Afrika menyerukan penghentian “pemusnahan” terhadap rakyat Palestina dalam pertemuan puncak Uni Afrika (AU) ke-39 yang digelar di Addis Ababa. Ketua Komisi AU, Mahmoud Ali Youssouf, menegaskan bahwa penderitaan rakyat Palestina harus dihentikan dan menuntut diakhirinya blokade kemanusiaan oleh Israel.
Youssouf menyatakan bahwa perang genosida Israel terhadap Gaza telah mengakibatkan sedikitnya 72.045 kematian dan 171.686 luka-luka sejak Oktober tahun lalu. Meski klaim gencatan senjata diberlakukan, konflik tetap berlanjut tanpa henti.
Perang dan ketidakstabilan di Afrika
Selain isu Palestina, konferensi ini juga mengangkat berbagai peperangan yang sedang terjadi di benua Afrika. Youssouf menyerukan agar “senjata harus disenyapkan” di seluruh kawasan, mulai dari Sudan, Sahel, Republik Demokratik Kongo, hingga Somalia. Masyarakat di wilayah-wilayah tersebut terus menanggung dampak besar dari ketidakstabilan politik dan keamanan.
Konflik yang berkelanjutan telah menyebabkan krisis kemanusiaan parah, termasuk perpindahan massal dan kelaparan, terutama di daerah konflik seperti DRC dan Sudan. Bahkan pada hari pembukaan summit, beberapa ledakan terdengar di kota Dilling, South Kordofan, akibat serangan drone dari kelompok paramiliter Rapid Support Forces.
Isu air dan sumber daya sebagai tema utama
Tema utama pertemuan tahun ini adalah sanitasi air dan konservasi sumber daya air. Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed, menekankan pentingnya pengelolaan air yang bertanggung jawab sebagai fondasi pembangunan dan stabilitas di Afrika.
Isu air juga terkait erat dengan sengketa antarnegara, seperti konflik antara Mesir dan Ethiopia terkait Sungai Nil. Selain itu, ketegangan antara petani dan penggembala di Nigeria memicu konflik atas akses tanah subur. Kondisi ini diperburuk oleh bencana alam seperti banjir dan kekeringan yang seringkali menimbulkan wabah penyakit.
Peran AU dan tekanan internasional
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, memuji AU sebagai “tanda utama multilateralitas” di tengah dunia yang penuh dengan perpecahan dan ketidakpercayaan. Ia juga menegaskan kebutuhan mendesak agar Afrika mendapatkan kursi permanen di Dewan Keamanan PBB.
Guterres menyatakan bahwa ketidakhadiran Afrika di meja pengambilan keputusan global sudah tidak dapat dibenarkan lagi karena kontinen ini merupakan rumah bagi sekitar 1,4 miliar penduduk, termasuk 400 juta kaum muda berusia 15-35 tahun.
Tantangan demokrasi dan tata kelola
Afrika saat ini menghadapi paradoks antara populasi muda yang besar dan sejumlah pemimpin lama yang dinilai tidak responsif terhadap kebutuhan rakyat. Kondisi ini memicu gelombang kudeta militer dan krisis demokrasi di berbagai negara, seperti Mali, Burkina Faso, dan Niger.
Pertemuan AU juga menjadi momentum untuk menyelaraskan prioritas benua dengan mitra internasional di tengah gejolak dunia yang sedang membicarakan “tatanan dunia baru”. Perubahan geopolitik ini semakin menonjol dengan pergeseran aliansi global yang melibatkan negara besar seperti Amerika Serikat dan China.
Keseluruhan agenda pertemuan AU ini mencerminkan tantangan serius yang harus dihadapi Afrika, mulai dari konflik bersenjata hingga krisis sumber daya dan perubahan iklim. Seruan untuk mengakhiri kekerasan dan meningkatkan kerja sama internasional menjadi pesan utama yang dibawa oleh para pemimpin Afrika dan komunitas global.





