Krisis BBM Kuba Kritis, Rusia Kutuk Taktik ‘Kejam’ AS yang Perparah Situasi Energi Pulau itu

Krisis bahan bakar di Kuba kini berada pada titik kritis. Rusia memperingatkan bahwa langkah-langkah “menyulitkan” yang diterapkan Amerika Serikat memperparah masalah energi di pulau sosialis tersebut.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa Moskow tengah membahas berbagai solusi untuk memberikan bantuan yang diperlukan oleh Havana. Peskov menegaskan, situasi energi yang kritis ini adalah dampak langsung dari sanksi dan tekanan ekonomi AS.

Situasi memburuk setelah Presiden AS Donald Trump menghentikan pengiriman minyak dari Venezuela ke Kuba. Keputusan ini diambil usai upaya penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS yang gagal.

Selain itu, Trump juga mengancam akan memberlakukan tarif bagi negara lain, termasuk Meksiko, yang tetap mengirim bahan bakar ke Kuba. Sanksi dan tekanan ini menambah beban yang telah berpuluh tahun dirasakan oleh Kuba akibat kebijakan hukum AS.

Dampak langsung bagi Kuba

Krisis bahan bakar telah melumpuhkan sektor energi di Kuba, memaksa pemerintah memberlakukan langkah darurat. Berikut ini beberapa tindakan yang diambil oleh pemerintah Kuba:

  1. Penerapan minggu kerja empat hari untuk perusahaan milik negara.
  2. Pembatasan penjualan bahan bakar kepada masyarakat umum.
  3. Penutupan universitas sementara dan pengurangan jam sekolah.
  4. Peringatan penghentian suplai bahan bakar untuk penerbangan internasional.

Akibatnya, maskapai seperti Air Canada menghentikan penerbangan ke Kuba karena kekurangan bahan bakar penerbangan. Langkah ini menambah isolasi ekonomi dan sosial negara pulau tersebut.

Kritik dan solidaritas dari Rusia

Moskow menganggap langkah AS terhadap Kuba sebagai tindakan yang “tidak dapat diterima” dan berpotensi menimbulkan krisis kemanusiaan. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menegaskan solidaritas penuh dengan rakyat Kuba dan Venezuela. Ia menyatakan bahwa hanya rakyat di negara-negara tersebut yang berhak menentukan masa depan mereka.

Sementara itu, pemerintah Kuba menuduh AS menjalankan agresi kejam yang bertujuan mematahkan semangat rakyat Kuba. Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez menyebut situasi ini sangat berat dan memerlukan pengorbanan besar. Ia juga menyatakan kesiapan Kuba untuk berdialog, dengan catatan tidak di bawah tekanan.

Tanggapan Meksiko dan tekanan AS

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menentang sanksi yang merugikan rakyat Kuba dan berjanji akan terus mendukung pemulihan pengiriman minyak ke Kuba. Ia menilai tindakan menyulitkan rakyat tersebut sebagai tidak adil dan tidak manusiawi.

Namun, Meksiko harus berhati-hati menghadapi ancaman tarif dari Amerika Serikat, mitra dagang utamanya. Meski menjadi pemasok minyak terbesar kedua bagi Kuba setelah Venezuela, Meksiko berupaya menyeimbangkan dukungan diplomatik dengan kepentingan ekonominya sendiri.

Presiden Trump mengkategorikan Kuba sebagai “ancaman tidak biasa dan luar biasa” bagi keamanan nasional AS. Ancaman tarif juga ditujukan kepada negara-negara lain yang berani memasok bahan bakar ke Kuba, sebagai bagian dari tekanan maksimum bagi pemerintah Havana.

Krisis energi di Kuba ini menunjukkan persaingan geopolitik yang kompleks antara Amerika Serikat, Rusia, dan negara-negara di Amerika Latin. Dampak langsung terhadap kehidupan rakyat Kuba semakin nyata dan menjadi perhatian komunitas internasional. Tegangan pun semakin meningkat ketika solusi kemanusiaan dan dialog politik masih belum berjalan efektif.

Terkait