Ali Larijani, pejabat keamanan tertinggi Iran dan sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, baru saja tiba di Oman setelah perundingan nuklir yang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat di negara tersebut. Kedatangannya dilaporkan oleh media resmi Iran sebagai bagian dari upaya diplomatik pasca pembicaraan yang menitikberatkan pada program nuklir Tehran.
Larijani, yang merupakan penasihat dekat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, dijadwalkan untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, serta Sultan Oman, Haitham bin Tariq Al Said. Pertemuan ini difokuskan pada pembahasan perkembangan regional dan internasional terbaru serta penguatan kerja sama bilateral antara Iran dan Oman.
Peran Oman sebagai Mediator
Oman telah berperan sebagai fasilitator penting dalam pembicaraan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat. Negara ini menjadi tuan rumah pertemuan yang bertujuan mencegah konflik bersenjata di kawasan, terutama menyusul eskalasi ketegangan dan peningkatan kekuatan militer AS di wilayah tersebut. Upaya diplomatik ini merupakan buah kerja sama regional untuk meredakan potensi ketegangan yang dapat berakibat luas.
Pertemuan lanjutan telah dikonfirmasi, meski tanggal dan tempatnya belum diumumkan secara resmi. Iran telah melakukan komunikasi intensif dengan beberapa negara regional seperti Turki, Mesir, dan Arab Saudi untuk mengabarkan perkembangan terkini hasil negosiasi.
Sinyal Fleksibilitas Iran terkait Uranium
Perundingan menunjukkan tanda-tanda kemajuan meskipun masih terdapat beberapa pesan campuran dari kedua pihak. Kepala Badan Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menyatakan bahwa Iran bersedia untuk mengencerkan uranium yang diperkaya tinggi jika sanksi AS dicabut. Pernyataan ini mengindikasikan sikap yang lebih fleksibel di pihak Tehran terhadap permintaan utama Washington.
Eslami menegaskan bahwa keputusan untuk mengurangi kadar uranium 60 persen, yang hampir mencapai tingkat senjata nuklir, bergantung pada apakah semua sanksi akan dihapus sebagai timbal balik. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menuntut agar Iran sepenuhnya melarang pengayaan uranium, tuntutan yang ditolak oleh Tehran.
Menurut data dari Badan Energi Atom Internasional, persediaan uranium Iran yang diperkaya hingga 60 persen diperkirakan melebihi 440 kilogram. Iran tetap menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menekankan bahwa Iran ingin negosiasi terfokus hanya pada isu nuklir dan menyelesaikan masalah secara bertahap.
Tantangan dalam Negosiasi Nuklir
Salah satu kendala utama dalam pembicaraan adalah permintaan AS untuk memperluas negosiasi mencakup isu-isu lain seperti program rudal balistik dan aktivitas regional Iran. Sementara itu, Tehran menolak hal tersebut dan menginginkan pembahasan terpusat pada program nuklir saja. Posisi ini menimbulkan dinamika yang rumit dalam negosiasi kedua belah pihak.
Negosiasi yang sedang berlangsung ini merupakan kelanjutan dari lima putaran pembicaraan tahun lalu, yang sempat terhenti akibat perselisihan utama soal pengayaan uranium. Selain itu, ketegangan juga meningkat setelah serangan militer Israel yang didukung AS menarget fasilitas nuklir Iran di Natanz, Fordow, dan Isfahan.
Konteks Politik Regional
Kunjungan Larijani ke Oman juga bertepatan dengan rencana Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk bertemu Presiden AS Donald Trump. Pertemuan ini akan membahas negosiasi yang sedang berjalan antara Washington dan Tehran. Netanyahu diperkirakan akan menekan Trump agar lebih keras terhadap program rudal balistik Iran yang dianggap menjadi batas merah oleh Israel dan AS.
Washington terus berupaya memasukkan isu rudal balistik Iran dalam paket perundingan, namun Tehran bersikeras bahwa program senjata tersebut tidak dapat dinegosiasikan. Araghchi bahkan menegaskan bahwa program rudal Iran adalah “non-negotiable” dan tetap menjadi bagian dari kedaulatan pertahanan negara.
Kunjungan pejabat tinggi Iran ke Oman dan serangkaian komunikasi diplomatik ini mencerminkan intensitas upaya untuk menemukan titik temu dalam perundingan nuklir yang kompleks. Meski banyak tantangan, langkah-langkah ini menandakan adanya niat kedua pihak untuk melanjutkan dialog demi mencapai stabilitas di kawasan Timur Tengah.





