Tentara Meloni Tampak Kuat, Tapi Italia Hadapi Krisis Kesiapan dan Anggaran Pertahanan yang Serius

Giorgia Meloni, Perdana Menteri Italia, sering tampil dengan barisan pasukan elit dan kendaraan tempur canggih saat memeriksa operasi keamanan di Roma. Namun, kekuatan militer Italia sebenarnya jauh dari impresif ketika dihadapkan pada ancaman perang sungguhan.

Meskipun militer Italia tercatat sebagai salah satu yang terbaik di Eropa secara administratif, tingkat kesiapan operasional alat utama sistem senjata hanya sekitar 30 persen. Anggaran militer yang menurun menyebabkan kurangnya pelatihan serta kesiapan personel di tengah meningkatnya kebutuhan pertahanan di benua Eropa.

Tantangan Sistemik Militer Italia
Menurut Guido Crosetto, Menteri Pertahanan Italia, negara tersebut tidak siap menghadapi serangan besar, baik dari Rusia atau negara lain. Ia menegaskan bahwa defisit investasi selama dua dekade tidak dapat diperbaiki dalam waktu singkat. Sebagian besar anggaran militer malah habis untuk pengeluaran personal, termasuk pensiun, yang menyerap hingga 60 persen dari total belanja militer.

Rata-rata umur tentara Italia juga tergolong tinggi, yakni 38 tahun di angkatan darat dan 41 tahun di angkatan udara. Hal ini melemahkan efektivitas dan kesiapan pasukan di lapangan. Selain itu, hanya 50 dari 200 tank tempur Ariete yang beroperasi, padahal menurut standar NATO, Italia perlu mempertahankan minimal 250 tank.

Keseimbangan Politik dan Publik
Meloni harus menavigasi situasi politik yang kompleks di dalam negeri. Rekan koalisinya, Matteo Salvini dari Partai Liga, menentang peningkatan pengeluaran militer dan mengkritik dukungan Italia untuk Ukraina. Sementara itu, publik Italia menunjukkan sikap terbagi soal konflik tersebut. Hanya 15 persen rakyat yang mendukung pengiriman senjata hingga Rusia sepenuhnya dikalahkan, sedangkan mayoritas menginginkan perang segera berakhir, meski harus mengorbankan wilayah Ukraina.

Posisi Meloni di panggung internasional cukup kuat karena dukungannya kepada Ukraina, membedakan dirinya dari tokoh nasionalis lain seperti Viktor Orban. Namun, ia juga harus menghadapi tekanan dari Donald Trump dan pemerintah AS untuk meningkatkan pengeluaran militer Italia.

Ambisi dan Keterbatasan Anggaran
Italia telah berkomitmen untuk mencapai target pengeluaran militer NATO sebesar 2 persen dari PDB lebih awal pada tahun 2025. Namun, total pengeluaran pertahanan Italia saat ini baru sekitar 1,49 persen dari PDB, termasuk hanya 11 persen dialokasikan untuk operasi dan pemeliharaan. Untuk mencapai angka tersebut, Italia memasukkan berbagai pos pengeluaran seperti Carabinieri dan proyek infrastruktur militer ke dalam anggaran pertahanan.

S&P Global Ratings memperingatkan bahwa meningkatkan pengeluaran militer secara besar-besaran dapat memicu peningkatan utang yang berisiko bagi ekonomi, mengingat rasio utang publik Italia yang diperkirakan mencapai 137,7 persen terhadap PDB pada 2035. Misalnya, pada puncak krisis keuangan zona euro, rasio utang Yunani mencapai sekitar 160 persen.

Modernisasi Militer dan Keterlibatan Internasional
Italia memiliki kekuatan udara yang modern dengan jet tempur F-35 dan kekuatan angkatan laut yang signifikan di Mediterania, termasuk kapal induk dan kapal perusak. Pasukan Italia aktif dalam misi NATO dan Uni Eropa di berbagai wilayah, yang kerap digunakan untuk menunjukkan kontribusi militer meski kapasitas dalam negeri terbatas.

Rencana modernisasi termasuk pengembangan pesawat tempur generasi keenam bersama Inggris dan Jepang serta program pembaruan kekuatan tempur darat (A2CS). Namun, tantangan kurangnya anggaran untuk pemeliharaan dan latihan militer tetap menjadi hambatan utama.

Dilema Strategi dan Hubungan Transatlantik
Sebagai nasionalis, Meloni mengutamakan hubungan yang kuat dengan Amerika Serikat ketimbang perspektif konfrontasional terhadap Rusia. Hubungannya yang erat dengan Donald Trump, yang saat ini cenderung lebih lunak terhadap Moskow, menempatkan Meloni pada posisi sulit dalam Koalisi Pendukung Ukraina.

Meski mendapat julukan “Trump whisperer” karena kedekatannya dengan Trump, Meloni menolak mengirim pasukan Italia berperang di Ukraina dengan alasan risiko dan efektivitasnya. Hal ini menegaskan sikap pragmatisnya yang mengutamakan stabilitas dalam negeri dan hubungan internasional tanpa mengambil langkah militer langsung.

Kesulitan Menangani Keamanan Dalam Negeri
Selain pertahanan militer, Italia juga menghadapi masalah keamanan domestik seperti maraknya kejahatan di kota besar dan tantangan migrasi. Meloni dikenal keras dalam hal penanganan kriminalitas dan imigrasi ilegal, yang menjadi landasan popularitasnya. Namun, fokus anggaran pada isu tersebut seringkali mengorbankan investasi yang seharusnya dibuat untuk memperkuat pertahanan militer.

Ruang Gerak Terbatas di Tengah Krisis Ekonomi
Jika Italia ingin meningkatkan pengeluaran militernya secara signifikan, pemerintah harus berhadapan dengan keterbatasan fiskal akibat utang publik yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang lambat. Pemerintah berusaha keluar dari prosedur defisit berlebih Uni Eropa dan berharap mendapat kelonggaran bagi belanja pertahanan dalam beberapa tahun ke depan.

Melalui program pemulihan ekonomi dan fokus investasi pada industri pertahanan nasional seperti Leonardo, Italia berharap memperkuat diri secara bertahap. Namun, realitas fiskal dan dinamika politik domestik tetap menjadi hambatan penting bagi ambisi militer jangka panjang Italia.

Dengan berbagai permasalahan struktural, anggaran yang ketat, dan tekanan politik, kekuatan nyata militer Italia saat ini tampak jauh lebih terbatas daripada impresi kekuatan yang diperlihatkan secara publik. Meloni harus memadukan antara pragmatisme dalam kebijakan luar negeri dan kebutuhan reformasi pertahanan untuk menjawab tantangan masa depan.

Berita Terkait

Back to top button