
Pemanasan iklim di Greenland mengancam cara hidup tradisional masyarakat setempat yang bergantung pada musim dingin dan musim berburu tradisional. Akibat suhu yang semakin hangat, es laut di wilayah barat daya Greenland sulit membeku tepat waktu, sehingga mengganggu kegiatan berburu anjing laut yang menjadi sumber penghidupan utama.
Sejak beberapa dekade terakhir, kawasan Arktik termasuk Greenland mengalami pemanasan hingga empat kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Penelitian dalam jurnal Nature menunjukkan sejak 1979, suhu di sana terus meningkat, membuat es laut semakin menyusut dan tidak stabil. Anjing laut sangat bergantung pada es laut untuk melahirkan dan beristirahat, sehingga keberadaan mereka menjadi semakin sulit ditemukan.
Para pemburu di Sisimiut, salah satu wilayah pesisir Greenland, kini harus menavigasi perairan fjord yang lebih jauh dari sebelumnya untuk menemukan anjing laut. Biasanya, mereka hanya perlu mencari di es laut yang menutupi laut terbuka, yang kini semakin jarang muncul. Malik Kleist, pemburu berusia 37 tahun, menyampaikan bahwa kondisi laut yang tanpa es meningkatkan risiko akibat gelombang dan angin kencang.
Dampak suhu hangat juga terlihat dari catatan Badan Meteorologi Denmark yang mencatat suhu di Stasiun Summit, titik tertinggi di lapisan es Greenland, naik hingga 8,1 derajat lebih hangat dari rata-rata historis bulan Desember. Kondisi cuaca ekstrem ini mengubah musim berburu dan berdampak langsung pada perekonomian para pemburu lokal yang mengandalkan hasil berburu musk ox dan anjing laut.
Selain itu, musim berburu musk ox menghadapi tantangan berat karena minimnya salju dan es yang diperlukan untuk mengangkut hewan-hewan besar tersebut dari daerah tundra Kangerlussuaq ke pemukiman-pemukiman di Greenland. Naluri bertahan hidup komunitas berburu ini mulai terganggu akibat ketidakstabilan musim dingin yang menjadi tumpuan mereka.
Dampak pemanasan juga terasa dalam sektor pariwisata, khususnya tur anjing sled yang kini menjadi aktivitas penting di Greenland. Perubahan iklim mengakibatkan musim bersalju semakin pendek dan kondisi rute sled menjadi tidak rata dan berbahaya. Nukaaraq Olsen, seorang pengemudi kereta anjing, harus secara manual mendorong keretanya melintasi jalan berbatu yang tidak tertutupi es.
Kesehatan anjing sled juga terancam karena minimnya salju untuk memenuhi kebutuhan hidrasi mereka. Banyak musher harus mengurangi jumlah anjingnya atau bahkan menghentikan usaha mereka. Emilie Andersen-Ranberg dari Universitas Kopenhagen mencatat penurunan drastis jumlah anjing sled dari 25.000 menjadi hanya 13.000 dalam dua dekade terakhir.
Sebagian musher mencoba beradaptasi dengan memasang roda pada kereta anjing agar dapat tetap beroperasi saat musim panas mulai mendominasi. Cara ini semakin populer karena jendela waktu bersalju terus menyempit. Johanne Bech, seorang musher berusia 72 tahun dan juga dokter hewan, berharap kondisi es dan salju kembali stabil sehingga tradisi ini dapat bertahan lama.
Berbagai perubahan perilaku dan strategi adaptasi kini menjadi bagian penting dalam menjaga kelangsungan budaya dan ekonomi di Greenland yang secara historis sangat bergantung pada musim dingin yang dingin dan stabil. Masyarakat di wilayah Arktik terus menghadapi tekanan akibat perubahan iklim yang cepat dan kompleks, sementara upaya mitigasi global masih menjadi tantangan besar ke depan.
Berikut ini ringkasan dampak perubahan iklim terhadap kehidupan tradisional di Greenland:
1. Es laut yang sulit membeku memaksa pemburu mencari anjing laut lebih jauh di fjord.
2. Suhu di puncak lapisan es meningkat signifikan, mengganggu musim berburu.
3. Minimnya salju membuat transportasi hewan berburu menjadi sulit.
4. Ekonomi pemburu menurun akibat keterbatasan hasil buruan di musim dingin.
5. Musim salju yang pendek berdampak pada kelangsungan tur anjing sled.
6. Jumlah anjing sled berkurang drastis karena kesehatan dan biaya perawatan.
7. Adaptasi dengan teknologi baru, seperti penggunaan roda pada kereta sled.
8. Harapan masyarakat terhadap kestabilan iklim di masa depan agar tradisi bertahan.
Perubahan suhu dan pola cuaca di Greenland tidak hanya mengancam ekosistem Arktik tapi juga budaya dan kehidupan ekonomi masyarakatnya. Situasi ini mempertegas urgensi tindakan global untuk mengendalikan emisi gas rumah kaca dan mendukung adaptasi masyarakat rentan terhadap dampak perubahan iklim.





