Iraq tengah berupaya memulangkan sejumlah tahanan yang berafiliasi dengan Islamic State (IS) yang dipenjara di wilayah Suriah. Proses pemulangan ini berjalan seiring dengan upaya transfer ribuan tahanan IS dari Suriah ke penjara-penjara di Irak.
Menteri Luar Negeri Irak, Fuad Hussein, menyampaikan bahwa Baghdad tengah bernegosiasi dengan beberapa negara Arab dan negara-negara Muslim lain untuk pengembalian warga negaranya yang terlibat dalam kelompok jihad tersebut. Hussein juga menekankan kebutuhan akan bantuan keuangan dari internasional agar Irak mampu menangani lonjakan jumlah tahanan.
Data Transfer Tahanan dan Peran Militer AS
Militer Amerika Serikat menyatakan telah menyelesaikan misi memindahkan sekitar 5.700 tahanan laki-laki dewasa IS dari Suriah ke Irak. Meski semula target pemindahan mencapai 7.000 tahanan, proses ini terus berlangsung secara bertahap. Sementara Hussein menyebut sekitar 3.000 tahanan sudah masuk penjara Irak, perbedaan angka ini belum diklarifikasi oleh pejabat Irak.
Keberadaan pengungsi dan tahanan kelompok IS menjadi fokus penting mengingat ketidakstabilan keamanan di wilayah perbatasan Suriah. Kelompok Islamic State pernah menguasai wilayah luas di Suriah dan Irak sejak 2014 sebelum dikalahkan dalam lima tahun berikutnya oleh koalisi pimpinan AS. Namun, sisa-sisa kelompok ini masih aktif beroperasi di beberapa daerah.
Kekhawatiran Keamanan karena Kebangkitan Aktivitas IS
Situasi keamanan di timur laut Suriah memburuk setelah kekalahan pasukan Kurdi yang selama ini menjaga penjara dan kamp penahanan militan IS. Hussein memperingatkan bahwa jika ribuan tahanan ini tetap lama berada di wilayah Irak tanpa dukungan keuangan dan pengelolaan yang tepat, risiko keamanan akan meningkat secara signifikan.
Di samping itu, fenomena kekerasan dan aktivitas kelompok IS di Suriah menunjukkan tren naik kembali. Hussein mengaitkan hal ini dengan konflik yang terjadi antara Pasukan Demokratik Suriah yang dipimpin Kurdi dan pemerintah Suriah yang didukung oleh tentara resmi. Konflik ini membuka celah bagi kelompok jihad untuk menguatkan pengaruhnya di wilayah tersebut.
Pendekatan Internasional dalam Penanganan Tahanan IS
Hussein menegaskan bahwa Irak telah memulai pembicaraan dengan beberapa negara terkait pengambilan kembali tahanan mereka yang merupakan warga negara asing. Namun, sejumlah negara Eropa masih ragu-ragu karena sistem hukum mereka memungkinkan pembebasan lebih cepat bagi para tahanan kelompok militan tersebut.
Di sisi lain, hubungan antara Irak dan Amerika Serikat masih dalam tahap pemulihan walau terdapat ketegangan. Pernyataan kontroversial Presiden AS Donald Trump terhadap pemrosesan politik Irak pernah memicu kekhawatiran soal dukungan AS terhadap Baghdad. Meski begitu, Irak tetap membuka dialog dengan Washington dan memandang sinyal dari AS dengan serius.
Militer AS sendiri dijadwalkan akan menarik pasukannya dari Irak secara penuh pada akhir tahun 2026. Ke depan, Irak diharapkan terus mendapatkan bantuan internasional dalam mengelola persoalan tahanan IS sekaligus memperkuat stabilitas keamanan nasional dan regional.
Dengan upaya koordinasi internasional, Iraq berharap mampu menanggulangi ancaman sisa kelompok IS secara efektif, sekaligus mencegah penyebaran ideologi ekstremis di perbatasan kedua negara. Dialog dengan berbagai negara Arab dan Islam dinilai sebagai langkah strategis yang vital dalam penyelesaian masalah pengembalian tahanan.





