Israel Ingin Kurangi Ketergantungan pada Bantuan Militer AS dalam 10 Tahun Mendatang, Tantangan dan Strateginya

Israel tengah mengupayakan pengurangan ketergantungan pada bantuan militer Amerika Serikat yang sudah berlangsung selama puluhan tahun. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menargetkan pencapaian kemandirian militer dalam waktu sepuluh tahun, meskipun potensi konflik regional masih sangat tinggi.

Israel menerima bantuan militer tahunan dari Amerika sebesar 3,3 miliar dolar AS, ditambah sekitar 500 juta dolar AS untuk dukungan pertahanan rudal. Bantuan ini krusial mengingat ancaman dari negara-negara tetangga seperti Iran, Turki, dan Suriah yang kerap memunculkan ketegangan.

Alasan Israel Mengurangi Ketergantungan pada AS

Salah satu alasan utama di balik keputusan Israel adalah keinginan untuk menjadi negara yang mandiri dan tidak terlalu terikat pada kebijakan luar negeri Amerika. Netanyahu menyatakan bahwa Israel telah "dewasa" dan mengembangkan kemampuan teknologinya sehingga bisa mengurangi ketergantungan pada bantuan asing.

Relasi militer yang bersifat "patronase" dianggap membatasi kebebasan strategis Israel. Pengamat Dr. Raphael BenLevi menyebut Israel ingin beralih dari figur "klien" menjadi mitra sejati dalam bidang pertahanan. Ia memperkirakan biaya tambahan yang dikeluarkan Israel jika menanggalkan bantuan Amerika hanya sekitar 10 persen dari anggaran militernya, atau setara 0,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Israel.

Ketergantungan Israel pada Peralatan Militer Amerika

Meskipun Israel dikenal dengan inovasi teknologinya, sebagian besar alat utama perang, seperti jet tempur F-35, bom, tank, dan peluru artileri diproduksi di luar negeri, khususnya Amerika Serikat. Dalam konflik di Gaza yang berlangsung dua tahun terakhir, sebanyak 90.000 ton senjata dan perlengkapan militer dikirim dari AS melalui 800 penerbangan dan 140 pengiriman laut.

Transaksi pembelian ini dilakukan berdasarkan Memorandum of Understanding (MoU) 2016, yang mengharuskan Israel membelanjakan dana bantuan tersebut di dalam pasar AS. Sepanjang dekade sebelum 2023, 65,6 persen impor militer Israel berasal dari AS, diikuti oleh Jerman (29,7 persen) dan Italia (4,7 persen).

Persiapan Menuju Kemandirian Militer

Para ahli pertahanan Israel seperti Dr. Danny Gold menyatakan bahwa sejak tahun 1970-an negara tersebut memang mengincar kemandirian militer. Namun, produksi alat berat seperti pesawat tempur masih terlalu sulit dibuat secara domestik dalam waktu pendek. Misalnya, baru-baru ini AS menyetujui penjualan 30 helikopter Boeing Apache untuk Israel.

Kesadaran untuk memperkuat industri pertahanan dalam negeri muncul sebagai solusi untuk mengatasi kemungkinan terburuk, yakni situasi perang berkepanjangan tanpa dukungan militer Amerika. Gaza menunjukkan bahwa teknologi canggih tidak cukup tanpa persediaan amunisi konvensional dalam jumlah besar.

Dinamika Politik AS dan Dampaknya bagi Israel

Ketidakpastian dukungan militer AS juga dipengaruhi oleh perubahan politik dalam negeri Amerika Serikat. Pendukung garis keras slogan "America first" atau "Amerika di atas segalanya" lebih mengedepankan isolasionisme dan menentang pengeluaran dana besar bagi angkatan bersenjata negara asing. Selain itu, kelompok pemilih Evangelikal yang selama ini konsisten mendukung Zionisme kini mulai bergeser, dan muncul indikasi meningkatnya anti-Semitisme di kalangan beberapa tokoh politik AS.

Sementara itu, perjanjian MoU terkait bantuan militer Israel yang berlaku hingga 2028 masih dalam tahap negosiasi untuk periode selanjutnya. Pernyataan Netanyahu dipandang sebagai langkah strategis untuk meredakan ketegangan politik domestik, terutama hubungan dengan pendukung pentingnya di Amerika.

Tantangan Menuju Kemandirian

Transisi dari hubungan patronase menuju kemitraan yang setara memerlukan perubahan besar dalam produksi senjata dan perencanaan militer Israel. Berikut beberapa poin penting yang perlu dipertimbangkan:

  1. Meningkatkan kapasitas produksi amunisi dan perlengkapan militer dalam negeri secara bertahap.
  2. Mengelola peningkatan anggaran pertahanan hingga sekitar 10 persen untuk menggantikan bantuan AS.
  3. Memastikan teknologi pertahanan canggih tetap dapat diperoleh melalui kerja sama pembelian dari luar negeri.
  4. Mengantisipasi dinamika politik global dan domestik yang berdampak pada dukungan militer dari AS.

Langkah ini memungkinkan Israel memiliki kendali lebih besar atas kebijakan strategis dan kemampuan militernya sendiri. Walaupun demikian, Amerika Serikat masih akan menjadi mitra penting dalam hal teknologi dan peralatan perang kelas atas yang membutuhkan investasi dan pengembangan jangka panjang.

Perubahan mendasar dalam hubungan militer bilateral ini menggambarkan keinginan Israel untuk mengambil peran lebih mandiri dalam memastikan kelangsungan dan keamanan nasionalnya di tengah tantangan geopolitik yang terus berkembang.

Terkait