 10 orang
- Total kematian termasuk hilang: 128 orang
- Wilayah serangan: Laut Karibia dan Samudra Pasifik timur
- Penurunan serangan:** Serangan berkurang sejak Januari setelah penangkapan pimpinan Venezuela
Operasi militer yang terus berlanjut ini menggambarkan upaya intensif AS dalam memperketat pengawasan dan penindakan terhadap jalur penyelundupan narkoba internasional. Namun, beragam kritik hukum dan kemanusiaan mengiringi langkah tersebut, terutama terkait menyebabkan kematian warga sipil dan legalitas penggunaan kekuatan militer di luar negeri.
Aktivitas tersebut menjadi sorotan internasional dalam konteks perang melawan narkotika sekaligus pergolakan hukum maupun etika penggunaan kekuatan militer AS terhadap kelompok kriminal transnasional. Upaya penuntasan kasus gugatan serta perkembangan operasi militer berikutnya akan menjadi indikator signifikan bagi arah kebijakan AS di kawasan tersebut.





