Singapore Airlines (SIA) mengambil peran penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim industri penerbangan lewat penerapan bahan bakar ramah lingkungan. Maskapai ini berkomitmen menggunakan Sustainable Aviation Fuel (SAF), yang mampu mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 80% dibandingkan bahan bakar jet konvensional. Strategi ini bukan sekadar simbol, tapi langkah konkret dalam mengurangi jejak karbon penerbangan.
Pada kuartal pertama 2025, SIA Group membeli 1.000 ton SAF dari kilang Neste di Singapura. Pasokan ini langsung diantarkan ke Bandara Changi, memperkuat ketahanan rantai pasokan energi hijau di Asia Tenggara. Selain itu, mereka mengadopsi model Book & Claim dengan World Energy, memungkinkan klaim pengurangan emisi secara fleksibel tanpa batasan geografis.
Strategi Kolaborasi dan Pengembangan Ekosistem Hijau
SIA menilai kolaborasi sebagai kunci keberhasilan transisi hijau industri penerbangan. Chief Sustainability Officer SIA, Lee Wen Fen, menyatakan bahwa melalui sinergi dengan berbagai pemasok, mereka mampu memahami jalur menuju ekosistem penerbangan berkelanjutan secara lebih mendalam. Selain pengadaan SAF, Singapore Airlines juga aktif dalam kampanye internasional seperti Green Fuel Forward, yang mendorong kebijakan dan kemitraan global demi langit yang tetap bersih.
Selain kerjasama dengan Neste dan World Energy, SIA memulai kemitraan strategis jangka panjang dengan Aether Fuels. Nota Kesepahaman ini menargetkan pengadaan SAF berbasis teknologi Aether Aurora™, yang mengolah limbah karbon menjadi bahan bakar jet rendah emisi dengan efisiensi produksi lebih tinggi dan pengurangan gas rumah kaca minimal 75%. CEO Aether Fuels, Conor Madigan, mengapresiasi visi dekarbonisasi SIA yang mempercepat komersialisasi teknologi inovatif ini.
Target dan Komitmen Jangka Panjang
SIA menargetkan penggunaan SAF mencapai 5% dari total bahan bakar pada tahun 2030. Angka ini menjadi fondasi penting dalam roadmap mereka menuju Net Zero Carbon Emissions pada tahun 2050. Komitmen ini menegaskan bahwa kenyamanan dan kualitas pelayanan tidak boleh mengorbankan lingkungan. Sebaliknya, SIA memposisikan diri sebagai benchmark maskapai global yang ramah lingkungan sekaligus kompetitif.
Singapura, melalui peran SIA, menciptakan lingkungan kondusif untuk inovasi teknologi iklim. Phil Inagaki, Board Chair Aether Fuels, menilai kerja sama mereka dengan SIA sebagai "kecocokan alami" untuk mengakselerasi kemajuan teknologi hijau. Inisiatif ini diyakini mampu membentuk ekosistem penerbangan yang lebih utuh dan berkelanjutan.
Membangun Masa Depan Penerbangan Berkelanjutan
Langkah SIA tidak hanya sebatas pengadaan bahan bakar hijau. Maskapai ini merancang ulang standar operasional dengan perpaduan model pengadaan langsung, mekanisme sertifikasi modern, dan dukungan terhadap teknologi frontier. Setiap liter SAF yang digunakan adalah bukti nyata bahwa penerbangan ramah lingkungan bukan hanya impian.
Dengan visi kuat dan kolaborasi luas, Singapore Airlines membawa industri penerbangan ke era baru yang hijau dan berkelanjutan. Transformasi ini memberikan harapan bahwa masa depan langit biru dapat dicapai tanpa jejak karbon, demi generasi yang akan datang.
Baca selengkapnya di: www.suara.com




