Organisasi kemanusiaan Doctors Without Borders (MSF) mengakui adanya keberadaan pria bersenjata di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Gaza. MSF mulai menarik stafnya pada 20 Januari setelah menyaksikan pria bersenjata yang mengenakan masker dan menyimpan senjata di dalam koridor rumah sakit tersebut.
Pada awal Februari, pemerintah Israel melarang MSF beroperasi di Gaza dengan tuduhan bahwa mereka mempekerjakan staf yang terkait dengan kelompok Hamas dan Jihad Islam. Israel menuntut MSF untuk mengungkap identitas seluruh pegawainya, namun organisasi medis ini menolak demi menjaga keselamatan stafnya. MSF akan menghentikan operasi di Gaza pada awal Maret.
Keberadaan Senjata dan Pria Bersenjata di Rumah Sakit
MSF melaporkan bahwa sebelumnya mereka tidak pernah melihat adanya tahanan atau para pejuang bersenjata di dalam rumah sakit. Namun, dalam beberapa bulan terakhir mereka menyaksikan tindakan intimidasi, penangkapan sewenang-wenang terhadap pasien, dan indikasi adanya pergerakan senjata di dalam kompleks rumah sakit. MSF menegaskan bahwa pihaknya tidak menyebutkan identitas pria bersenjata tersebut, meskipun Khan Younis secara administratif berada di bawah kontrol Hamas.
Pihak Israel mengonfirmasi klaim ini dan menegaskan bahwa keberadaan pria bersenjata di rumah sakit merupakan milisi Hamas. Israel menganggap fasilitas-fasilitas sipil seperti rumah sakit telah lama digunakan oleh Hamas sebagai infrastruktur militer, termasuk menjadi lokasi penyimpanan senjata dan pusat komando. Beberapa mantan sandera Israel juga menyatakan mereka pernah ditahan di Nasser Hospital.
Operasi Militer dan Temuan Senjata
Pada Februari, pasukan khusus Israel melaksanakan operasi di sekitar Rumah Sakit Nasser dan menangkap sekitar 200 warga Palestina yang diduga terlibat dalam aktivitas teror. Dalam operasi tersebut ditemukan sejumlah obat-obatan bersegel dengan nama-nama sandera Israel serta sejumlah besar senjata di rumah sakit tersebut. Pada bulan Mei tahun lalu, militer Israel melaporkan serangan presisi terhadap komandan dan operasi Hamas yang menggunakan rumah sakit sebagai pusat pengendalian serangan.
Kontroversi dan Dampak Serangan di Rumah Sakit
Insiden serangan tank Israel terhadap Nasser Hospital pada Agustus menuai kritik luas akibat menewaskan 22 orang. Serangan tersebut ditujukan untuk menghancurkan kamera yang diklaim milik Hamas, tetapi kemudian investigasi Reuters menyimpulkan kamera itu milik rumah sakit sendiri. Pemerintah Israel mengakui bahwa serangan ini dilakukan tanpa izin resmi dan menyampaikan permintaan maaf atas insiden tragis tersebut.
MSF termasuk di antara banyak organisasi non-pemerintah yang mengecam tindakan militer Israel di fasilitas kesehatan dan menuduh pelanggaran hukum internasional. Sementara itu, Israel menunjukkan bukti keberadaan terowongan Hamas di bawah beberapa rumah sakit utama di Gaza dan penggunaan fasilitas tersebut oleh militan bersenjata.
Pendanaan dan Rehabilitasi Gaza
Baru-baru ini, mantan Presiden AS Donald Trump mengumumkan adanya komitmen dana sebesar 5 miliar dolar AS dari negara anggota Board of Peace untuk rekonstruksi Gaza. Trump juga mendesak Hamas agar mematuhi janji melakukan “demiliterisasi penuh dan segera” guna menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perdamaian dan rehabilitasi wilayah.
Kasus rumah sakit di Gaza ini menggambarkan kompleksitas tinggi antara kebutuhan kemanusiaan dan tantangan keamanan yang dihadapi di tengah konflik yang berkepanjangan. Situasi ini menjadi sorotan global karena implikasinya terhadap perlindungan fasilitas medis dan warga sipil di zona konflik.





