Sekitar 250.000 pendukung pro-monarki berkumpul di Munich, Jerman, menuntut perubahan rezim Iran. Demonstrasi besar ini berlangsung saat para pemimpin dunia menghadiri Konferensi Keamanan Munich, menyoroti tekanan internasional yang meningkat terhadap pemerintahan Iran.
Putra terakhir monarki Iran yang digulingkan, Reza Pahlavi, tampil di hadapan massa pendukungnya. Ia menyatakan komitmennya untuk memimpin transisi menuju masa depan demokratis dan sekuler bagi Iran. Pahlavi menegaskan, “Saya berkomitmen menjadi pemimpin masa transisi agar kita mendapat kesempatan menentukan nasib bangsa secara demokratis dengan transparansi lewat pemilu.”
Dalam kerumunan yang diselimuti bendera berlogo singa dan matahari, simbol monarki Iran, pengunjuk rasa meneriakkan slogan seperti “Javid shah” (hidup shah) dan “Pahlavi bar migarde” (Pahlavi akan kembali). Mereka mendukung Reza Pahlavi sebagai penerus garis keturunan keluarga Pahlavi, menggantikan pendiri dinasti tersebut, kakeknya Reza Shah.
Seorang pengunjuk rasa bernama Said menegaskan, “Rezim Iran sudah mati, ini adalah saatnya mengatakan game over.” Pernyataan ini mencerminkan kemarahan yang meluas atas tindakan keras rezim Teheran terhadap demonstran antirezim yang menewaskan banyak orang baru-baru ini.
Senator AS Lindsey Graham juga menyampaikan dukungannya kepada para pengunjuk rasa. Ia menegaskan, “Rakyat Iran akan meraih kebebasan mereka,” dan menambahkan, “Bantuan sudah dalam perjalanan – mari buat Iran hebat lagi.” Pernyataan ini menunjukkan dukungan politik dari beberapa pihak di Amerika Serikat terhadap gerakan perubahan di Iran.
Selain Munich, aksi solidaritas serupa juga digelar di Toronto dan Los Angeles. Ini menandakan adanya gelombang dukungan internasional yang membesar terhadap protes menentang rezim Iran. Demonstrasi ini berlangsung di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat, dengan pengerahan pasukan AS di wilayah Timur Tengah sebagai bagian dari tekanan terhadap pemerintah Iran.
Reza Pahlavi juga menyerukan bantuan kemanusiaan dan intervensi internasional guna mencegah hilangnya nyawa lebih banyak di Iran. Ia mengajak Amerika Serikat untuk membantu rakyat Iran mencapai perubahan. Pahlavi, yang telah lama tinggal di pengasingan setelah revolusi Iran 1979, menilai perlunya dukungan eksternal untuk mengakhiri kekerasan.
Pendukung oposisi bahkan menolak dialog internasional dengan pemimpin Iran saat ini. Menurut salah satu demonstran yang diwawancarai, pemerintah Iran tidak memiliki legitimasi karena melakukan pembunuhan terhadap rakyatnya sendiri. Seorang dokter berusia 40 tahun yang ikut aksi di Jerman menyuarakan, “Mereka bukan perwakilan rakyat Iran dan tidak bisa dipercaya.”
Demonstrasi ini mengambil tempat di Theresienwiese, lokasi yang biasa dipakai untuk acara Oktoberfest. Jaraknya hanya sekitar tiga kilometer dari pusat Konferensi Keamanan Munich, menunjukkan betapa dekatnya protes ini dengan arena diskusi politik dunia terkait isu keamanan dan diplomasi.
Sebelumnya, di Berlin, sekitar 10.000 orang telah berkumpul mengikuti ajakan kelompok oposisi MEK yang juga mendesak perubahan di Iran. MEK sendiri dianggap sebagai organisasi teroris oleh pemerintah Iran, menambah kerumitan situasi politik yang membelit negara tersebut.
Jumlah peserta yang besar dan kehadiran tokoh internasional memperlihatkan intensitas tuntutan perubahan rezim di Iran. Demonstrasi ini tidak hanya simbol perlawanan terhadap rezim Islam saat ini, tetapi juga menunjukkan harapan munculnya pemerintahan yang lebih demokratis dan menghormati hak asasi manusia di Iran.
