Amerika Serikat secara rahasia menyelundupkan sekitar 6.000 perangkat Starlink ke Iran pada bulan Januari setelah pemerintah Iran memberlakukan pemutusan akses internet secara nasional. Langkah ini dilakukan untuk mendukung demonstran anti-pemerintah yang melakukan aksi protes besar-besaran di tengah pemadaman internet tersebut.
Pemutusan akses internet oleh otoritas Iran dimulai pada tanggal 8 Januari sebagai respons atas gelombang demonstrasi luas yang menentang rezim. Menurut laporan The Wall Street Journal, Pemerintah AS mengirimkan terminal internet satelit tersebut ke dalam wilayah Iran untuk membantu para pengunjuk rasa tetap terkoneksi, meskipun The Telegraph belum dapat memverifikasi secara independen klaim ini.
Latar Belakang Kejadian dan Dampak Protes
Jumlah korban meninggal akibat tindakan keras keamanan Iran terhadap para demonstran diperkirakan mencapai 7.002 jiwa menurut Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS. Sementara pemerintah Iran hanya melaporkan angka kematian sebanyak 3.117 per tanggal 21 Januari. Presiden Majelis Iran, Masoud Pezeshkian, secara terbuka menyampaikan permintaan maaf atas kekurangan pemerintah dalam menangani kejadian tersebut.
“Sayangnya, peristiwa yang terjadi pada tanggal 8 dan 9 Januari menimbulkan duka yang besar bagi negara kami,” ungkap Pezeshkian dalam upacara peringatan ke-47 Revolusi Islam. Pernyataan ini terhitung sebagai salah satu pengakuan resmi yang langka dari pemerintah mengenai kegagalan dalam mengelola situasi tersebut.
Penggunaan Starlink di Iran
Pada Januari, Departemen Luar Negeri AS membeli hampir 7.000 terminal dari perusahaan milik Elon Musk, Starlink, yang dirancang untuk menyediakan akses internet broadband dengan menggunakan satelit berorbit. Perangkat ini dapat berfungsi dengan baik jika berada di lokasi dengan pandangan langit terbuka, sehingga mampu menghindari pembatasan jaringan kabel dan pemblokiran internet yang dilakukan pemerintah Iran.
Penggunaan terminal Starlink di Iran dianggap ilegal. Pengguna yang kedapatan memiliki perangkat tersebut dapat dikenai hukuman penjara hingga dua tahun. Meski demikian, puluhan ribu warga Iran tetap memiliki terminal ini dan rela membayarnya sekitar $2.000 per unit, yang sebagian besar diselundupkan dari wilayah Kurdistan Irak.
Tantangan dan Strategi Akses Internet
Selama aksi protes, keamanan Iran kerap melakukan penggerebekan di lokasi-lokasi yang dicurigai menyimpan perangkat Starlink. Untuk menghindari risiko, perangkat tersebut biasanya disembunyikan di atas atap rumah. Beberapa komunitas bahkan berbagi satu sambungan internet Starlink untuk sekitar 40 rumah.
Pemilihan jenis akses internet ini sempat menjadi bahan diskusi dalam internal pemerintahan AS. Beberapa pejabat lebih mendukung penggunaan Starlink dibandingkan dengan virtual private networks (VPN). Mora Namdar, mantan kepala biro Timur Tengah di Departemen Luar Negeri AS, menilai VPN “tidak berguna saat internet dimatikan total.” Namun, pihak lain berpendapat VPN lebih mudah diakses dan lebih efektif dalam melindungi identitas pengguna.
Penggunaan VPN dan Dukungan Amerika Serikat
Data dari Departemen Luar Negeri menunjukkan sekitar 30 juta warga Iran menggunakan VPN yang didanai AS selama gelombang protes tahun lalu. Michael Hull, Presiden Psiphon, salah satu penyedia layanan VPN, mengungkapkan bahwa perusahaannya menerima dana sebesar $5,9 juta dari pemerintah AS, turun signifikan dari $18,5 juta pada tahun sebelumnya.
Meski jumlah pengguna VPN meningkat, data dari Psiphon melaporkan hanya sekitar 1.500 pengguna yang memakai Starlink saat pemutusan internet. Pernyataan Presiden AS juga sempat mendorong warga Iran untuk terus melakukan demonstrasi dengan mengatakan, “Bantuan sedang dalam perjalanan.”
Konteks Politik dan Negosiasi Nuklir
Pengungkapan operasi penyelundupan perangkat Starlink ke publik diduga sebagai langkah untuk mengantisipasi kritik terhadap respons presiden sebelumnya terkait penanganan protes Iran. Banyak warga Iran menyalahkan Presiden Trump karena menggalakkan demonstrasi namun dinilai kurang memberikan dukungan nyata.
Saat ini, negosiasi antara AS dan Iran tentang program nuklir Iran masih berlangsung. Presiden Trump menyatakan preferensinya untuk solusi diplomatik, namun tidak menutup kemungkinan penggunaan tindakan militer jika pembicaraan gagal mencapai kesepakatan.
Operasi penyelundupan terminal Starlink ini menggambarkan upaya Amerika Serikat dalam mendukung kebebasan akses internet dan hak asasi manusia di tengah situasi politik yang sangat ketat di Iran. Hal ini menjadi contoh nyata bagaimana teknologi komunikasi modern dapat berperan penting dalam dinamika geopolitik global.
