Ketua badan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Simon Stiell, mengingatkan bahwa kerjasama internasional menghadapi ancaman besar dari kekuatan pro-bahan bakar fosil di tengah gejolak politik global. Ia menyampaikan hal ini saat membicarakan persiapan Konferensi Perubahan Iklim COP31 yang akan digelar di Turki pada akhir tahun ini.
Simon Stiell menyebut kondisi dunia saat ini sebagai "kekacauan tatanan baru" yang ditandai oleh ketidakstabilan, ketidakamanan, serta perang dagang. Ia menegaskan bahwa konsep kerjasama internasional kini tengah mendapat tekanan kuat yang dapat menghambat upaya kolektif menghadapi perubahan iklim.
Ancaman dari Pendukung Bahan Bakar Fosil
Ancaman terbesar datang dari kekuatan yang menolak logika ekonomi dan sains dengan terus mengandalkan batu bara, minyak, dan gas. Beberapa negara menghambat kemajuan aksi iklim, dengan menolak pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Contohnya adalah hasil COP30 di Brasil yang hanya menghasilkan kesepakatan kecil tanpa menyebut secara eksplisit pengurangan bahan bakar fosil karena tekanan negara-negara produsen minyak dan batu bara seperti Arab Saudi dan India. Amerika Serikat yang menjadi ekonomi terbesar dunia juga absen dari COP30 karena kebijakan penarikan dukungan terhadap Perjanjian Paris.
Situasi AS dan Dampaknya
Donald Trump yang pernah menyebut pemanasan global sebagai "tipuan" telah mengambil langkah signifikan untuk menentang regulasi pengurangan polusi yang menjadi dasar kebijakan iklim Amerika Serikat. Meski demikian, Stiell menegaskan bahwa pintu masih terbuka agar AS dapat bergabung kembali dalam kerjasama iklim global.
Ketegangan geopolitik juga meningkat, misalnya keinginan Trump mengakuisisi Greenland yang sekarang menjadi wilayah strategis akibat berkurangnya es di Arktik. Kondisi ini menambah kompleksitas tantangan untuk menjaga kerjasama global.
Arah Baru dan Harapan di Tengah Ketidakpastian
Meski menghadapi kekuatan-kekuatan yang kuat pro-fosil, ada harapan dari tren investasi energi bersih yang meningkat pesat. Tahun lalu, investasi pada energi terbarukan lebih dari dua kali lipat dibandingkan investasi pada bahan bakar fosil. Energi terbarukan juga sudah melampaui batu bara sebagai sumber listrik terbesar secara global.
Simon Stiell menegaskan pentingnya memperluas dan mempercepat kerja sama internasional dalam mitigasi iklim. Ia meminta negara-negara agar memenuhi janji di COP28 Dubai untuk melakukan tiga kali lipat kapasitas energi bersih pada tahun 2030 dan menjauhi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Langkah Konkret Menuju COP31
Turki akan menjadi tuan rumah COP31 di kota Antalya, sementara Australia akan memimpin negosiasi atas hasil kompromi bersama dari dua negara tersebut. Menteri Lingkungan Hidup Turki, Murat Kurum, mengatakan bahwa Turki dan Australia akan bekerja sama untuk menyusun agenda aksi yang tegas dan terukur untuk COP31.
Menurut Kurum, kemunduran dalam aksi iklim global tidak dapat diterima, sehingga diperlukan langkah nyata dan kolaborasi kuat antarnegara demi menghadapi tantangan iklim yang semakin mendesak.
Fakta Penting yang Perlu Diketahui
- COP31 diselenggarakan di Antalya, Turki, dengan Australia sebagai ketua negosiasi.
- Investasi energi terbarukan tahun lalu dua kali lipat dari bahan bakar fosil.
- COP28 di Dubai menetapkan target tripling kapasitas energi bersih pada 2030.
- Krisis iklim dikaitkan dengan ancaman keamanan, termasuk kelaparan dan konflik akibat bencana iklim ekstrem.
Upaya menggalang kerjasama global kini menjadi penentu masa depan mitigasi perubahan iklim. Seiring dunia menghadapi dinamika politik dan ekonomi yang kompleks, peluang untuk mempercepat transisi energi bersih menjadi kunci untuk mengatasi "kekacauan tatanan baru" yang sedang berlangsung.
