Partai Bhumjaithai yang dipimpin Perdana Menteri Anutin Charnvirakul berhasil memperoleh kursi terbanyak dalam pemilihan umum di Thailand. Data sementara dari Komisi Pemilihan Umum menunjukkan partai ini meraih sekitar 193 kursi dari total 500 anggota Dewan Perwakilan Rakyat.
Pemilihan umum ini menandai kebangkitan partai konservatif di Thailand setelah beberapa tahun. Suasana politik saat pemilu dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi yang melambat dan sentimen nasionalisme yang meningkat, dengan tingkat partisipasi pemilih sekitar 65%.
Komposisi Dewan dan Koalisi Pemerintah
Dewan Perwakilan Rakyat Thailand terdiri atas 400 anggota yang dipilih langsung melalui daerah pemilihan dan 100 anggota dari daftar partai berdasarkan perolehan suara proporsional. Untuk membentuk pemerintahan, partai atau koalisi membutuhkan mayoritas sederhana, yakni 251 kursi.
Bhumjaithai diperkirakan perlu berkoalisi dengan satu atau dua partai lain agar Anutin dapat kembali menjabat perdana menteri. Partai Progresif, yang diprediksi unggul sebelum pemilu, berada di posisi kedua dengan 118 kursi. Mereka menguasai semua daerah pemilihan di Bangkok dan sebagian besar wilayah di sekitarnya.
Perolehan Suara dan Posisi Partai Lain
Dari perhitungan suara daftar partai, Progresif memperoleh sekitar 3,8 juta suara lebih banyak dibanding Bhumjaithai. Namun, keunggulan tersebut tidak dikonversi menjadi jumlah kursi terbanyak. Pheu Thai, partai populis yang diasosiasikan dengan mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, hanya mendapat 74 kursi.
Hasil tersebut dianggap mengecewakan bagi Pheu Thai, yang biasa mendominasi pemilu Thailand. Meski demikian, partai ini diprediksi akan bergabung dalam koalisi pemerintah yang dipimpin Bhumjaithai jika diajak.
Konteks Politik dan Strategi Pemilu
Anutin Charnvirakul resmi menjabat perdana menteri sejak September setelah sebelumnya menjabat dalam kabinet pendahulunya. Dia membubarkan parlemen dan menggelar pemilu baru akibat tekanan terhadapnya lewat mosi tidak percaya.
Ketegangan perbatasan dengan Kamboja memberi keuntungan politik bagi Anutin, yang menampilkan diri sebagai pemimpin di masa krisis. Fokus kampanyenya meliputi keamanan nasional dan stimulus ekonomi.
Menurut Napon Jatusripitak, direktur Center for Politics and Geopolitics di Bangkok, kemenangan Bhumjaithai tidak mengejutkan meski hasilnya berbeda dari survei sebelumnya. Partai ini memanfaatkan jaringan patronase di luar Bangkok dan area perkotaan utama. Mereka juga berhasil menghindari pembagian suara di antara sekutu lokal.
Referendum Konstitusi dan Implikasi Politik
Selain pemilu legislatif, warga Thailand juga memilih dalam referendum terkait penggantian konstitusi tahun 2017 yang disusun oleh militer. Sekitar 60% pemilih mendukung dimulainya proses penyusunan konstitusi baru oleh parlemen.
Keputusan tersebut membuka jalan bagi reformasi konstitusional yang membutuhkan proses panjang dan tahapan lanjut sebelum dapat diterapkan. Hasil ini menunjukkan adanya keinginan publik untuk memperbarui landasan hukum negara yang selama ini dikontrol oleh rezim militer.
Hasil pemilu ini mencerminkan dinamika politik Thailand antara kekuatan konservatif dan gerakan reformis yang terus bergulir. Formasi koalisi pemerintah dan proses perubahan konstitusional selanjutnya akan menjadi faktor penting dalam arah politik dan stabilitas negara ke depan.
