Taiwan menegaskan bahwa China merupakan ancaman nyata terhadap keamanan regional, sekaligus mengkritik klaim Beijing yang mengaku menjunjung tinggi prinsip perdamaian dalam Piagam PBB. Pernyataan ini disampaikan sebagai tanggapan atas pidato diplomat top China dalam Konferensi Keamanan Munich, yang menyoroti sengketa kedaulatan Taiwan.
China mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, namun pemerintah Taipei secara tegas menolak dan menegaskan bahwa hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan mereka. Menteri Luar Negeri Taiwan, Lin Chia-lung, menyatakan bahwa dari perspektif fakta sejarah, realitas objektif, dan hukum internasional, kedaulatan Taiwan tidak pernah menjadi milik Republik Rakyat China.
Kritik Tajam Taiwan Terhadap Klaim China
Lin menuduh bahwa pejabat China, Wang Yi, telah menyombongkan diri atas komitmen terhadap tujuan Piagam PBB sambil menyalahkan negara lain atas ketegangan di kawasan tersebut. Ia menambahkan bahwa China secara berulang kali melakukan provokasi militer di sekitar Taiwan, termasuk pelaksanaan latihan perang masal pada bulan Desember lalu.
Selain itu, aktivitas militer China di wilayah sekitar Taiwan terjadi setiap hari dan dianggap sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas keamanan regional. Lin menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk hegemoni yang bertentangan dengan pernyataan resmi Beijing yang mengklaim mematuhi prinsip tidak menggunakan kekerasan.
Perselisihan Sejarah dan Legalitas Kedaulatan Taiwan
Menurut China, Taiwan “dikembalikan” ke pemerintahan China setelah berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945. Klaim ini didasarkan pada posisi bahwa Jepang menyerahkan Taiwan kepada China saat itu, dan siapa pun yang menentangnya sama dengan menantang tatanan internasional pascaperang dan kedaulatan China.
Namun, pemerintah Taiwan berargumentasi bahwa pulau tersebut diserahkan kepada Republik China, bukan Republik Rakyat China, yang bahkan belum berdiri saat itu. Republik China, yang kini berpusat di Taiwan setelah kalah dalam perang saudara melawan komunis Mao Zedong pada tahun 1949, tetap menjadi nama resmi wilayah tersebut.
Konsekuensi Politik dalam Forum Internasional
Dalam konteks internasional, pejabat senior Taiwan tidak diundang ke Konferensi Keamanan Munich, yang memperlihatkan pengecualian diplomatik yang dialami Taipei. Permasalahan ini menegaskan bagaimana klaim kedaulatan Beijing mempengaruhi partisipasi Taiwan dalam forum global.
Dalam pidatonya, Wang Yi menyatakan pentingnya menjaga Piagam PBB, tetapi pemerintah Taiwan melihatnya sebagai bahan propaganda yang bertolak belakang dengan tindakan Beijing yang agresif di kawasan sekitar. Perselisihan ini mencerminkan ketegangan sulit antara dua pihak dengan klaim berbeda atas wilayah yang sama.
Daftar Fakta Penting Terkait Sengketa Taiwan-China
- China mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya sejak 1945 setelah Perang Dunia II.
- Taiwan menegaskan rakyatnya yang menentukan masa depan pulau tersebut.
- Republik China, pemerintah Taiwan saat ini, berpusat di pulau tersebut sejak 1949.
- China melakukan aktivitas militer rutin di sekitar Taiwan, termasuk latihan perang masif.
- Taiwan tidak diundang dalam banyak forum internasional karena tekanan diplomatik China.
- Pemerintah Taiwan menganggap klaim Beijing bertentangan dengan hukum internasional dan fakta sejarah.
Pernyataan dan tindakan baru dari kedua belah pihak menunjukkan bahwa konflik atas status Taiwan tetap menjadi isu global yang sensitif dan berpotensi memicu ketegangan lebih lanjut di kawasan Asia Timur. Sikap dan respons komunitas internasional terhadap situasi ini akan sangat menentukan arah perkembangan stabilitas regional.





