Seorang pejabat keamanan tinggi Iran melakukan kunjungan ke Oman, negara yang menjadi lokasi mediasi pembicaraan tidak langsung antara Tehran dan Washington terkait program nuklir Iran. Kunjungan ini dipandang penting untuk menentukan langkah selanjutnya setelah putaran awal pembicaraan berlangsung di Muscat pekan lalu.
Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dan mantan Ketua Parlemen, bertemu dengan Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, yang berperan sebagai mediator utama dalam pembicaraan tersebut. Dalam pertemuan tersebut, Larijani membawa surat penting yang diserahkan oleh al-Busaidi, meskipun sumber surat ini tidak dijelaskan oleh media pemerintah Iran.
Pertemuan Strategis di Oman
Larijani juga mengadakan pertemuan hampir tiga jam dengan Sultan Oman Haitham bin Tariq, namun rincian pembicaraan tidak diungkapkan oleh kedua pihak. Selain itu, Larijani bertemu dengan pejabat dari kelompok pemberontak Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran dan terlibat konflik regional, termasuk dalam perang Israel-Hamas yang sedang berlangsung.
Larijani menegaskan melalui wawancara dengan Oman TV bahwa negosiasi dengan Amerika Serikat sebelumnya menunjukkan kemajuan bertahap. Iran menyatakan kesiapan untuk melanjutkan dialog yang realistis dan berharap fase berikutnya membuka peluang pengurangan ketegangan strategis atau setidaknya reposisi politik.
Fokus Global terhadap Pembicaraan Iran-AS
Pembicaraan nuklir yang digelar baru-baru ini di Oman menjadi perhatian internasional. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa posisi Iran tetap konsisten, yakni mempertahankan hak pengayaan uranium sesuai dengan norma internasional dan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir. Baghaei menilai pertemuan awal di Muscat sebagai ajang pengukuran keseriusan pihak Amerika dan menetapkan langkah proses diplomasi selanjutnya.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tiba di Washington untuk membahas isu Iran yang menjadi topik utama pertemuannya dengan Presiden Amerika Serikat. Larijani menuduh Israel berupaya menghambat proses negosiasi dengan memainkan peran destruktif. Sebaliknya, Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, menyebutkan adanya keselarasan kuat antara Washington dan Tel Aviv terkait pembicaraan dengan Tehran.
Kesiapan Militer AS dan Ketegangan di Selat Hormuz
Sebagai upaya menekan Iran, Amerika Serikat menerjunkan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta armada dan pesawat tempur ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini disiapkan untuk menekan Iran secara diplomatis atau dengan kekuatan militer jika diperlukan. Dalam beberapa insiden terkini, pasukan AS menembak jatuh drone yang mendekati USS Abraham Lincoln dan melindungi kapal berbendera AS di Selat Hormuz dari upaya penghadangan oleh Iran.
Administrasi Maritim AS mengeluarkan peringatan bagi kapal-kapal Amerika agar menjaga jarak aman dari wilayah perairan Iran di selat strategis tersebut, yang merupakan jalur vital bagi hampir seperlima perdagangan minyak dunia. Selat Hormuz ini terletak di perbatasan wilayah perairan Iran dan Oman, menjadi titik kritis dalam dinamika keamanan regional.
Situasi Dalam Negeri Iran Menegangkan
Di tengah ketegangan internasional, rakyat Iran di berbagai kawasan di ibu kota melakukan protes dengan mengumandangkan slogan anti-pemerintah dari rumah dan atap menjelang ulang tahun revolusi Islam 1979. Suasana ini berbeda dengan ajakan negara yang biasanya mendorong perayaan penuh dengan sorak sorai dan kembang api.
Tekanan di dalam negeri makin meningkat setelah penumpasan keras terhadap demonstrasi yang menewaskan ribuan korban dan menahan puluhan ribu lainnya dalam beberapa pekan terakhir. Pemerintah Iran tetap merencanakan penggelaran aksi perayaan dan menunjukkan dukungan terhadap rezim meskipun banyak warga menentang.
Kunjungan pejabat keamanan Iran ke Oman mencerminkan upaya diplomasi yang terus berjalan untuk menghindari konfrontasi militer langsung. Namun, beragam tekanan internal dan eksternal masih menjadi tantangan besar bagi penyelesaian sengketa nuklir dan stabilitas kawasan. Larijani dan pihak Oman tetap memegang peran kunci dalam membuka peluang dialog dan negosiasi yang dapat meredakan ketegangan.





