Feri Tenggelam di Filipina Diduga Karena Overloading, Korban Meningkat Jadi 52 Orang

Penyebab kapal feri yang tenggelam di Filipina kemungkinan besar terkait dengan kelebihan muatan. Kejadian tragis ini terjadi di wilayah selatan Filipina, menelan korban jiwa hingga puluhan orang yang tidak menerima peringatan dari kru kapal sebelumnya.

Kapal feri Trisha Kerstin 3 karam pada rute yang sama dengan kecelakaan feri Lady Mary Joy 3 pada tahun lalu, yang juga menewaskan 31 orang. Kedua kapal tersebut dimiliki oleh perusahaan Aleson Shipping Lines yang kini tengah menghadapi tuduhan administratif akibat pelanggaran keselamatan.

Pelanggaran Keselamatan dan Overloading

Menteri Transportasi Filipina, Giovanni Lopez, menyebut pelanggaran serius, termasuk kendala pada proses penimbangan kendaraan yang naik ke kapal. Ia menegaskan kendaraan seperti truk dan motor tidak melalui stasiun penimbangan sebagaimana ketentuan hukum.

“Salah satu kemungkinan penyebab tenggelamnya kapal adalah kelebihan kapasitas dan muatan,” ujar Lopez dalam konferensi pers. Jika muatan berlebih atau penempatan barang tidak tepat, sangat mungkin terjadi pergeseran muatan di dalam kapal yang mengakibatkan kapal mudah miring dan tenggelam.

Kurangnya Peringatan dan Prosedur Darurat

Penyelidikan juga mengungkap bahwa penumpang tidak mendapatkan instruksi saat kapal mulai miring. Investigator maritim, Reiniel Pascual, menyatakan bahwa kru kapal tidak mengeluarkan alarm atau siaran pengumuman saat keadaan darurat terjadi.

Jumlah penumpang tercatat minimal 368 orang tetapi jumlah pasti sulit dipastikan karena ketidaksesuaian antara manifest dan jumlah sebenarnya. Seorang pengacara yang selamat, Aquino Sajili, memperkirakan jumlah korban masih bisa bertambah dari hasil pencarian penyelam di kedalaman sekitar 76 meter.

Isu Korupsi dan Riwayat Kecelakaan Feri di Filipina

Kasus ini juga menimbulkan dugaan korupsi, khususnya terkait aparat penjaga pantai dan otoritas maritim yang memberikan izin keberangkatan kapal. Filipina memiliki sejarah panjang kecelakaan feri antar pulau yang sering melibatkan faktor kelalaian dan regulasi yang kurang ketat.

Menurut Neil Baird, pendiri database keselamatan feri global, catatan perusahaan Aleson Shipping sangat buruk dengan lebih dari 30 insiden yang tercatat sejak 2019. Ia menilai mayoritas kecelakaan feri di dunia disebabkan oleh human error, dan kasus ini jelas merupakan kelalaian serius.

Seruan Pembatalan Lisensi Aleson Shipping Lines

Para korban selamat menuntut tindakan tegas pemerintah terhadap Aleson Shipping Lines. Aquino Sajili menyatakan bahwa pembatalan total lisensi perusahaan adalah satu-satunya cara memastikan keadilan bagi para korban.

Kepentingan untuk meningkatkan regulasi serta menerapkan standar keselamatan yang ketat pada kapal feri sangat mendesak. Hal ini penting agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan, mengingat betapa vitalnya transportasi laut di negara kepulauan seperti Filipina.

Dengan berbagai faktor seperti kelebihan muatan, pelanggaran prosedur, dan lemahnya pengawasan, kecelakaan kapal feri di Filipina menunjukkan perlunya reformasi menyeluruh dalam sistem transportasi laut. Investigasi lebih lanjut masih berlangsung untuk memastikan semua pihak yang bertanggung jawab dapat diproses sesuai hukum.

Terkait