Pezeshkian Serukan Persatuan Nasional Hadapi Ancaman Saat Iran Peringati Revolusi 1979 dan Siap Negosiasi Nuklir

Iran memperingati ulang tahun Revolusi Islam 1979 dengan perayaan besar di Tehran, di tengah situasi yang penuh tantangan bagi negara tersebut. Presiden Masoud Pezeshkian menyerukan persatuan nasional menghadapi ancaman eksternal, sekaligus menegaskan kesiapan pemerintahnya untuk berunding terkait program nuklir negara itu.

Ribuan warga berkumpul di Azadi Square dan berbagai kota lain sebagai bentuk dukungan kepada pemerintah, meski Iran tengah menghadapi tekanan berat. Ancaman militer dari Amerika Serikat terus bergulir usai putaran terbaru pembicaraan nuklir, sementara konflik internal juga makin tajam akibat penindakan keras terhadap unjuk rasa yang menewaskan ribuan orang sepanjang tahun ini.

Seruan Persatuan dan Sikap Pemerintah

Dalam pidatonya, Pezeshkian menyatakan bahwa rakyat Iran harus bersatu melawan apa yang disebutnya sebagai “konspirasi kekuatan imperialis”. Ia menegaskan, kekuatan dan solidaritas bangsa ini justru membuat pihak musuh merasa khawatir.

Pezeshkian menekankan bahwa Iran tidak berambisi memiliki senjata nuklir dan siap menjalani verifikasi penuh dalam negosiasi internasional. Namun, ia menyebut dinding ketidakpercayaan tinggi antara Iran, AS, dan Eropa menjadi hambatan utama penyelesaian pembicaraan nuklir.

Ia juga menegaskan komitmen Iran untuk berdialog demi perdamaian dan stabilitas kawasan bersama negara tetangga, meskipun ketegangan regional masih terus berlangsung.

Permintaan Maaf atas Kerusuhan dan Upaya Pemerintah

Menyangkut demonstrasi yang bermula dari protes harga tinggi dan jatuhnya nilai mata uang, Pezeshkian mengakui kegagalan pemerintah memenuhi harapan rakyat. Ia meminta maaf dan menyatakan kesiapan untuk mendengarkan suara masyarakat serta memperbaiki masalah yang ada.

Ia menyalahkan propaganda musuh yang menurutnya berupaya memperkeruh keadaan dan memperbesar perpecahan sosial. Pezeshkian mengajak semua pihak untuk bersama-sama menyembuhkan luka-luka masyarakat yang kini semakin dalam.

Tanda-tanda Keterbukaan Iran pada Negosiasi

Menurut Ali Akbar Dareini, peneliti dari Pusat Studi Strategis Tehran, pidato Pezeshkian menunjukkan sinyal pembukaan Iran terhadap kesepakatan adil dengan Amerika Serikat. Namun Iran tetap menolak tuntutan yang dianggap tidak realistis dan merugikan kedaulatan negara.

Pernyataan ini dianggap sebagai pengakuan terhadap keluhan publik sekaligus komitmen pemerintah dalam menangani problem nasional. Pada saat bersamaan, peringatan revolusi kali ini berlangsung di tengah kebutuhan besar akan perubahan dan demonstrasi dukungan terhadap rezim.

Simbolisme Anti-Amerika dan Anti-Israel dalam Peringatan

Perayaan ulang tahun revolusi dengan hadirnya pimpinan politik dan militer menampilkan simbol-simbol penolakan kuat terhadap AS dan Israel. Bendera kedua negara dibakar dan diinjak sebagai bentuk protes, sementara foto-foto komandan militer AS dan serpihan drone Israel yang jatuh juga dipamerkan.

Di jalanan, warga mengibarkan gambar Ayatollah Khamenei dan Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam, serta bendera Iran dan Palestina. Yel-yel “Mati Amerika!” dan “Mati Israel!” menggema dalam sejumlah aksi di berbagai kota.

Dareini menilai bahwa acara ini menunjukkan solidaritas nasional yang penting pada saat krisis, meskipun ada tekanan dari luar yang bertujuan memecah belah Iran.

Diplomasi dan Perundingan Nuklir Terus Berlanjut

Peringatan ini bertepatan dengan dinamika diplomasi yang masih berjalan terkait program nuklir Iran. Pejabat keamanan Iran, Ali Larijani, baru saja melakukan kunjungan ke Oman dan Qatar untuk membahas hasil pembicaraan dengan perwakilan AS.

Qatar menjadi mediator penting karena memiliki pangkalan militer AS dan pernah menjadi target serangan Iran. Pertemuan Larijani dengan Emir Qatar juga menggarisbawahi upaya mencari solusi de-eskalasi konflik secara diplomatik.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Presiden AS Donald Trump di Washington. Netanyahu akan menyampaikan kekhawatiran pemerintahannya mengenai kemungkinan kesepakatan nuklir dengan Iran dan menyajikan prinsip-prinsip negosiasi kepada Amerika Serikat.

Perayaan ulang tahun Revolusi Islam ke-47 ini menggambarkan situasi Iran yang penuh kompleksitas, di mana ketegangan eksternal dan problem internal berjalan bersamaan. Pemerintah tampak berupaya menampilkan citra persatuan dan kesiapan berdialog, sementara rakyat menuntut perbaikan dan solusi atas krisis ekonomi serta sosial yang dihadapi.

Berita Terkait

Back to top button